Tepatnya Sabtu kemarin, kabar duka datang dari bumi Sada Kata yakni kobaran api si jago merah yang membumi-hanguskan belasan rumah warga dan termasuk satu diantaranya Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam.

Menurut informasi yang dilaporkan pada beberapa laman berita, kebakaran itu terjadi akibat adanya korsleting listrik dari salah satu rumah warga yang ada di dusun Hamzah Fanshuri tersebut.

Kabarnya hampir dua jam kurang lebih api baru bisa padam, dari beberapa cuitan yang saya lihat di postingan fesbuk ada yang mengatakan keterlambatan ini akibat petugas yang membawa mobil damkar kurang cepat tanggap. Dengan demikian, atas keprihatinan, warga pun ikut berbondong-bondong berusaha memadamkan api walau hanya membuang secapluk air akua gelas (yang mungkin sisa minumannya yang tidak habis) ke arah kobaran api yang sedang menguyah seisi harta di sana.

Kalau ditanya apakah aksi itu cukup membantu, ya nggak tahu, 'kan saya nggak di sana. Tapi lumayan sih! Asal jangan di buang sekaligus kemasan yang terbuat dari plastik itu, takutnya alih-alih ingin membantu pemadaman eh malah memantik api semakin besar. Ya semoga jangan!

Oya! Melihat kejadian ini, ternyata bukan hanya warga biasa yang ikut bergotong-royong dalam upaya pemadaman. Selain satuan TNI juga ada beberapa pejabat yang berkepala maupun tak berkepala (pakai helm maksudnya), termasuk mantan penjabat pemerintahan periode tahun lalu. Pak Merah Sakti, eS Ha.

Kehadiran beliau pada suasana musibah ini tentu mengandung beberapa keganjilan yang menimbulkan pertanyaan demi pertanyaan, dugaan dan eh! Apa ya?. Ya walaupun tergantung persepsi dan cara pandang masing-masing sih. Tapi ya apapun dalihnya tetap saja jadi bahan perbincangan.

Termasuklah saya yang punya tanya-tanya perihal itu! Setelah scroll-scroll. Akhirnya saya melihat dari komentar pada postingan kabar Subulussalam itu lalu saya memfilter dan mengutip beberapa buah jari jempol natijen warga Subulussalam dan sekitarnya itu. Lebih kurang cuitannya seperti ini: "Sehat selalu pak, makasih sudah peduli." ucap salah satu cuitan. "Sang bapak perubahan, merah sakti." tutur seorang lagi. "Sang singa podium. Bla bla bla" tambah seorang lagi. Lalu terakhir ada juga yang bilang "Mulai main action aja ini, kebelet berkuasa lagi pak ya?" terangnya pada laman komen tersebut.

Bukan hanya saya, saya yakin! Sesiapapun yang melihat isi postingan itu tentu turut terlibat dalam aksi baku komen di sana dan pastinya juga mulai menduga-duga bahwa ini ada unsur hini-hitu dan segala macem rupa. Ya wajar sih, nggak salah juga, ya secara manusiawi kita memang diciptakan sebagai tanda tanya besar dan punya naluri penduga-duga bukan? Tapi ya tetap saja, Tuhan melarang hambanya berprasangka buruk. Ya walaupun buruk ya usahain aja isi kepala itu baik-baik. kenapa gitu? Heh! Usah tanya-tanya lagi, udah! Emang begitu.

Kalau dilihat-lihat, Ya mungkin saja pak mantan walikota itu merasa iba atas musibah yang menimpa (mantan) warga yang rumahnya sedang di lalap si jago merah itu dan merasa berdosa jika hanya berdiri tegak dan tidak melakukan apa-apa.

atau mungkin ada yang berharap, maunya pak mantan cukup melihat dari kejauhan dan memegang hapenya lalu menyiarkan siaran langsung seperti kebanyakan lainnya.

Haa! Siaran langsung?

Hei! Kalau klen pinginnya begitu ya sudah klen aja. Jangan paksa beliau dong.  Pak Merah Sakti nggak mau yang begitu, beliau memilih untuk langsung turun tangan, kalaupun hanya memindahkan satu triplek sobek atau tiang-tiang bekas gigitan api dan membuangnya ke luar area api, ya jadilah. Syukur, daripada tidak sama sekali, toh membuang sebutir pasir dari dalam mesjid saja pahalanya begitu besar masak ia membuang pemantik api dari rumah warga yang sedang kebakaran tidak Allah kasih pahalanya, ah rasanya tidak mungkin. Allah nggak se cuek itu sama mantan. Mantan pemimpin maksudnya.

