Peneliti
1 tahun lalu · 101 view · 3 menit baca · Politik 80451_51695.jpg

Aksi Eksklusif 242

Aksi 24 Februari 2018 kemarin,  dengan sebutan “Aksi 242” yang telah digelar di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, Bandung,  sangat berbeda dengan aksi-aksi yang bernuansa angka-angka sebelumnya. Jika aksi-aksi sebelumnya diikuti oleh beberapa ormas Islam, aksi 242 merupakan aksi eksklusif bagi ormas Persatuan Islam (Persis) seluruh Indonesia dengan sebutan Silaturrahim Akbar Keluarga Besar Persatuan Islam.

Menurut Dadan Wildan selaku Sekretaris Majlis Penasehat PP Persis bahwa silaturrahim tersebut bertujuan untuk mengukuhkan persatuan, mengokohkan persaudaraan, dan menguatkan tali silaturahim, serta menggelorakan semangat perjuangan, di saat Persis baru saja kehilangan kader terbaiknya, Ustaz Prawoto, karena dibunuh oleh seseorang yang tidak punya rasa kemanusiaan, ditengarai pembunuhnya adalah orang gila “pesanan”.

Masih menurutnya, silaturahim itu, tentu tidak memiliki tujuan politik menjelang Pilkada 2018, karena Persis bukan partai politik (persis.or.id)

Menurut Dadan, pemilihan tempat aksi di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat pun mempunyai alasan khusus. Tempat tersebut  memberikan inspirasi perjuangan para santri, para ulama, dalam menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Persis yang didirikan di Bandung, Jawa Barat pada tanggal 12 September 1923, telah menginspirasi perjuangan para pendiri negeri ini.

Dadan menyebut Soekarno, beliau pernah berguru kepada A. Hassan, guru utama Persis. Kisahnya termaktub  dalam buku “Di Bawah Bendera Revolusi”,  Bab Surat-Surat Islam dari Endeh, dari Soekarno kepada Tuan Hassan. 

Atau nama lain yang disebut Dadan adalah Mohammad Natsir. Beliau juga tokoh Persis yang mengagas pengembalian negara Indonesia dari Republik Indonesia Serikat ke Negara Kesatuan Republik Indonesia atau dikenal dengan “Mosi Integral 3 April 1950”. Mosi tersebut diajukan Mohammad Natsir dan disetujui fraksi-fraksi saat itu.

Semangat jihad jam’iyyah (jihad organisasi) dalam menegakkan NKRI perlu dipublikasikan. Persis dan puluhan ormas lainnya yang lahir sebelum negeri ini berdiri mempunyai kontribusi penting dan berharga.

Sabtu (25/2/2018) puluhan ribu hingga ratusan ribu anggota dan simpatisan Persis datang dari berbagai penjuru, menghijaukan kota Bandung, menggemakan semangat perjuangan islam untuk NKRI. Almarhum  Prawoto, Komandan Brigade Persis, telah menginspirasi pentingnya persatuan dalam menegakkan Islam.

Kesadaran akan kebangkitan Islam, kini, semakin meluas dan masif. Apa pun bentuk kezaliman dan ketidakadilan pasti akan berlawanan dengan gerakan moral bersama. Kesadaran di atas bukan karena desakan, teror dan keadaan lain, namun lebih jauh buah dari perjuangan ulama, da’i, kaum intelektual, aktivis-aktivis muda yang tercerahkan (Atif Latiful Hayat, 19/2/2018)

Tindakan penodaan tokoh agama, penganiayaan dan teror sistematis terhadap mereka sebagai panutan umat akan direspons dengan solidaritas dan persatuan. Jamaah-jamah Islam tidak pernah terpancing dan keluar dari barisan persaudaraan (ukhuwwah).

Persis yang berdiri sebelum NKRI ini lahir, tidak pernah menuntut dan mengemis kepada negara, justru para pendahulu dan ulamanya adalah para pengawal dan penjaga moral bangsa ini. Sebut saja A. Hassan yang mengharamkan merebut kekuasaan dengan cara inkonstitusinal. Sebut juga Muhammad Natsir yang mempersatukan kembali NKRI dengan mosi integralnya. Atau sebut pula tokoh persis lain, Isa Anshari, yang rela pasang badan melawan PKI di saat yang lain tiarap.

Respons  Positif dan Harapan

Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis) Bandung langsung menginstruksikan anggota dan seluruh elemen jam’iyyah yang berada di bawahnya untuk menghadiri aksi Silaturahim Akbar Keluarga Besar Persatuan Islam, Sabtu (24/02) mendatang. 

Aksi tersebut merupakan bentuk soliditas jam’iyyah atas musibah yang menimpa salah seorang kader terbaik Persatuan Islam, Prawoto, beberapa waktu kemarin yang dibunuh sesorang yang diduga orang gila.

Jejen Jaenudin selalu Kominfo PP Persis menegaskan elemen jam’iyyah di bawahnya agar mempersiapkan segala rangkaiannya acara secara matang sekaligus mensukseskan acara nanti tersebut (persis.or.id, 18/02/2018).

Hal lain diungkapkan KH. Haris Muslim, seluruh elemen jamiyyah merespon positif intruksi langsung PP Persis tersebut dengan antusias. Hal itu terlihat dari banyaknya yang hadir dari berbagai kota dan kabupaten di Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dll.

Salah satu diantaranya PD Persis Tangerang, Banten (luar Jawa Barat). Persis Tangerang, melibatkan 100 kadernya ditambah dengan seluruh santri tahfizh Wadil Quran untuk Aksi Silaturahim Akbar 242 tersebut.

Soal elemen Persis yang berada di Jawa Barat tak diragukan lagi. Mulai dari jamaah Persis, PC Persis, PD Persis, PW Persis hingga beberapa Pesantren Besar, PPI yang berada di setiap kabupaten kota dan provinsi, seluruh santri hadir dalam aksis 242 tersebut. Tak tertinggal pula santri dari PPI 72 Padarincang, Banten, baik santri MTs dan Muallimin. Pula HIMA (Himpunan Mahasiswa) Banten dan HIMI (Himpunan Mahasiswi) Banten.

Satu harapan pasti dari Silaturahim Akbar ini adalah Persis meminta negara dan aparat kepolisian agar bisa menuntaskan kasus penganiyaan dan pembunuhan terhadap ulama dan tokoh-tokoh agama. Negara wajib melindungi segenap tumpah darah Indonesia. Negara juga mempunyai kewajiban untuk menuntaskan berbagai kasus teror, perusakan tempat ibadah, dan sejenisnya dengan transparan. wallahu a’lam