Sore ini aku pulang bersama Zira dari sekolah. Dan seperti biasanya dalam perjalanan pulang kami melaksanakan salah satu ritual pelengkap. Yakni menikmati perjalanan dengan mengobrol. Seperti persahabatan pada umumnya, kami juga menghabiskan waktu untuk berbincang serius atau hanya sekedar bercanda.

Awalnya, aku hanya membahas rasa es krim yang kami suka. Sampai akhirnya menyayangkan es krim kesukaan kami  yang enak dan harganya murah, ternyata memperkerjakan buruh juga dengan minim upah. Lalu, sesekali hanya membahas betapa rumitnya pelajaran matematika ketika sudah dimasuki huruf. Kami sampai tak sanggup hati, bermain petak umpet untuk mencari nilai x+y.

Hingga sampai lisanku bertanya, "Apakah orang dewasa lebih pusing kepalanya dari pada kita Ra?".

Zira hanya ketawa. Bocah ini memang kerjaannya suka menertawakanku saja.

Baru separuh jalan aku dan Zira sangat haus. Dan akhirnya memutuskan untuk membeli minum di warung temanku Lastri.

"Eh Tri, aku mau lea-lea 1 yah."

"Aku juga ya Tri",  Susul Zira meminta.

Lastri keluar dengan badan duanya, mengantarkan jajanan kepada kami.

"Ini, jadi 2000 ya.."

"Iyo, nih.." ku sodorkan uang yang sudah kuberi solatip karena sobek di tengah. Dengan sedikit mimic wajah khawatir, takut Lastri menolaknya.

"Kalian baru pulang sekolah kah?"

"Ya... gitu Tri. Gimana kabarmu dan bayimu?"

"Bayinya dan aku baik Fah. Cuma si Bapaknya belum mau mengaku. Jadi, keadaannya saja yang engga pernah baik"

Mendengar jawaban Lastri, aku pun bingung mau menjawab apa. Padahal aku hanya ingin  basa-basi. Namun, malah jadi berbisa untuk si Lastri.

"Semoga segera selesai masalahnya ya Tri. Aku hanya bisa mendoakan saja." Zira membantuku keluar dari suasana canggung yang kubuat sendiri.

"Aamiin.." Hanya ini yang bisa ku ucapkan.

Lalu kami melanjutkan perbincangan kembali. Disebuah saung kecil, hari itu aku memutuskan untuk bersantai bersama Zira, sebelum pulang ke rumah dan menjalani aktivitas yang itu-itu saja. Kami pun membahas banyak hal kembali. Aku membuka kembali obrolan kami dengan membahas serial one piece.

Aku bertanya-tanya mengapa aku mulai menyukai serial anime ini, ketika aku tahu bahwa terdapat keabadian dalam episode yang sudah melewati 1001 malam. Zira kembali menertawakanku. Dia bilang aku masih bocah. Katanya bukan karena tontonanku. Tapi, karena aku gampang mengeluhkan apa saja yang kusesali.

Sesekali Zira juga tersenyum. Senyuman itu seperti berbicara tapi aku tidak dapat mendengarnya. Kulanjutkan membahas persoalan bangun pagi, kenapa kita harus diberi aturan jika bangun pagi memang baik?  Kenapa kita suka berbohong hanya karena takut omelan orang tua? Kenapa kita malas di saat kita punya banyak mimpi?

Mengapa seseorang memilih untuk berbuat jahat? Bagaimana cara manusia menilai perbuatan itu baik, apakah harus dengan melakukan kejahatan? Apakah dunia akan jadi lebih baik kalo gaada orang jahat?

Zira tidak menjawab semua yang kutanyakan padanya. Hari ini di akhir perjalanan pulang Zira lebih banyak mendengarkan aku. Tidak biasanya seperti ini. Tapi aku juga tidak memiliki masalah dengan itu. Ku pikir Zira sedang menstruasi. Sehingga, tidak ada girah untuk menjawabku.

Hari pun semakin sore. Kami melanjutkan perjalanan. Karena bosan dengan respon yang tak kunjung diberikan Zira. Aku pun membuka satu obrolan terakhirku dengan Zira tentang pernikahan.

"Ra.."

"Apa Fah?"

"Aku ngga mau nikah ah.."

"Loh kenapa...?"

"Masih bocah kan katamu."

"Yeh.. kukira apa toh.."

"Kamu mau menikah Ra? di usia berapa Ra?"

"Belum kepikiran aku, yang pasti saat aku sudah menamatkan kuliahku nanti."

"Bagus dong."

"Tapi kan takdir suka berbeda-beda, Fah."

"Iyasih.. yasudah sampai ketemu besok ya Ra."

"InsyaAllah."

“loh tumben, alim jawabanmu.”

Zira benar-benar hanya tersenyum. Kami pun berpisah. Aku kembali kerumah dengan membawa perasaan bahwa ini adalah akhir perjalanan pulang.

Esoknya, Ibu membangunkanku. Kata Ibu hari ini dialah yang akan mengantarkanku ke sekolah. Tidak biasnya juga Ibu mau mengantar. Diam-diam aku bergegas dan kabur lewat jendela. Aku pikir aku sudah terbiasa menjemput Zira ketimbang harus berangkat bersama Ibu.

Aku berlari seperti biasanya. Menyiapkan beberapa topik yang akan kutanyakan dan kujawab sendiri pastinya. Sampai pada di pelataran rumah Zira. Begitu banyak orang berkumpul di sana. Semua berpakaian rapih. Tidak ada tenda, tapi rumah Zira disulam bagaikan taman bunga. Ada meja hidangan panjang yang menjadi tempat makanan lezat bermacam rupa.

Aku mencoba mengalihkan fokusku, dan melihat ke dalam pintu masuk rumah. Sampai akhirnya aku melihatnya memakai gaun pengantin. Aku bingung, keadaan macam apa ini. Bukankah seharusnya yang melekat di tubuhnya adalah seragam sekolah. Kenapa dia harus memakai mahkota? Siapa yang menjadikannya ratu dalam semalam?

Zira melihat ke arahku, dia hanya tersenyum. Senyum yang sama. yang dia berikan ketika tidak lagi tertarik dengan perbincangan kami. Tanpa jawaban, lagi dan lagi.  Aku pun pergi ke rumah, menyusul Ibu yang hendak berangkat bersamaku. Sejak saat itu, tidak ada lagi perjalanan pulang.