Perasaan baru kemarin aku ulang tahun, ini sudah tiba kembali.

Kita (eh, aku maksudnya) terlalu banyak pakai "perasaan". Hingga sudah berganti tahun, tapi masih terasa seperti di tahun lalu.

Padahal, berganti tahun jelas ada banyak perbedaannya. Angka 1 pada 2021 yang menggantikan 0 pada 2020 seakan hendak mengganti paksa suasana kehidupan jagad ini.

Ya, salah satunya hidupku. Lembaran baru, babak selanjutnya. Memang begitu, kata orang-orang, "Hidup ibarat lembaran kertas, tiap hari terisi dan terus dibuka." Tapi, bukan berarti yang tertutup lantas dilupakan begitu saja. Bagian lalu adalah bagian yang membuat kita ada di masa kini.

Akhirnya Menikah!

Menikah?

Kupikir aku tidak akan menikah seumur hidupku. Untuk memikirkan saja sudah tiada gairah. Ah, aku memang tidak sedang bergurau. 

Tidak ada laki-laki seperti yang kumau. Mungkin aku terlalu banyak mau.  Atau lebih tepatnya, saat aku berpikir demikian, belum bertemu dengan Dia.

Dia, suamiku. Laki-laki yang tak pernah kuduga sedikit pun akan jadi jodohku. Yang ternyata sekarang melalui hari bersama. Dia menikahiku di akhir 2020 lalu. Kututup 2020 dengan berganti status jadi istri orang.

Kadang, aku menertawakan diriku sendiri. Bagaimana tidak, ini sangat kontradiktif. Aku tak mau buru-buru menikah. Banyak alasan kucari bahwa sendiri lebih asyik daripada berpasangan.

Sendiri itu bebas. Mau begini-begitu, masa bodoh. Sendiri itu tinggal memikirkan perasaan diri sendiri. Sementara berpasangan ribet, harus memikirkan perasaan orang lain juga.

Tapi, ternyata garis jodohku dari Tuhan sudah sampai waktunya. Sampai di sini, aku yakin satu hal: Perihal apa pun yang terjadi padaku adalah pemberian Tuhan yang terbaik.

Bahwa keadaan sebenarnya, komitmen membuatku ketakutan. Ada sedikit trauma dalam kisah masa lalu yang perlu dibereskan. Karena itu, seakan ada saja alasan yang membuatku betah sendiri sebelum lukanya benar-benar sembuh.

Kita hanya belum menemukan sosok yang tepat. Aku belajar dari kegagalan-kegagalan masa lalu. Bukan karena sosok yang tidak tepat, hanya saja aku masih harus banyak belajar. Memang bukan dia yang ditakdirkan untukku.

Daaan, kejutan manis dari Tuhan setelah aku melewati kepahitan yakni bertemu sosok itu, aku diberikan laki-laki terbaik oleh-Nya. Lebih dari yang pernah kuminta.

Tentang Dia

"Ah, paling juga seperti yang sudah-sudah!" Batinku.

Kenalan-modus-saling menyakiti-sakit hati-berusaha move on-cari yang baru lagi. Sudah malas berada di fase ini, jadi pasrah saja.

Dengan perasaan tidak yakin dan ogah-ogahan, akhirnya aku berkenalan dengan dia.

Jika dijodohkan sedikit lucu dan aneh untuk masa modern seperti sekarang (bukan Siti Nurbaya), maka kusebut saja dikenalkan. Melalui aplikasi WhatsApp kami berkomunikasi.

Dia kaku dan aku cuek. Dengan begitu, perkenalan awal kami sedikit "terbata-bata".

Tapi, dia pantang menyerah. Untung saja tidak menyerah, kalau sudah dicuek-in terus kabur, yasudah tidak jodoh kami.

Kembali lagi, yang namanya jodoh ya pasti ada jalannya. Tidak bertemu sendiri ya dibantu orang lain, satu cuek yang satunya lagi gigih. Jadilah jodoh.

Berdasarkan pengakuannya, dia sempat mencariku di media sosial dan tidak ditemukan. Hehe, aku memang bukan anak medsos. Aku berusaha meninggalkan medsos dan segala "wah"-nya.

Lama-kelamaan ketemu juga akun media sosialku yang telah lama jarang digunakan. Dia mengirimi konfirmasi pertemanan di salah satu medsos tersebut.

Dalam hati, "Mana tahu jodohku, bolehlah dicoba. Kita kan nggak pernah tahu mana yang baik mana yang nggak. Yang penting niatnya baik, hayuk!"

Sudah, dari situ kami mulai sering ngobrol via WhatsApp. Berjam-jam, terkadang sampai Subuh. Ternyata komunikasi kami dua arah, tek-tok banget.

Empat bulan kenal dan langsung menikah adalah berbanding terbalik dengan pacaran bertahun-tahun tapi tak jodoh. Hehe, hikmahnya tak usah pacar-pacaran. Jika serius, maka menikahlah. Pacaran buang-buang waktu dan energi. Sudahlah waktu terbuang, energi juga terkuras untuk memahami perasaan orang lain yang belum tentu jodoh.

Pelajaran dari Semua Ini

1. Pacaran lama belum tentu jodoh.

Karena sebelum bertemu dengan jodohku, aku sempat pacaran lama. Dan, keadaan ini kadang membuatku menyesal karena rugi waktu dan energi.

Dulu sempat marah ketika dibilang orang, "Hati-hati, lho. Pacaran lama belum tentu jodoh." Ternyata benar. Mungkin dulu Tuhan memberi sinyal bahwa bukan dia jodohku, hanya saja aku tidak peka.

2. Orang baik akan berjodoh dengan yang baik pula.

Ketika aku berusaha memperbaiki diri, maka Tuhan mengirimkan laki-laki terbaik untuk membimbingku menjadi lebih baik lagi dalam segala hal.

3. Jodoh tidak pernah terduga.

Garis jodoh tiap-tiap manusia sudah tertulis di Lauhul Mahfudz. Tidak akan tertukar sekalipun kita dulu sudah pernah berada di komitmen dengan pasangan masing-masing.

4. Minta yang terbaik pada-Nya.

Tuhan Maha Pemberi. Jika sekiranya itu baik untuk kita, maka pasti dikabulkan. Maka mintalah jodoh terbaik yang akan dibersamakan selama di alam fana dan di keabadian kelak.