“Gak mungkin bu covid19 ini hilang.  Kita harus damai dengan Covid-19!” kata pak Dian supir jemputan sekolah dengan nada jauh dari canda.

“Ahhh… kata siapa pak? Kan sudah ditemukan vaksinnya.” tembal saya membantah omongan pak supir.

“Tetep saja bu, walaupun sudah ada vaksinnya.  Covid19 tak akan sampai hilang, sampai gak ada sama sekali. Gak bisa sampai di angka nol.  Buktinya dulu-dulu juga ada vaksin Polio, penyakit Polio masih ada.”  jawabnya serius.

Itu obrolan saya dengan pak supir jemputan sekolah sebulan yang lalu, ya sekitar pertengahan bulan November 2020.

Dipikir-pikir ada benarnya juga.  Se-level supir sudah punya argumentasi seperti itu, alasan yang praktis dan tidak sejelimet para pakar yang berdiskusi di layar kaca.  Kadang para intelektual publik terlalu banyak bicara dengan bahasanya tinggi, kosakata yang rumit membuat sulit untuk memahaminya.

Andai supir angkot, supir taksi, para pengemudi ojek online, mang tukang beca menjadi jubirnya pemerintah dan merangkap sebagai jaringan humasnya pemerintah. Pasti. Kata-kata himbauan kepada masyarakat akan lebih sederhana, simple, jelas, dan bahasa yang digunakan lebih merakyat.  Gak usah muluk-muluk.

Mereka berinteraksi intensif dan tentunya tahu sisi ketakutan, kekhawatiran yang dirasakan masyarakat di bawah.  Dan karena terlalu bosan dan lelah dengan rasa takut ini, malahan muncul sikap cuek dan tidak peduli dari masyarakat terhadap bahaya Covid19.  Dan menyerahkan semuanya pada takdir.

Percaya tidak percaya, ada tidaknya Covid19 ini sudah menjadi bagian dinamis persepsi masyarakat dalam bersikap.  Seperti halnya isu pasien yang di-Covid-kan, rumah sakit yang bermain dengan Covid-19,  malahan sampai dana bansos juga yang dimainin.  Itu juga fakta yang ada di lapangan.

Ada juga teman saya yang mengatakan virus Covid-19 ini adalah sesuatu yang gaib, jadi serahkan saja penanganannya kepada Sang Maha Penciptanya.  Persepsi ini juga betul,  karena segala apapun di muka bumi ini berasal dari Sang Pencipta  dan berakhir dengan izin-Nya.

Lantas, apa yang harus diperbuat?  Apakah penemuan vaksin itu sia-sia?  Toh, Covid-19 juga gak akan hilang dengan menggunakan vaksin,  karena vaksin pun bukan jadi jaminan paling efektif tidak terkena Covid-19.  Tapi paling tidak ini menjadi sebuah harapan untuk meminimalisir infeksi Covid-19.

Vaksin Covid-19 adalah mahakarya manusia dalam ilmu pengetahuan untuk menembus batas keputusasaan.  Bentuk ikhtiar manusia untuk mempertahankan kelangsungan hidup species manusia, jangan sampai punah dimakan species virus.  Karena antara manusia dan Covid-19 menempati ruang dimensi dan waktu yang sama.

Berdamai dengan virus Covid19

Dulu banyak orang merasakan aneh dan tersinggung dengan ungkapan “Berdamai dengan Covid-19”.  Kok bisa-bisanya ngajak damai pada sosok makhluk yang seharusnya dimusnahkan.  Padahal itu presiden Republik Indonesia yang bicara, bapak Joko Widodo yang mengeluarkan statement itu.

Dasarnya tentu melalui hipotesa dan pertimbangan yang matang, melibatkan analisis dari organ intel pemerintah dalam menyikapi pandemic Covid-19.  Tidak main-main ini lho.  Instrumen dan jaringan intel negara sudah bergerak senyap sebelum kita semua menyadarinya, bahwa Covid-19 akan menjadi pandemik dunia.

Saya jadi ingat pada sebuah cuplikan di drama korea “Start Up”, yang intinya “Kalau tidak bisa mengalahkan musuh, jadilah teman atau sekutunya.”  Ha… barangkali apakah ini strategi dan jurus yang dipakai oleh Intelegen Negara. Entahlah.  Yang jelas ini senapas dengan maksud “Berdamai” yang masih harus dipahami utuh.

