Banyak betul massa dan pendukungnya yang menyangkal kalau aksi mahasiswa dan elemen masyarakat akhir-akhir ini ditunggangi. Seolah ditunggangi itu menjadikannya hina; aib.

Bahkan yang tidak saya sangka-sangka, Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SeJuK) merasa harus melabeli pihak yang menilai aksi mahasiswa ditunggangi ini sebagai upaya melecehkan akal sehat.

“Jika para aktivis atau mantan aktivis dengan arogan serta tanpa rasa hormat sekadar menuduh gerakan hari-hari ini disetir dan ditunggangi, tidakkah mereka seperti sedang melecehkan akal sehatnya sendiri?” tulis SeJuK.

Ada banyak orang memang yang menilai aksi mahasiswa itu ditunggangi. Sebutlah, misalnya, Menkumham Yasonna Laoly yang bilang "isu dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan politik" (Kompas); atau PWNU Jawa Timur yang menduga "ditumpangi oleh kepentingan asing" (CNN).

Tetapi pernyataan-pernyataan mereka di atas ini tidak berhasil membuktikan kecuali hanya bentuk sebaran rumor. Satu-satunya fakta yang terbilang membuktikan itu adalah hasil analisis Drone Emprit buatan Ismail Fahmi yang mencoba membandingkan pola tagar #TurunkanJokowi dengan #GejayanMemanggil pada 24 September 2019.

Hasilnya, terlihat dukungan yang cukup besar dari para penagar #TurunkanJokowi kepada gerakan #GejayanMemanggil. Ini membuktikan kalau aksi mahasiswa benar-benar ditunggangi; dalam arti, oposisi mencoba mengambil untung dari viralnya #GejayanMemanggil dan membuat tagar #TurunkanJokowi naik pesat di pukul 21.00 WIB (23/9).

Satu hal yang mengherankan dari ini, temuan Drone Emprit lantas dipandang sebagai penegasan bahwa #GejayanMemanggil tidak mengusung ide #TurunkanJokowi. Seperti yang juga Puthut Ea tunjukkan di sini, tampak ia tidak memahami temuan Ismail atau mungkin malah sengaja membalikkan maksudnya—saya menilai Puthut lebih condong ke yang terakhir: mengalihkan.

Padahal, temuan Drone Emprit bukan hendak menunjukkan #GejayanMemanggil dukung #TurunkanJokowi, melainkan sebaliknya: penggerak #TurunkanJokowi-lah yang support #GejayanMemanggil.

“Kita zoom SNA kedua tagar tersebut. Di antara kedua cluster, tampak relasi yang kuat. Menandakan dukungan oposisi yang besar kepada gerakan mahasiswa #GejayanMemanggil,” kicau Ismail.

Untuk apa kelompok #TurunkanJokowi menunggangi #GejayanMemanggil? Tentu jawabannya sudah jelas.

Maka kenapa Ismail Fahmi mengingatkan mahasiswa perlu waspada, cerdas, dan tetap damai. Sebab gerakan seperti itu mudah disusupi, dan sudah terbukti dari hasil temuan Drone Emprit-nya.

Pertanyaannya, kenapa masih ada di antara kita yang tidak mau mengakui kalau aksi mahasiswa ini ditunggangi?

Aksi mahasiswa sebagai bentuk usaha menggagalkan sejumlah pasal yang berpotensi membunuh kebebasan memang penting dilakukan. Tetapi menerima kenyataan di lapangan adalah juga perkara yang penting. Denial adalah sikap yang tidak patut!

Walau saya tidak terlibat aksi langsung di jalanan, bukan berarti bahwa saya tidak mendukung. Bukan berarti pula bahwa saya tidak resah dengan keberadaan calon pasal-pasal pembunuh kebebasan itu. Tulisan-tulisan saya sebelumnya ini bisa sedikit jadi bukti kalau saya turut bersuara:

1. Alasan Ngawur Arsul Sani di Balik Pasal Kumpul Kebo

2. Opini Liar Tunggal Pawestri dan Kakunya Mahasiswa Hukum

Kenapa saya merasa perlu membuktikan hal yang sebagian pembaca akan justru menilainya sebagai bentuk kesombongan diri? Karena tidak sedikit pihak, teman-teman, menuding saya diam dan tak bersuara apa-apa di soal ini.

Maksud saya begini: aksi di jalanan adalah usaha. Tetapi menulis, menyebar opini di media sosial dan massa, juga ada usaha. Mungkin saja tidak seberapa, tetapi itulah bentuk perlawanan yang bisa saya lakukan.

Soal kenapa saya turut menyinyiri pula aksi mahasiswa itu, ya bukan karena bentuknya tidak relevan sebagaimana Wiranto melabelinya. Tetapi itu karena kalian, para aktivis, menilai aksi di jalanan adalah jalan termulia sembari menyebut yang tidak terlibat sebagai orang hina.

Ditambah lagi dengan denial macam di atas, maka lengkaplah bagi saya untuk berseru: kalian menyebalkan!

Aksi ya aksi saja. Cukup suarakan semua tuntutan tanpa harus tampil dengan imbuhan “kami tidak ditunggangi” segala. Apalagi sampai menghinakan yang tidak terlibat. Sebab penegasan yang tidak perlu sejenis ini naif dan menggelikan.

Salam dan Hidup Mahasiswa-lah.