Oya, Wahai kau yang terlibat baku komen, khususnya yang menduga-duga, kalian mikir nggak sih! Sesungguhnya mulia sekali hati beliau, jarang-jarang lo kita punya mantan pemimpin nomor satu di kota yang kita cintai ini mau capek-capek turun tangan langsung seperti itu, bahkan nyaris tidak ada. Cuma beliau satu-satunya. Coba deh di cek di daerah lain. Pasti nggak ada. (Kalau ada ya maaf, saya khilaf, kik kik kik!!!)

Menurut pengamatan saya dari beberapa tangkapan layar di beberapa postingan tersebut. dari mimik wajahnya saat berkabung dengan warga di TKP kebakaran itu beliau memang terlihat sangat tulus sekali membantu, dari kerutan-kerutan wajahnya tidak ada menggambarkan unsur eksistensi apalagi pencitraan. Coba deh lihat baju putihnya yang sudah di tempeli noda-noda membandel berwarna hitam dari bekas bakaran arang-arang kusen kayu itu.

Perhatikan baik-baik! Kalaulah baju seputih itu rela ia korbankan sampai menghitam lantas apalah hak kita memberi pandangan bahwa niatnya pun ditempeli noda-noda hitam. Astaghfirullah, Hei! Jangan neko-neko lah. Nggak boleh begitu. Tar dosa loh!

Oleh karenanya, atas kejadian musibah ini siapapun yang sudah turut membantu dalam aksi pemadaman si jago merah ini, sudah sepantasnya kita mengucapkan banyak terima kasih. Karena berkat mereka dan keringat-keringat mereka akhirnya api bisa terpadamkan.

Teruntuk pak Mantan pejabat, kami juga berterima kasih kepada beliau yang sudah sudi kiranya turut serta menghadapi dramatisasi sabtu kemarin. Kami mengakui bapak itu tulus membantu. Merelakan hal-hal lain untuk kepentingan mendesak seperti ini, kesudian bapak itu memang sungguh kami puji, saya puji.

Tetapi pak! Atas dasar apapun, Jika saya menimbang-nimbang lagi, melihat mudarat dan manfaatnya, pesan saya, cukup kali ini bapak melakukan hal-hal heroik seperti itu. Saya kasihan kulit yang sudah mengkerut itu makin menciut di depan api, sungguh pak tak tega saya. Kalau memang bapak ingin menyumbang jasa boleh kok melalui telunjuk bapak (saya rasa masih di dengar) untuk menyuruh orang di sana ikut berkabung demi memadamkan api.

Kalaulah memang murni untuk membantu saya rasa cukup itu saja. sebab Allah sudah tahu bahwa bapak berupaya di dalamnya tanpa harus memperlihatkan diri sendiri, (oya, ngomong-ngomong, superhero aja bertopeng loh pak, masak ia bapak mau kalah dengan superhero, atau jangan-jangan bapak mau bilang ke spiderman kalau berbuat baik itu nggak usah nutupi muka, terang-terangan aja, gitu ya?).

Lagian pak, kalau memang murni cari pahala dan atas dasar ketulusan hati, Allah sudah tahu kok isi hatinya bapak bagaimana. Kalaupun mau cari nilai-nilai, apa iya bapak mau cari penilaian dari media sekelas fesbuk dan instagram? ah, rasanya tidak perlu lagi pak, aksi heroik bapak harusnya cukup dikerahkan di saat bapak menjabat sebelumnya, (Oh iya! Maaf pak mau tanya, dulu semasa menjabat, bapak sudah se-Heroik inikah? Atau ini cuma dadakan saja? Aih maaf pak, maklumlah saya kurang ngeh soalnya).

Tapi pak, lagi- lagi, ini murni permintaan dari hati saya yang paling dalam! Untuk saat ini saran saya bapak cukup perbanyak istirahat saja. biarkan warga-warga dan pemerintahan sekarang saja yang mengurusnya, kalau mau turut membatu ya itu tadi. Cukup kerahkan orang-orang disekitar bapak yang masih nempel dan masih mendengarkan bapak. Saya rasa itu lebih fair.

Bukan apa-apa loh pak, ya! Selain menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi kepada bapak saat aksi di sana, ya sekaligus menghindari dugaan-dugaan isi kepala masyarakat yang berpojok pada dalih perpolitikan.

Ada banyak strategi lain pak untuk bisa tercium wangi daripada harus ikut aksi kotor-kotoran di sana, 'kan malah jadi amis, pak, pak. (takutnya di kirain ngendors Rinso pula, lagi. Bukannya parte, huahaha. Ups maaf pak canda).

Dan alangkah baiknya bapak cukup duduk manis menikmati jerih-payah semasa menjabat periode tahun lalu. Atau menyusun rencana-rencana unggulan dua tiga tahun ke depan dan mematangkan tujuannya hendak mau kemana! Saya rasa itu lebih makjleb. Kalau memang peduli sama rakyat ya bagusnya milih jalan seperti itu. Bukannya begini!.

Setuju kan pak ya? Hihi...