2 tahun lalu · 182 view · 3 menit baca · Gaya Hidup demo-angkutan-umum-kota-malang-1.jpg

Aksi Mogok dan Transportasi Online

Ada perasaan yang berbeda ketika bis yang saya tumpangi dari Surabaya menuju Malang mencapai daerah Singosari pagi tadi. Sepanjang saya menengok ke arah kaca bus, tidak ada satupun pengemudi sepeda motor yang menggunakan jaket kebesaran transportasi online Go-Jek.

Sampai saya turun di Taspen pun tidak ada pengemudi Go-Jek yang berseliweran. Saya sempat takut akan tidak adanya Go-Jek yang saya pesan, karena saya tahu bahwa hari ini ada mobilisasi pengemudi angkot di Balai Kota Malang. Untungnya, kekhawatiran itu tidak terbukti. Saya memesan Go-Jek di depan Kantor Pengadilan Malang, dan dalam 5 menit satu pengemudi Go-Jek datang menjemput.

Namun, hal aneh yang terjadi adalah pengemudi itu tidak menggunakan atribut hijau tanda Go-Jek, mulai dari jaket sampai helm penumpang. Dia menggunakan jaket umum layaknya orang biasa. Sempat saya ragu akan keaktualan identitasnya, sampai akhirnya dia bisa membuktikan identitasnya.

Ketika sepeda motor mulai melaju, saya mempertanyakan keputusannya yang tidak menggunakan identitas Go-Jek. Saya sempat mempertanyakan aturan pengemudi Go-Jek mengenai atribut yang wajib dikenakan. Pengemudi yang berinisial IP itu mengaku hanya menjalankan instruksi dari komunitasnya yang menyarankan pengemudi Go-Jek untuk tidak menggunakan atribut Go-Jek, dan itupun sudah dilakukan selama seminggu.

Dari sini, kami melakukan pembincangan santai yang berujung pada kronologis di balik lepasnya atribut Go-Jek seminggu ini.

Semua diawali dengan aksi mogok pengemudi angkot yang berpusat di Balai Kota Malang, Senin (20/2). Mereka menuntut adanya sikap dari pemerintah kota (pemkot) Malang mengenai keberadaan transportasi online yang dianggap mengambil jatah penumpang mereka.

Mereka berkumpul dengan membawa banner protes, menutup akses sepanjang Stasiun Kota Malang, dan membuat kantor Go-Jek tutup sementara. IP mengakui, banyak dampak yang terjadi dengan adanya aksi mogok ini.

“Order untuk Go-Food dan Go-Mart meningkat pesat. Saya sampai bingung harus ambil yang mana dulu. Kawan-kawan (pengemudi Go-Jek. Red) lain juga merasakan hal yang sama.”

Namun, dampak lain yang terasa dan berefek domino adalah kesalnya penumpang angkot yang tidak memiliki hubungan apa-apa dengan aksi mogok itu. Mereka kehilangan banyak waktu untuk mencari kendaraan pengganti angkot, yang mana berujung dengan meningkatnya orderan Go-Ride dan Go-Car. Dan, IP menuturkan ada beberapa rasa tidak aman dari pengemudi Go-Jek terkait aksi mogok tersebut.

“Ya sempat khawatir juga, sih sebenarnya. Takut aja kalau ada yang gak dinginkan. Buktinya, kantor Go-Jek sampai ditutup, gitu.”

Dari kejadian itu, akhirnya disepakati untuk melepas atribut Go-Jek hingga waktu yang tidak ditentukan. Hal ini bertujuan untuk mengelabuhi pengemudi angkot dan meminimalisir tindakan anarkis.

Meskipun hal ini sedikit beresiko, karena aksi ini tidak diinfokan terhadap penumpang Go-Jek, seperti saya. Namun, IP juga mempertanyakan alasan pengemudi angkot itu untuk mogok. Menurutnya, itu tidak logis. Keberadaan Go-Jek dan transportasi online lainnya itu tidak terlepas dari majunya teknologi.

Banyak masyarakat jaman sekarang yang memiliki smartphone Android ataupun iOS, di mana itu juga menunjukkan majunya daya pikir penggunanya. Mereka menginginkan sistem yang mudah, cepat, dan transparan. Dan transportasi online menyediakan itu. Transportasi online, menurutnya, adalah jawaban atas kerisauan masyarakat terkait transportasi umum selama ini.

“Gak usah jauh-jauh. Bahkan anak dari pengemudi angkot itu juga ada yang pakai Android, kan?”

Transportasi online tidak bisa dihentikan arusnya. Mereka akan ada selama teknologi masih digunakan. Disini, dibutuhkan sikap pemkot untuk menengahi masalah ini. Pengemudi Go-Jek dan transportasi online lainnya jelas memanfaatkan teknologi, dan pengemudi angkot masih bertahan pada sikapnya bertahan.

Pemkot harus memfasilitasi keduanya agar tidak ada bentrokan, yang ujung-ujungnya akan merugikan masyarakat itu sendiri. Mereka yang tidak mengetahui (dan tidak mau ikut campur) dengan permasalahan ini, akan menjadikan korban. Dan, ada kemungkinan mereka akan tidak mempercayai transportasi umum, dan kembali ke kendaraan pribadi.

“Seperti ini, deh. Mereka mogok menolak kami, terus penumpangnya mau diapain? Ya kami tahu beberapa akan mencoba (pakai transportasi online. Red), tapi bagaimana yang sisanya? Kasian kan yang terlantar.”

Tentunya, permasalahan ini selalu memicu pro dan kontra. Dan, satu-satunya yang bisa dilakukan adalah sikap dari pemkot untuk memfasilitasi keduanya. Angkot sebagai transportasi tentu tidak bisa dihilangkan begitu saja, tapi pemkot juga harus memandang teknologi dan daya pikir masyarakat yang semakin maju.

Dengan adanya penyelesaian terhadap masalah ini, yang akan merasa dampaknya adalah penumpang itu sendiri, yang tidak perlu khawatir dengan adanya aksi sweeping atau semacamnya.

Sekarang adalah masa teknologi. Masyarakat butuh transparansi kemudahan, dan ke-efektifitas. Teknologi mendukung itu semua. Berat untuk dikatakan, tapi akan ada masa waktunya dimana transportasi online akan menguasai jalanan, sesuai dengan kemauannya untuk berkembang dan berinovasi, dan meninggalkan angkot yang terpuruk.

Tulisan adalah hasil oborlan penulis dengan pengemudi Go-Jek.