Aksi Tuhan

Dengan menyebut nama tuhan…
Aku bersaksi tiada kenikmatan selain selangkangan
Tempat paling mulia yang dimaksud tuhan

Serupa musik di acara pemerintahan
Berdansa dan menari di kubangan setan
Ia mengaku diberi mandat oleh tuhan semesta alam
Tuhan-tuhan itu berteriak ketika dilupakan

Utusan tuhan sudah lupa mengenai tuntutan
Ketika tidur pulas dengan selangkangan

Suatu ketika, para tuhan rapat berkonsolidasi
Interpretasikan utusannya yang sakit buta dan tuli
Gejala lupa juga menikam utusan yang dulunya bertakwa

Sebelum diangkat,utusan itu sangat santun dan dermawan, tak lupa janji manis terpanjat pada bir berbau doa
Telah terlihat jiwa malaikatnya yang menyiksa kubur

Tuhan yang mati itu tak berdosa, ditendangnya hingga tersungkur
Tuhan yang menanam ganja Darussalam, dirusaknya hingga tak subur
Tuhan yang menangkap tikus, dijatuhkannya secara terstruktur

Tuhan-tuhan itu merasa resah
Hingga lupa cara membuat lontenya mendesah
Utusan tuhan kian hari makin payah
Tunggu jalan atau republik tuhan ini bubrah

Beberapa hari muadzin yang bernama jalan memanggil
Utusan itu tampaknya menggigil

Keberadaan utusan tampaknya beromansa kucil
Ketika para tuhan berkumpul dari yang besar hingga yang kecil

Dalam keributan itu,
Tikus tengah nyaman menjilat vagina
Semakin menggila melihat utusan tuhan yang dicaci tuhan itu sendiri
Rumah tikus makin megah, jalan tuhan banjir darah

Wahai para tuhan
Selamat bergabung di jalanan
Sembuhkan utusanmu
Tuhan-tuhan
Selamat mencari tuhan

Yogyakarta, 25 September 2019

Tak Ada Persetubuhan Malam Ini

Malam ini,
Detik ini…
Kutanyakan padamu, semesta!
Tempat dimana orang athris, liberal, dan orang beragama hidup dari hasil senggama ayah ibu.

Tak hanya itu!
Segala tumbuhan termasuk empat elemen penghidupan pun syahdu bercipta dengan penciptamu.

Lantas,
Mengapa penciptamu menciptakan pertikaian jika perdamaian lebih mulia?
Mengapa ada wanita seksi jika nafsu menuntut untuk menyetubuhi?
Mengapa juga ada orang berdasi berpakaian rapi jika hanya untuk korupsi?
Haruskah juga otak dimatikan jika hati nurani tak menjadi rujukan?

Tak mampu ku menjangkaunya, semesta
Hingga ranah ini, ku hanya sanggup berfikir
“Asyik ya penciptamu…”
Maha romantic pula

Bantulah aku, wahai semesta!
Melalui pancaran penciptamu yang menyala tiada padam
Asyikkan dan setubuhkan semua yang mengungsi kepadamu

Di malam ini…
Detik ini…
Izinkan aku diperkosa penciptamu

Jombang, 14 November 2019

Derita Politik

Langit terbata memangku rembulan
Bumi pun ternganga menanti hujan
Dedaunan terus melaimbai disapa tuhan
Dalam dingin yang mencekik

Biarkan jiwa itu jadi korban politik
Menjadi korban dalam derita
Demi jiwa kritis yang menyala

Mungkin yang di atas lagi bahagia
Orgasme dengan senyuman korban penindas
Birahinya liar karena kuasa, harta, dan vagina

Sudahlah..
Biarkan ini larut dalam kopi pahit yang pekat
Hitam serta pahit dalam hakikat
Elok menawan lalui syariat
Tak sadar kah kalian dalam mimpi basahmu!
Celana kalian basah
Tapi akalnya payah

Mereka yang terlupakan,
Minoritas menderita
Agar mayoritas tertawa

Jombang, 11 Februari 2019

Senandung Mahkota Pendidikan

Haruskah terulang kembali
Kami nyalakan api revolusi
Ketidakadilan kini menghujam sanubari
Demi sebuah kehormatan dan bayaran!

