13 Juli 2019 adalah hari bersejarah bagi Bangsa Indonesia. Tepat pukul 10.07 WIB, Jokowi dan Prabowo akhirnya bertemu di Stasiun MRT Lebak Bulus. Keduanya terlihat gembira dan nyaman in each other’s company

Bersalaman, berpelukan, dan saling tertawa menambah kuat kesan tersebut. Namun, puncak momen ini terjadi saat keduanya mengadakan konferensi pers di Stasiun MRT Senayan.

Prabowo memanfaatkan momen ini untuk come clean. Ia mengucapkan selamat atas terpilihnya Joko Widodo sebagai Presiden Republik Indonesia. “Jadi, saya ucapkan selamat bekerja, Pak,” tandas Prabowo yang disambut teriakan “Peluk! Peluk!” dari masyarakat. Sayang, pelukan itu tidak terjadi. Padahal, gestur ini bisa memperkuat aura rekonsiliasi di masyarakat.

Bagi penulis, momen rekonsiliasi ini bukanlah kemenangan bagi Presiden Jokowi dan angkat tangannya Prabowo. Justru keduanya sama-sama dimenangkan. Presiden Jokowi mendapatkan pengesahan mandat yang resmi dari kepala koalisi oposisi. Sementara Prabowo bisa bebas dari segala tuduhan yang selama ini diberikan oleh banyak orang.

Apa saja tuduhan-tuduhan tersebut? Pencipta hoaks hasil pemilu; tidak bisa menerima kekalahan dengan baik; seorang politisi yang tidak bisa bersikap negarawan dan cenderung kekanak-kanakan. Semua tuduhan tersebut berhasil ditepis dengan momen rekonsiliasi ini.

Tetapi, ada satu tuduhan terbesar yang berhasil sirna dari body politic seorang Prabowo. Tuduhan itu adalah Prabowo hanya kuda tunggangan kaum radikal-ekstremis.

Artinya, Prabowo hanyalah sebuah mean to an end bagi kaum radikal-ekstremis. Ia dijadikan sebuah tunggangan untuk mewujudkan their philosophy into action

Sebenarnya filosofi ini tidak nyambung dengan visi Prabowo yang ingin mewujudkan Indonesia yang nasionalis-sosialis. Tetapi filosofi mereka jauh lebih antagonistik terhadap visi Presiden Jokowi yang pluralis-kapitalis. It offended them more.

Sehingga kaum-kaum ini memutuskan untuk mendukung Prabowo. Mereka berharap bahwa mendukung pemenangan Prabowo dapat memberikan mereka kekuasaan. Kekuasaan inilah yang nanti digunakan untuk melaksanakan rencana mereka. Seperti yang kita semua lihat, rencana ini akan berakhir pada kehancuran Rumah Pancasila yang sangat kita cintai.

Argumen ini diperkuat dengan munculnya sebuah pernyataan dari Rizieq Shihab. Pernyataan yang direkam pada 21 April 2019 itu berbunyi demikian:

"Saya amanatkan kepada Prabowo-Sandi ataupun kepada para partai koalisi untuk tidak melakukan pertemuan dalam bentuk apa pun, apalagi melakukan deal-deal dengan partai-partai koalisi rezim yang melakukan kecurangan di berbagai daerah, kecuali kalau mereka datang untuk mengakui kemenangan Prabowo-Sandi, kecuali kalau mereka menghentikan segala bentuk kecurangan dan ikut bersama kita untuk mengawal hasil pemilu yang jujur dan adil." (Solopost)

Ia meminta agar Prabowo tidak segera melangkah menuju rekonsiliasi. Sebab ia merasa Prabowo tidak boleh menyerah terhadap..., kasarnya, biarkan bangsa Indonesia terpecah lebih dahulu demi upaya memperoleh ‘keadilan’, yang artinya mencapai kekuasaan dan pengaruh bagi kelompoknya.

Imam Besar FPI ini juga mengimbau segenap pengikutnya di level akar rumput untuk mendukung langkah Prabowo pada waktu itu. Langkah tersebut adalah mendeklarasikan kemenangan secara sepihak. 

Melalui strategi ini, mereka berharap bahwa kredensial mereka sebagai pendukung ‘paling setia’ bisa terbukti. Akhirnya makin banyak pendukung Prabowo yang simpatik terhadap gerakan mereka.

Singkat cerita, pihak Prabowo-Sandi menempuh jalur hukum. Kaum-kaum ini menjadi die-hard fans dan cheerleader yang terus mendukung upaya tim Prabowo-Sandi. Waktu MK memutuskan bahwa tuntutan mereka tidak dikabulkan, mereka mengetahui bahwa kekalahan sudah dekat. Tetapi, masih ada secercah harapan.

Secercah harapan itu terwujud dari keengganan Prabowo untuk mengucapkan selamat pada Presiden Jokowi. Bahkan ketika KPU menetapkan pemenang pemilu, pasangan 02 tidak hadir. Terlihat dua kursi kosong di dekat meja bertuliskan ‘Pasangan 02’. Inilah simbol resistensi kubu Prabowo terhadap keputusan MK dan KPU. Lagi-lagi, dikompori oleh kaum radikal-ekstremis.

Setelah itu, calon wakil presiden nomor 02, Sandiaga Uno, memberikan ucapan selamat pada 1 Juli 2019. Dalam video tersebut, Sandiaga menyatakan, “Saya mengucapkan selamat bekerja, selamat menjalankan amanat rakyat.” Tetapi banyak dari kaum radikal-ekstremis masih tenang. Paling tidak, ‘kepalanya’ belum memberikan selamat kepada ‘musuh’.

Jika Prabowo sampai memberi selamat kepada Jokowi, terwujudlah mimpi terburuk kaum radikal-ekstremis. Buat mereka, ini adalah tanda kegagalan manuver politik yang sudah dilakukan sejak tahun 2017. Jalan mereka menuju kekuasaan dan pengaruh dijegal habis.

Ternyata impian ini terjadi. Secara mengejutkan, Prabowo bertemu dengan Jokowi. Ini menjadi awal dari rekonsiliasi nasional menuju Indonesia yang lebih baik. Rekonsiliasi ini menjadi kemenangan sesungguhnya bagi seluruh rakyat Indonesia. Kecuali untuk para radikal-ekstremis dan simpatisannya yang masih belum bisa menerima hasil demokrasi.

Banyak dari mereka yang menyatakan kekecewaannya melalui media sosial. Mulai dari Twitter sampai Instagram, semua diserbu oleh postingan bernada kecewa. Rata-rata isi postingan tersebut menggambarkan Prabowo sebagai pengkhianat, pengecut, bahkan ‘macan ompong’. Membuktikan argumen kuda tunggangan, bukan?

Untung saja Prabowo seorang negarawan. Akhirnya ia menolak menjadi kuda tunggangan. Dalam momen itu juga, semua penunggangnya jatuh dan berteriak kesakitan. Semoga mereka bisa segera move on dan menerima rekonsiliasi dengan hati gembira.