Tuhan pasti tahu apa yang diinginkan hamba-Nya. Tuhan tidak akan pernah salah menunjukkan jalan bagi mereka yang membutuhkan petunjuk-Nya. Setiap do’a yang ditengadahkan di setiap malam akan terkabulkan.

Seperti yang Aku lakukan. Menengadah, Menangis, merintih dan berdo’a agar Tuhan selalu memberi jalan yang terbaik. Menunjukkan cara untukku kembali pada pelukan Papa.

Hari ini Papa berjemur ditemani Mama. Aku tidak tahu persis apa yang mereka bicarakan. Seperti membicarakan sesuatu yang sangat rahasia. Sudahlah mungkin hanya pikiranku saja.

Aku  penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Apakah semua tentangku?, tapi mana mungkin Papa dan Mama seserius itu jika hanya membahas tentang masa depanku. 

Aku dan Mbak Yum masih sibuk di dapur. Mempersiapkan segala macam makanan yang akan dihidangkan hari ini. Aku hanya sedikit merasa aneh mengapa hari ini masak lebih banyak dibanding biasanya.

Papa dan Mama masuk ke dalam rumah usai berjemur. Aku hanya mengamati dari kejauhan, Papa semakin terlihat sehat dari hari ke hari.

“Mbak Yum, minta tolong Mbak”, Panggil Mama.

“Iya, Bu”

“Mbak, tolong ya ruang tamu dan ruang makan ditata lebih rapi. Hari ini akan ada tamu. Teman Papa yang sedang bertugas di daerah sini.”

“Baik, Bu. ”

Aku masih bingung. Siapa yang akan datang ke rumah, kenapa Mama belum cerita kepadaku. Ahh bukan urusanku, kan teman Papa mungkin saja Aku tidak mengenalinya.

Beberapa menit setelah membantu Mbak Yum, Mama memanggilku.

“Nay, sini nak. Papa akan bicara denganmu.”

Hatiku benar-benar bergetar. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Rasanya benar-benar takut. Belum sempat Aku mendekati Papa dan minta maaf padanya tapi kenapa Papa malah memanggilku lebih dahulu. Ada apa ini?.

Tuhan memang punya jalan yang berbeda. Kita yang merencanakan, Dialah yang berkuasa atas apa yang terjadi pada Hamba-Nya. Aku mencoba menarik nafas lebih dalam.

Aku mendekati Papa yang masih tetap duduk di atas kursi roda dan Mama duduk di atas sofa. Begitu Aku sampai di dekat Papa, rasanya air mata tak bisa terbendung. Aku menangis di atas pangkuan Papa.

“Nay, maafkan Papa.” Ucap Papa

“Papa gak salah Pa. Aku yang salah sama Papa. Aku tidak pernah mendengarkan perintah Papa. Aku sudah mengecewakan Papa selama ini. Aku yang banyak salah sama Papa.”

“Papa memang terlalu memaksakanmu untuk menjadi polisi waktu itu, Nay. Semua ini bukan tanpa alasan. Dulu, sebelum Eyangmu meninggal, Beliau berwasiat agar anak Papa semua jadi polisi.” Papa menjelaskan dengan nada bijaksananya.

“Siapapun anak Papa, baik laki-laki ataupun perempuan harus jadi polisi. Papa sebenarnya sedih Nay, kamu tidak mau jadi polisi. Tapi waktu telah menjawabnya. Kini Papa bangga kamu bisa menjalani apa yang menjadi pilihanmu.” Lanjutnya.

“Menjadi seorang guru  saat ini adalah pilihan tepat untukmu, Nay. Kamu bisa menjalaninya dengan bahagia. Meskipun Papa tidak pernah berbicara sepatah katapun denganmu, tapi Papa selalu memperhatikan langkahmu, Nay.” Lanjut Papa.

“Nay, kamu jangan menangis lagi. Papa sudah ceritakan semua pada Mama. Kali ini, Papa ingin kamu mendengarkan kata-kata Papa. Papa hanya ingin melihatmu bahagia, Nay.”

Aku masih bingung dengan apa yang sebenarnya diinginkan Papa. Setidaknya Aku sudah lebih bahagia dan tenang setelah Papa mau berbicara denganku lagi. Akhirnya penantian lamaku telah  terjawab.