Kau lupakan nilai moral dalam pembelajaran
Nilai yang terpampang oleh angka
Memperkosa legalitas moral yang sudah menjiwa

Ada yang terlupakan, mungkin…
“Surodiro joyodiningrat lebur dening pangastuti?
Kau ingat?
Hahahaha….

Mungkin itu kau kira mantra perebut wanita
Tapi sejatinya!
Di sini kamilah pangeran tak bermahkota
Yang kelak merajut asa
Agar mama pertiwi bangga

Kami rindu pendidikan yang sepenuh hati
Dibalut edukasi serta dedikasi
Jangan salahkan kami jika tak menggugu serta meniru
Dari kalian yang candu akan emosi
Selalu dituntut berkreasi, namun lingkup kau batasi

Hilangkan nilai budaya demi harta
Hingga sang hyang wenang murka
Bhineka tunggal ika pun tinggal nama

Selagi mata masih terbuka
Kembalilah pada mingkar mingkuring angkara
Hong wi la heng sekareng langgeng bawana
Temuilah jiwa-jiwa fana
Wihdatil wujud Allah ‘azza wa jalla

Jeruji suci, 08 Mei 2017

Untuknya

Dirundung sepi yang menusuk diri
Harga diri ini mati
Sama seperti tuhan yang telah membusuk di tepi
Saat dirimu luapkan emosi

Kata-kata itu selalu terbayang
Sejuta caci yang terus menghampiri
Menjadi ibrah ibarat kertas putih yang suci
Ditetesi tinta hitam di tepi

Begitulah pandanganmu pada diri ini
Menghilangkan semua yang telah kuberi
Meracuni segala hasrat yang kian berdiri

Bila itu caramu, aku akan undur diri
Maafku pada yang maha memanusiakan

Harapanku juga selalu kutujukan
Dengan namamu yang kian menawan
Semoga kelak dapat berikan perubahan

Kediri, 26 Mei 2018

Kematian

Menyusuri jalanan kota Jogja
Sambal bercumbu dengan sebatang kretek surya
Merokok yang mematikan, katanya
Ooo… baru tahu aku
Hihihi…

Terdengar suara gemas tawa dua orang pelacur yang berada tepat di depanku
Sembari di sela jarinya ada batang rokok yang menyala
Terdengar lagi katanya, rokok itu berbahaya

Tuhan Allah dan Bapa Yesus telah dikudeta haknya
Lewat propaganda penguasa anti rokok

Ah persetan dengannya!
Terus saja batang demi batang
Diriku dengan mataku yang sayu bagaikan layunya kembang
Lewati kesendirian dengan celoteh kemesraan para pekerja mekangkang

Huh langit?
Rupanya dia sedang lelap diperkosa sang bintang
Vaginanya robek oleh awan, hingga tak ada kata siang

Malam.. dan hanya malam
Kutemui rongga otakku yang lebam
Oleh kisah kasihmu yang kelam
Oh kekasih yang kini muram

Yogyakarta, 1 September 2019

Senggama Raya

Aku melihat jalanan yang isinya bukan lagi kendaraan
Atas nama rakyat Indonesia,
Jalanan terbentang menjadi panggung demokrasi negara
Gedung megah pejabat layaknya kriminil yang jadi buronan warga
Mereka yang menjadi aktor di atas panggung,
Sebuah mandat istimewa dengan gelar mahasiswa
Bersimbah darah mengukir sejarah.
Amankan negeri, celoteh polisi.
Tetesan keringat menyuburkan rakyat.

Masihkah demokrasi? Atau memang disetting tuli?
Lanjutkan reformasi? Atau untungkan pribadi?

Merah darah itu yang akan disembah
Agent of change akan terus bergairah
Selama resah itu tak berubah jadi desah wanita dalam mimpinya yang basah
Bening keringat jatuh tanpa sekat
Mengembun dan menjadi plakat
Rakyat yang diwakili oleh pejabat
Kampanye untuk berkhianat
Aktivis melaknat jangan sampai tuanya juga terpikat
Oleh iblis yang bernama pangkat.
Turunkan air mata yang menjadi mata air
Lancarkan demokrasi seperti sungai mengalir

Padamu, Ibu Pertiwi
Lekas sembuh atas segala ketiadaan arti
Lekas bangkit dari mati suri
Yang bersadi serta yang turun aksi,
Bercintalah seperti ayah ibu
Indonesia sejahtera, itulah yang kami rindu

Yogyakarta, 24 September 2019