Dunia maya atau cyber space adalah semacam revolusi pengetahuan dari yang sebelumnya baru ada penemuan mesin cetak, di mana pengetahuan yang diakses dan mengakses hanya orang-orang tertentu saja sehingga otoritas pengetahuan menjadi runtuh. Namun, seiring berjalannya waktu, perkembangan teknologi terus berkembang. 

Dengan hadirnya cyber space tersebut, orang dapat dengan mudah mengakses segala macam bentuk pengetahuan dengan hanya duduk manis di depan gawai, komputer atau laptop tanpa perlu lagi belajar menggunakan buku cetak dan semacamnya. Namun, di lain pihak, dengan adanya kemudahan dalam mengakses informasi, orang tak lagi mempertanyakan kebenarannya, tak terkecuali mengakses pengetahuan agama.

Berikut, ada tiga pemetaan yang dapat kita lihat secara saksama dalam menakar kualitas konten keislaman, khususnya pengetahuan agama di media, dan melihat respons pemikir Indonesia terhadap penggunaan media daring sebagai wadah transformasi ilmu.

Pertama, kelompok pemikir Islam yang pesimis. Hal ini disebabkan karena adanya kerancuan yang terdapat di media, misalnya bercampur-baurnya antara ranah privat dan publik, yang berkualitas tinggi dan rendah serta pesatnya perputaran informasi di media. Kelompok ini lebih kepada tidak mau tahu terhadap apa yang terjadi di media.

Kedua, kelompok pemikir Islam yang aktif. Salah satu faktor penyebabnya kenapa kelompok ini aktif di media adalah karena adanya kecenderungan masyarakat yang latah terhadap media. Oleh karena itu, kelompok pemikir ini berusaha untuk membendung wacana keislaman yang telah keluar dari rel, misalnya sering menulis atau membuat konten di media sosial pribadi miliknya (Twitter, Facebook, Instagram, YouTube, dan sebagainya). 

Tujuannya adalah agar para ekstremis agama tidak menyebarkan wacana keislaman secara masif sehingga dengan terlibat aktif menulis di media dengan konten yang berbau moderat, hal-hal yang sekiranya tidak diinginkan dan dapat menimbulkan kekacauan dapat dibendung, setidaknya untuk mengimbangi, informasi yang ada.

Ketiga, kelompok pemikir Islam yang netral-aktif. Kelompok ini tidak terlalu mempersoalkan dampak positif dan negatif yang ditimbulkan media, bersikap dan menanggapi secara biasa-biasa saja. Namun, terkadang juga turut menyumbang gagasannya dan menulis di media, tetapi lebih banyak menulis di jurnal-jurnal.

Dari tiga pemetaan di atas, di kalangan mahasiswa, pun masyarakat umum saat ini, digolongkan kepada orang yang aktif bermedia, mengingat mereka yang bernama mahasiswa ini tergolong kepada generasi milenial di mana salah satu cirinya adalah akrab dengan teknologi. Selain itu, pola penyerapan mereka terhadap wacana keislaman yang berseliweran di media cenderung seragam, yaitu wacana keislaman yang praktis, ringan, dan konservatif.

Lantas, apa yang menjadi tolok ukur kebenaran wacana keislaman yang muncul di media? Jawabannya adalah kita dapat merujuknya pada prinsip dan nilai-nilai universal Islam, seperti kebijaksanaan, keadilan, kesetaraan, kasih sayang, perdamaian, toleransi, saling menghargai dan sebagainya serta yang tak kalah lebih penting adalah punya dasar, bersifat bebas, dan tabayyun.

Pertama, punya dasar. Maksudnya adalah si pengguna media daring punya dasar dan landasan dalam mengakses, membaca, serta menyebarkan informasi yang di dapat. Setidaknya, turunan sanad atau sumber informasinya jelas. Jika tidak, maka akan disapu oleh tsunami informasi. 

Ibaratnya seseorang yang tak punya dasar itu ketika tsunami datang, segala yang ada akan disapu oleh air laut, rumah, pohon, mobil, manusia, paku yang tercecer di tanah bahkan rumput sekali pun. Akan tetapi, jika seseorang punya dasar, dia akan berpikir bagaimana caranya agar tidak tersapu air, dengan memanjat batang pohon misalnya.

Kedua, tabayyun yaitu mengoreksi dan melakukan cek dan ricek terhadap segala informasi yang ada. Apakah informasi yang diakses ini benar atau tidak, berita bohong (hoax) atau tidak, dan seterusnya.

Dan ketiga, kebebasan (al-hurriyah). Setiap orang bebas mengakses pengetahuan apa pun termasuk pengetahuan agama, tetapi tak semua orang bebas membagi pengetahuan yang di dapat jika melanggar prinsip dan nilai-nilai universal Islam.

Mengingat, pengguna cyber space tentu sangat beragam sekali, dimulai dari orang tak sekolah, berpendidikan tinggi, profesor, pelajar, ibu rumah tangga, pengangguran, petani, buruh bahkan anak kecil sekali pun bisa mengakses pengetahuan. Cukup diketik kata kunci, sepersekian detik akan muncul pengetahuan yang dicari. 

Hal tersebut tentu akan memunculkan tsunami informasi, sebab media itu sendiri adalah tsunami informasi yang akan menyapu segala macam bentuk pengetahuan. Jika tidak dibendung dan difilter akan memunculkan keabu-abuan dalam setiap informasi yang datang, terutama terkait benar atau tidaknya informasi tersebut.

Ya, mengakses pengetahuan terutama pengetahuan agama di cyber space tentu merupakan alternatif, selain hemat waktu juga hemat biaya, karena untuk mengetahui bagaimana tata cara berwudu dengan baik dan benar misalnya, orang tak perlu menghabiskan waktu sekian tahun di pondok pesantren dan menggelontorkan banyak uang. 

Dan dengan memperhatikan prinsip dan nilai-nilai Islam yang universal di atas adalah satu dari banyak cara untuk memfilter informasi dalam mengakses pengetahuan agama di media daring. Hal ini dikarenakan bahwa tidak semua pengetahuan agama yang tersedia di media mengedepankan prinsip dan nilai-nilai universal agama itu sendiri.