Pembaca
3 minggu lalu · 92 view · 3 min baca menit baca · Agama 29696_16852.jpg
Pixabay/Ilustrasi

Akhirnya Ibumu Menjadi Muhrimku

Sudah hampir setahun dia resmi menjadi istriku. Seorang wanita yang sederhana, namun terkadang bisa tampil ala sosialita glamor. Berparas cantik, bertubuh mungil. Harusnya dia kujadikan istri, pikirku dulu.

Ini bukan masalah siapa dia. Tetapi, masalah bagaimana mereka memahami. Siapa yang boleh dan siapa yang tidak. Terutama bagiku yang berkeyakinan Tuhanku Allah SWT yang Esa. Sudah kewajibanku untuk selalu mentaati segala perintah-perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Salah kaprah, karena kesalahan yang sudah terlalu populer sehingga tidak menyadari bahwa itu merupakan suatu kesalahan pemahaman, beginilah kiranya yang telah disampaikan oleh Ustadz Adi Hidayat pada pengajian beliau yang aku lihat di salah satu kanal Youtube. Apa yang beliau sampaikan tiba-tiba saja mengingatkanku pada pengertian muhrim yang sering disalahartikan orang.

Kesalahpahaman itu karena faktor ketidaktahuan seseorang terhadap agamanya atau karena kesalahpahaman dalam menafsirkan ucapan orang lain. Misalnya saja sering kita dengar orang mengatakan bahwa kita bukan muhrim, sehingga kita tidak boleh bersentuhan atau memandang terlalu lama kepada lawan jenisnya. 

Ketika pernyataan tersebut terhenti, mungkin saja apa yang kebanyakan orang tangkap adalah bahwa ketika seseorang sebagai bukan muhrimnya. Maka yang perlu dilakukannya adalah menikahnya agar seseorang tersebut dapat menjadi muhrimnya.

Sebenarnya muhrim merupakan suatu istilah dalam Islam yang menunjukkan siapa saja yang tidak boleh kita nikahi. Seperti halnya ayah atau ibu kandung, orang tua kandung orang tua kita, saudara dan beberapa orang yang memiliki kriteria tertentu sehingga menyebabkan mereka menjadi muhrim bagi dirinya.

Kata muhrim berasal dari kata haram yang berarti terlarang. Dalam KBBI muhrim diartikan seorang laki-laki yang dianggap dapat melindungi wanita yang akan melakukan ibadah haji. Sedangkan untuk pengertian seperti di atas, KBBI menggunakan istilah mahram sebagai bentuk yang tidak baku yang mana artinya seorang (perempuan, laki-laki) yang masih termasuk sanak saudara dekat karena keturunan, sesusuan, atau hubungan perkawinan sehingga tidak boleh menikah di antaranya.


Dalam hukum syariat Islam ada lima bagian hukum yang perlu diperhatikan untuk menentukan kategori dalam beribadah maupun dalam berkehidupan sehari-hari. Lima bagian hukum tersebut adalah Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh dan Haram. Namun pada ketentuan ibadah ada dua tambahan istilah yaitu sah dan batal.

Wajib menurut definisi umum yang sering ditemui dalam kitab-kitab fiqih adalah suatu perbuatan yang bilamana dikerjakan mendapatkan pahala dan apabila ditinggalkan akan mendapat dosa. 

Seperti halnya shalat bagi umat Islam merupakan perintah yang diwajibkan. Sehingga ketika kita mengerjakannya kita dijanjikan oleh Allah SWT akan mendapatkan pahala dan apabila kita tinggalkan dosalah yang akan kita terima.

Adapun sunnah menurut definisinya merupakan suatu pekerjaan yang jika dikerjakan mendapatkan pahala dan tidak berdosa jika ditinggalkan. Kebanyakan pekerjaan yang dimasukkan dalam kategori sunnah adalah pekerjaan yang disandarkan pada hadist-hadist Nabi Muhammad SAW yang mana beliau pernah melakukannya dan tidak diwajibkan dalam al-Qur’an.

Mubah memiliki arti boleh, yang mana pekerjaan itu jika dikerjakan tidak diganjarkan dengan pahala begitu juga meninggalkannya tidak akan mendapatkan dosa. Seperti makan, minum dan lainnya. Namun, jika perbuatan yang dibolehkan tersebut dilakukan untuk mendukung, menunjang atau berhubungan dengan hal-hal yang Allah sukai maka pahala akan didapatkan.

Sedangkan makruh adalah perbuatan yang Allah benci. Jika kita mengerjakannya tidak akan mendapatkan dosa, namun akan mendapatkan pahala jika meninggalkannya. Dalam hal ini sering terdapat banyak perbedaan pendapat dari para ulama-ulama ahli fiqih. 


Kadang ada yang menganggap suatu perbuatan tersebut makruh hukumnya dan sebagian lain berpendapat dengan hukum perbuatan tersebut haram maupun mubah. Masing-masing diantara mereka memiliki dalil hujjah tersendiri yang mereka pegang.

Masuk pada definisi haram yang secara umum diartikan terlarang. Menurut ulama fiqih, haram merupakan perbuatan yang berdosa untuk dilakukan dan sangat dianjurkan untuk meninggalkannya sehingga ada ganjaran pahala untuk itu. Seperti berjudi, mabuk, membunuh, berzina dan lain-lain.

Sama halnya dengan hukum menikahi orang-orang yang telah ditetapkan sebagai muhrim kita. Jika kita menikahi mereka kita akan mendapatkan dosa atas perbuatan tersebut. Dan meninggalkan perbuatan itu merupakan suatu kebaikan yang akan diganjar dengan pahala.

Ada beberapa orang yang akan berubah menjadi muhrim bagi kita disebabkan suatu perbuatan tertentu. Misalnya saudara sesusu, haram bagi kita menikahinya dikarenakan perbuatan masa lalu. 

Pada masa kecilnya kita pernah meminum ASI dari seorang wanita selain ibu kita. Dari wanita itu juga ada anak lawan jenis yang pernah meminum air susunya baik itu anak kandungnya ataupun anak orang lain. Dengan kadar meminum yang telah dijelaskan. 

Maka, anak tersebut menjadi saudara sesusu kita dan dilarang kita untuk menikahinya meskipun kita telah dewasa. Padahal jika anak itu atau kita tidak pernah meminum susu dari wanita yang sama pada masa kecilnya. Maka dihalalkan bagi kita untuk menikahinya karena dia bukan muhrim kita.

Perubahan status halal atau haramnya dinikahi seseorang bagi kita bisa juga disebabkan oleh pernikahan. Seperti saya yang telah menikahi istri saya, maka haram bagi saya untuk menikahi ibu kandungnya atau saudari istri saya. Karena pernikahan saya itulah yang merubah status Ibu mertua saya dan ipar perempuan saya akhirnya menjadi muhrim bagi saya.

Artikel Terkait