Disadari atau tidak, manusia memang berdampingan dengan virus Covid-19. Ada di dalam komunitas manusia di Indonesia, bahkan dunia.  Covid-19 sudah memakan korban sanak saudara, teman kerabat kita.  Apakah Covid-19 memiliki nafsu dan lebih tertarik pada ciri-ciri manusia tertentu yang dia kehendaki?  Bisa saja.

Wah. Covid-19 ini adalah barang yang tidak mudah dikontrol, lincah bergerak, licin, ganas, dan terus berkamuflase merubah wajah sesuai misinya.  Sedangkan manusia dengan naluri dan egonya sebagai makhluk untuk terus survive

Peran manusia sebagai khalifah di muka bumi ini menjadi pertaruhan dan  harus mampu me-manage Covid-19.  Manusia tentu harus jadi pemenang dari pertarungan dengan Covid-19 ini.

Aroma perdamaian inilah yang menggiring manusia mengambil sikap hati-hati dan waspada.  Mengubah pola/gaya hidup serta pola makan sehari-hari.  Dunia baru yang diciptakan dengan selalu memakai masker, mencuci tangan, social distangsing, dan komunitas serba online.  Vitamin dan makanan bergizi  jadi asupan yang fardhu ain.

Main petak umpet dengan virus Covid19

Era Covid-19 ini juga memaksa manusia memasuki dunia petak umpet, salah satu permainan tradisional yang suka dimainkan anak-anak waktu kecil.  Tapi masalahnya Covid-19 bermain tidak tahu tempat, tidak tahu waktu, tidak mengenal kasta yang mau diinfeksi, pangsa pasarnya acak, dan tidak mengenal ampun.  Berdarah dingin.

Permainan tradisional ini dikenal oleh anak-anak kecil di belahan dunia.  Ada anak yang berperan sebagai pencari, yaitu yang mencari orang sambil menjaga benteng.  Ada yang berperan sebagai anak-anak yang bersembunyi.

Untuk di kasus Covid-19 ini perannya acak dan membingungkan,  kalau dilihat dari manusia sebagai korban dan dimangsa, maka posisinya manusia harus sebagai orang bersembunyi.  Bersembunyi terus sampai saatnya Covid-19 menemukannya.  Posisi manusia lemah dan menyedihkan.  Menunggu nasib.

Mau sampai berapa lama bertahan di tempat persembunyian.  Manusia harus keluar dari zona menyedihkan penuh ketakutan, manusia harus melakukan aktifitas sambil memantau pergerakan Covid-19 sebagai pencari dan pemangsa dalam permainan petak umpet.

Manusia dengan ilmu pengetahuannya berganti peran sebagai pencari, yaitu mencari dan mendeteksi yang sudah terpapar covid-19 dan berusaha mengkaburkan radar Covid-19 dengan insting pemangsanya.  Serta memperkuat pertahanan benteng di tubuh manusia dengan meningkatkan imunitas tubuhnya.

Manusia mulai berdamai dan mengakui eksistensi Covid-19.  Sebagai sesama makhluk yang Tuhan ciptakan.  Harus mengenal satu sama lain.  Sampai manusia mendapatkan cara yang terbaik menghindari kepunahan.  Manusia harus melakukan kompromi dan negosiasi ulang dengan Covid-19 untuk menyelamatkan umat manusia.

Konyol rasanya. Membuat perumpamaan bermain petak umpet dalam pandemik Covid-19 ini.  Tapi nyatanya begitu.  Manusia harus bersembunyi dan manusia yang dirugikan hak hidup dan hak kemanusiaannya.  

Alur mainnya harus dirubah untuk tidak bersembunyi lagi, manusia harus ada diluar dan beraktifitas untuk tetap memenuhi kebutuhan biologis dan sosialnya.  Manusia butuh makan, minum, dan anak-anak butuh belajar di sekolah.

Dalam permainan petak umpet ini, manusia bisa berganti peran sebagai pencari. Tapi untuk Covid-19 bisa menempati peran bersembunyi di manapun, di balik pohon, di dalam organ tubuh manusia, di laboatorium, atau di tempat-tempat lainnya. 

Ayooo berdamai saja dengan Covid-19 karena dia tidak mungkin akan hilang, walaupun vaksin Covid-19 sudah ditemukan.  Ini sangat masuk akal.  Covid-19 tidak akan lenyap di belahan bumi Indonesia maupun belahan lainnya. Ayooo kita lakukan!