Agama menjadi dasar yang cukup kuat untuk menyatukan beribu-ribu bahkan berjuta-juta manusia dengan pikiran yang berbeda. Ketika digunakan sebagai pupuk dengan cara salah, bunga di tengah pergulatan sosial akan bermekaran menjadi duri.

Tidak ada yang salah dari konsepsi agama. Ia mengantar kita pada pertemuan dengan Tuhan. Hanya saja, kehati-hatian dalam mengikuti seseorang atau kelompok perlu ditekankan.

Jangan sampai keleliruan berujung intoleransi, apalagi sampai membuat diri tercerabut dari relasi sosial.

Relasi sosial teramat sangat luas dan plural. Menekankan diri pada identitas kolektif adalah bagian dari percikan di dalam pluralitas itu sendiri. Hanya, ketika keterbatasan dimaknai dengan paksaan, kita tidak bisa mengelak dari keretakan. 

Kebebasan tidak harus melalui jalan duka.

Lebih jauh mengenai identitas kolektif, agama tidak menjadi satu-satunya simbol. Aktivis, misalnya, beragam haluan gerakan dengan ideologi berupa-rupa telah ada dan terus bermunculan.

Tanpa dasar yang sama dari kelompok tertentu, cita-cita yang hendak digapai tidak lebih dari sekadar utopia perseorangan. Karena itu, konsensus menjadi penting, untuk menjalin makna bersama.

Bagaimana mau mencapai mimpi, membangun komitmen saja masih belum mungkin. Satu hal lagi, simbol bersama harus kuat. Tanpa itu, sayap perjuangan akan mengepak pada halaman depan rumah saja.

Gerakan aktivis memang kian banyak merambah ke beragam bidang. Ketika dihadapkan pada isu krusial, mereka datang sebagai representasi kegelisahan bersama. Namun, ketika ruang tertentu bertemu dengan isu yang berbeda, keregangan terlihat, meski samar-samar.

Misal, ketika membahas fenomena lingkungan, para aktivis lingkungan tampak bergerak sendiri. ketika membicarakan isu perempuan, hanya aktivis perempuan yang terlihat, dst. Artinya, beragam perbedaan narasi ternyata masih belum cukup menggerakan massa dengan solid dalam perbedaan.

Ketika persoalan masih belum mendekati level puncak, kekhawatiran masih terbatas dalam khayalan dan perasaan geram. Lantas berdengus sembari berbaring di atas kasur mendengar saluran berita di YouTube.

Coba sedikit membandingkan dengan gerakan-gerakan yang membawa narasi agama. Beberapa kali terjadi, para tokoh di dalamnya selalu berhasil menuturkan semangat yang menghasilkan massa yang tidak sedikit.

Ketika ditilik pada status isu yang diangkat, menurut penulis, baru membahas seputar krisis kemanusiaan tidak begitu krusial. Tidak jarang, agenda diadakan dalam rangka penyambutan salah seorang tokoh dari mayoritas agama tertentu.

Setidaknya, massa aksi dari gerakan tersebut tidak seramai dan seragam masa aksi menolak RUU Cipta Kerja, Omnibus Law. Gerakan yang masih berlangsung sampai kini, dengan jangkauan massa yang kian menurun.

Perbedaan-perbedaan subjek dan kolaborasi intersubjektif di dalamnya memang penting. Metanarasi (dalam hal ini agama) memang makin memudar karena sekularisasi yang kian melahirkan banyak narasi kecil.

Namun pada faktanya, pengakuan atas multisiplitas semacam itu masih belum mengakar terlalu dalam. Apa pun itu yang terasa menyentil sedikit saja kulit metanarasi, sekelompok orang radikal akan turun untuk menunjukkan kuasa yang termanifestasi melalui identitas kolektif.

Lalu, apakah para aktivis membutuhkan identitas seperti itu, yang berlaku universal agar dapat terkoneksi dengan masif?

Beberapa organisasi mahasiswa memang berdiri di atas fondasi agama, namun tendensi tetentu melahirkan kultur tertentu juga. Sekali lagi, agama dijadikan dasar, bukan alat manipulatif. Hal demikian merupakan analogi yang berbeda. 

Agama adalah candu,” tutur yang masih berlaku meski telah menjadi hantu yang membisik ke banyak telinga di masyarakat. Dalam perbincangan politik, misalnya, pergolakan antara rel mana yang harus digunakan masih saja terjadi: agama atau sekuler.

Penulis tidak sedang mencoba untuk menggiring pembaca pada pandangan bahwa agama itu buruk, terutama jika dibenturkan dengan sistem politik. Berbicara keberagaman, nilai-nilai yang ada memang harus bertarung.

Agama dengan nilai-nilainya bukan politik praktis yang berkamuflase dengan topeng agamawan. Skeptisisme semacam itu perlu dibangun, sehingga orang-orang manipulatif tidak selalu menjadi hegemon dominan.

Sayang sekali, para aktivis belum mampu memiliki modal sosial sebesar itu. Kebutuhan akan modal sosial sekiranya memang berharga sekali. “Dalam masyarakat pengembara, dominasi politik umumnya berdiam pada orang yang memiliki keterampilan sosial terbaik, bukan orang yang paling berotot,” (Sapiens, 184).

Penulis menempatkan diri pada pereduksian dominasi atas apa pun, oleh kelompok tertentu. Tujuannya, untuk mencegah dominasi yang akan membatalkan nilai apapun untuk lahir dan berkembang.

Lalu, apakah harus menjadikan agama sebagai instrument penggerak massa? Saya rasa sah-sah saja, namun tidak dengan tujuan menggiring suara belaka. Tidak ada yang salah dengan meminjam nilai-nilai dari agama tertentu.

Segala nilai perlu melalui tahap meragu, baru dapat diterima secara rasional. Tanpa itu, nilai-nilai tidak lebih dari doxa yang mengikat massa luas (mass society). Kita pun turut hanyut di dalamnya.

Daripada identitas kolektif yang berusaha untuk dibangun, penulis rasa, kesetujuan untuk mengakui batas-batas adalah kunci. Dengan mengakui batas-batas akan mengurangi kecintaan membabi-buta pada identitas kolektif tertentu.

Selanjutnya, penyadaran. Penyadaran tidak sebatas pengadaan ruang diskusi di warung kopi, hotel atau kawasan perumahan mewah.

Karena, jangan-jangan kita tidak tahu apa yang sedang kita bicarakan. Atau, jangan-jangan rakyat tidak tahu, jika kita sedang membicarakan masalah mereka. Tidak ada yang tahu.