“Papa akan mengenalkanmu dengan anak teman Papa yang akan datang nanti sore, Nay. Papa ingin kamu menerimanya sebagai calon suamimu. Tapi Papa tidak akan memaksa. Papa tidak ingin kejadian dahulu terulang kembali.”

“Mama dan Papa sepakat untuk membicarakan ini baik-baik denganmu, Nay. Kita berdua tidak ingin ada kesalahpahaman di keluarga kita lagi. Papa ingin melihatmu tersenyum lagi, Nay.”

“Meskipun kamu tidak menjadi polisi, Papa masih tetap ingin menantu Papa adalah seorang polisi. Ini semua demi mewujudkan wasiat dari Eyang. Kamu akan bertemu dengannya nanti sore, Nay. Sekarang kamu bisa  istirahat dahulu, Nay.” Kata terakhir Papa.

Rasanya campur aduk. Bingung bukan main. Beruntungnya, saat ini Aku masih sendiri setelah satu tahun yang lalu pengkhiatan terjadi. Itulah alasannya mengapa Aku belum bisa membuka kembali hati ini untuk orang lain.

Namun kali ini Aku akan mecoba membuka hatiku untuk pilihan Papa. Aku hanya meyakinkan diriku bisa menerima pilihan Papa dengan sebahagia mungkin. Semoga ini akan menjadi salah satu cara permohonan maafku pada Papa.

Semua sudah siap. Hidangan di meja tamu. Makanan di atas meja makan. Memang sedikit terlihat mewah hari ini. Aku tidak tahu harus bagaimana kecuali menyiapkan diri untuk bertemu dengannya.

“Selamat sore, Pak To. Ayo silakan masuk.”

“Wah wah wah sepertinya Aku merepotkanmu, sahabatku.”

Dag, dig, dug. Ahh rasanya gemeteran. Apakah begini rasanya dijodohkan dengan orang yang belum kita kenal.

“Mama, ini Pak To sudah datang. Ajak Naya kesini.” Panggil Papa

Langkahku semakin kaku, seperti tak bisa bergerak. Aku sudah siap untuk keluar menemui teman Papa beserta keluarganya. Aku belum bisa melihat wajah sosok laki-laki itu. Hanya dari belakang saja, sepertinya sudah terlihat tampan. Ahh sudahlah.

“Sini Ma, Naya. Kenalin ini temen Papa yang kemarin Papa ceritakan.” Papa mengenalkan kami kepada Pak To, teman Papa.

Aku sungguh belum berani melihatnya. Penasaran seperti apa polisi calon suamiku itu.

“Lhoh Naya. Dia putra bapak?”

Aku langsung  kaget keheranan. Oh tidak. Tuhan mempertemukanku dengan dia setelah 10 tahun lamanya tidak ada kabar antara kami berdua. Kami tidak pernah bertemu sejak lulus SMP.

Aku melanjutkan di SMA internasional dekat rumahku dan dia ikut dengan neneknya yang tinggal di Jerman. Dia melanjutkan sekolahnya di sana. Aku tidak tahu ternyata sekarang dia menjadi polisi yang tetap gagah dan ganteng.

Aku semakin bingung, Tuhan. Kau pertemukan kembali mantan cinta monyetku. Cinta pertamaku saat SMP dulu. Takdirku memang begini. Kini saatnya membahagiakan Papa dengan kata “Iya” sebagai penerimaannya.

“Kamu sudah  kenal Naya?” Tanya Papa kepadanya.

“Kami teman satu SMP Pa, dan tidak pernah bertemu sampai saat ini.” Jelasku.

Semua tertawa melihat semua ini. Aku semakin malu. Ternyata kamu yang akan kembali mengisi hari-hariku. Mengisi kekosongan hati ini. Rasanya begitu indah tidak seperti yang ku bayangkan sebelumnya.

Kali ini Aku akan menuruti apa yang diinginkan Papa. Menerima seorang polisi sebagai pendamping hidupku untuk selamanya. Makasih Randi, kau datang tepat waktu.

Pa, kalau saja dari dulu Aku mendengarkanmu, kebahagiaan akan selalu memihak keluarga kita. Sekali lagi maafkan Aku, Pa. Hidup memang tidak ada yang tahu. Kadang sedih namun akan berakhir bahagia.

Selamat bahagia di akhir sebuah cerita. Tuhan pasti akan mengabulkan do’a yang terus dipanjatkan.