3 minggu lalu · 2076 view · 2 min baca menit baca · Politik 19967_62908.jpg
Novel Bamukmin

Aksi Bela Agama, Lelucon Basi Aktivis 212

Meski Prabowo Subianto sudah mengimbau kepada para pendukungnya agar tidak menggelar aksi di sekitaran gedung Mahkamah Konstitusi, aktivis 212 tetap ngotot akan melakukannya. Walau BPN Prabowo-Sandi telah mengingatkan kembali imbauan sang capres itu, masih saja mereka bersikeras.

Hati mereka mungkin terbuat dari baja yang paling baja; atau material terkeras di muka bumi bernama Wurtzite Boron Nitride, yang kerasnya mengalahkan Berlian. Sehingga undang-undang, apalagi sekadar imbauan Prabowo atau BPN-nya, tidak akan bisa menembus sampai meluluhkannya.

Kalau benar begitu, maka di sini kita sangat butuh senjata pemusnah massal ala Leonardo da Vinci. Iya, senjata yang ia pakai saat menaklukkan pasukan Turki Ottoman di akhir film Da Vinci's Demons itu.

Tetapi yang paling mungkin adalah aktivis 212 ini sudah buta dan tuli. Mereka tidak bisa tahu lagi kalau niat menegakkan keadilan, mengawal kecurangan-kecurangan pemilu yang dinilai terstruktur, sistematis, dan masif, sudah berada di bawah kuasa MK.

Artinya, apa saja yang sudah di tangan MK, untuk konteks negara hukum Indonesia, mustahil bisa kita campuri lagi. Langkah politik apa pun sudah tidak kita perlukan. Mendesak-desaknya dari luar, terlebih berbalut ancaman, bukanlah tindakan yang patut. Ini inkonstitusional namanya.

Atau mungkin malah tidak percaya MK? Kalau ini memang jadi masalahnya, ya ribet juga. Padahal tidak ada upaya yang warga negara hukum bisa lakukan selain menyerahkan sepenuhnya ke majelis hakim yang terhormat.


Bela Agama atau Prabowo-Sandi?

Yang keren dari penampilan aktivis 212 nanti ini adalah pengusungan kembali Aksi Bela Agama. Mungkin pihaknya sadar kalau urusan politik sudah selesai. Itu sebabnya mereka memilih memelintir gerakan politik sendiri sebagai gerakan Aksi Bela Agama.

Simaklah ucapan salah satu aktivis 212 Novel Bamukmin. Pria yang gemar berserban atau berjubah ala pendekar agama ini tegas menyebut bahwa aksi mereka nanti ke gedung MK hanyalah dalam rangka bela agama. Tidak lebih dari itu; bukan karena politik.

“Kami saat turun ke MK tidak lagi mengambil langkah politik karena gerakan kami adalah bela agama agar keadilan bisa ditegakkan dan tidak melibatkan partai atau tokoh politik.”

Membaca frasa “bela agama”, buat saya, seperti makan nasi telur yang sudah mulai membusuk saja. Bela agama sebagai dalilnya tak lebih lelucon basi aktivis 212 belaka.

Lebih lucunya lagi kala menyebut gerakan yang nanti akan mereka langsungkan itu senafas dengan gerakan Aksi Bela Islam 141, 411, dan 212. Mereka, katanya, akan kembali mencontoh aksi berjilid-jilid sebelumnya yang diklaim sebagai aksi tanpa urusan politik.

Padahal jelas-jelas Novel Bamukmin sebut, aksi ke MK nanti tidak lagi mengambil langkah politik. Artinya, sebelum ini, bernuansa politik, kan?


Ah, bukan rahasia lagi memang kalau aksi-aksi mereka yang dulu itu sangat erat kaitannya dengan upaya pelengseran Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) sebagai kandidat tertangguh di Pilkada DKI Jakarta 2017. Nyaris tak bisa tersangkal bahwa aksi mereka turut menggerus suara Ahok-Djarot sembari, di saat yang sama, mendulang Anies-Sandi sebagai pemenang.

Maka itu, sudahilah lelucon basimu, wahai aktivis 212. Aksi Bela Agama kalian itu, selain hanya akan jadi bahan tertawaan, juga sudah berjamur. Cobalah untuk lebih kreatif sedikit. Toh yang kalian hadapi kini adalah rakyat Indonesia, bukan mayoritas warga Jakarta lagi yang memang gampang kalian kelabui waktu itu.

Lagi pula, mau namanya Aksi Bela Agama atau bukan, halalbihalal atau apalah, tindakan yang nanti akan berlangsung itu tetap inkonstitusional. UU Nomor 7 Tahun 1998 tentang Penyampaian Pendapat di Muka Umum sudah menyebut tegas: aksi di sekitar MK, oleh pihak mana pun, dilarang!

Pihak kepolisian menegaskan itu kembali tentu bukan tanpa sebab. Mereka sudah belajar dari insiden di Bawaslu, di mana aksi superdamai—katanya—ternyata berakhir ricuh. Diskresi dari kepolisian, faktanya, disalahgunakan. Dan kalian datang dan meminta kesempatan dalam kondisi yang serupa? Naudzubillah.

Artikel Terkait