Pada 29 April 2030, tepat pada hari ulang tahunnya yang ke tiga puluh empat, Pomo mati diracun di bus Primasaja tujuan Tasikmalaya-Lebak Bulus. Ketika itu, bus berada di KM 132 tol Purbaleunyi arah Jakarta.

Dua orang sebelumnya sudah merencanakan pembunuhan tersebut. Satu bertugas memasukkan cairan ke dalam teh botol kemasan plastik. Satu lagi bertugas menjadi pedagang asongan yang menjajakan dagangannya ke dalam bus sebelum bus masuk ke dalam tol. Pomo duduk di sisi kiri, di samping jendela baris ke delapan dari depan. Di sebelahnya kosong, hanya di isi tas yang ia bawa.

Saat seorang pedagang masuk bus menawarkan dagangannya, ia membeli sebotol teh dingin. Minuman dingin nampaknya cocok dikonsumsi saat terik matahari menyengat bumi. Penampilan Pomo tidak berbeda dari masyarakat sipil biasa. 

Bahkan, ia berpenampilan layaknya seorang yang sudah berhari-hari tidak terkena air. Jeans lusuh yang mungkin sudah setahun tidak pernah menemui tempat laundry. Kaos oblong hitam dengan tulisan I Love Bandung yang sudah sobek di beberapa tempat. Sendal lusuh, seperti yang biasa menjadi sendal untuk wudhu di masjid-masjid.

Saat bus melewati simpang susun Pasir Koja, Pomo mengambil botol yang ia beli sebelumnya, meminumnya, tak lama mulutnya berbusa-busa. Ia mati seketika. Para penumpang panik. Bus menepi di bahu jalan segera.

Empat bulan sebelum Pomo mati diracun di dalam bus, ia membunuh seorang pengusaha dan nelayan di Pangandaran. Siang itu, pengusaha dan nelayan itu baru saja menjual hasil tangkapan lima kapal miliknya yang hampir tiga bulan mengapung di samudera hindia. Tangkapannya cukup banyak, hasilnya tidak begitu mengecewakan baginya, juga para pegawainya.

Pomo seorang diri menguntit pengusaha yang berjalan keluar dari pelelangan ikan. Di jembatan tak jauh dari tempatnya berdiri Pomo sudah siap dengan sebilah parang yang sudah mengkilap. Dengan satu tebasan, kepalanya menggelinding jatuh ke sungai yang ada di bawahnya. Tubuhnya ia lempar mengikuti kepalanya, uang yang ada di tas ia bawa menjauh dari tempat tersebut.

Di terminal, ia mandi dan mengganti pakaiannya di WC umum. Sebelum menaiki bus yang membawanya keluar dari kota ini, ia membakar pakaian yang sebelumnya dipakai untuk membunuh. Bercak darah terlihat di beberapa bagiannya.

Delapan bulan sebelum pembunuhan di Pangandaran. Pomo sempat merampok sebuah toko emas di Jalan Gandawijaya, Cimahi. Pemilik toko yang nampaknya masih tertidur pulas di lantai atas tak menyadari kehadiran Pomo dan satu kawannya.

Dengan jaket kulit, sarung tangan karet dan helm full face, keduanya beraksi menggasak hampir seluruh koleksi emas yang ada di toko. Sebelum pemilik menyadarinya, mereka sudah berhasil pergi dengan satu tas penuh emas.

Empat tahun sebelum merampok toko emas di Cimahi. Pomo sedang asyik menikmati kemaluannya yang diobok-obok wanita yang jongkok di atasnya. Sebelum polisi datang mengganggu hasratnya yang belum memuncak dan menggelandanginya menuju tahanan dengan kondisi kemaluan yang masih menjulang.

Di pengadilan, dua bulan setelah ia di sergap, ia di jatuhi hukuman penjara tiga tahun enam bulan penjara. Atas perbuatan melanggar hukum pasal 378 KUHP tentang penipuan. Ia di vonis atas tindakannya melakukan praktik menguntungkan diri sendiri dengan melawan hak, baik dengan memakai nama palsu atau keadaan palsu, baik dengan akal dan tipu muslihat, maupun dengan karangan perkataan-perkataan bohongm membujuk orang supaya memberikan sesuatu barang, membuat utang atau menghapuskan piutang.

Lima tahun sebelum menikmati kemaluannya diobok-obok yang akhirnya mengantarkannya ke dalam jeruji besi. Pomo melarikan sebuah bus Transjakarta yang terparkir di pool. Dini hari ia membawa dan melarikan bus itu melewati tol Jakarta-Cikampek sebelum masuk ke jalur pantura dan berhenti di wilayah Eretan, Indramayu.

Siang harinya, polisi setempat menemukan bus yang sudah tak berawak itu dan melaporkannya ke pihak kepolisian di Jakarta untuk di tindak lanjut. Sementara itu, Pomo melanjutkan perjalanannya dengan mencegat truk yang melintas setelah ia turun dari bus dan berhenti di Kudus saat truk yang di tumpanginya tiba di tujuan.

Empat tahun sebelum Pomo membawa bus Transjakarta keluar dari pool saat dini hari. Ia di keluarkan dari kampusnya. Sebabnya adalah ia diketahui menjadi pelaku pelecehan seksual terhadap salah satu warga di tempat ia melaksanakan Kuliah Kerja Nyata, di sebuah desa di Kabupaten Garut.

Setelah kasus pelecehan seksual tersebut, kasus-kasus lain yang melibatkan ia sebagai pelaku di kampusnya ikut mencuat. Para korban yang kebanyakan adalah para adik tingkatnya di berbagai organisasi kampus mulai berani bersuara. Atas desakan berbagai elemen kampus, dan masyarakat di tempat ia KKN, akhirnya ia dikeluarkan dari kampus.

Delapan tahun sebelum pelecehan seksual yang Pomo lakukan saat KKN terjadi. Ia tengah asyik bermain di rumah temannya. Jarak rumah keduanya tak jauh, hanya dipisahkan oleh empat rumah. Saat itu sore hari, ia sedang duduk mengerjakan tugas sekolahnya sebelum akhirnya ia melihat ke kamar orang tua temannya. Ia melihat sang ibu sedang mengganti pakaiannya. Tepat saat ia menjatuhkan handuk yang menutupi bagian dada sampai pahanya. Ia melihat dua gundukan buah dada yang bulat yang membuatnya gelisah dan membangkitkan kemaluannya seketika.

Sesampainya di rumah, ia langsung ke kamar mandi dan menumpahkan hasratnya berbekal anugerah Tuhan berupa tangan yang multifungsi. Sejak itu ia ketagihan untuk melakukan self treatment, menonton film-film porno juga makin rajin berkunjung ke rumah temannya.

Dua tahun sebelum Pomo memiliki kesempatan emas dan berakhir dengan berceceran di lantai kamar mandi. Ia menerima tampran keras dari ayahnya di pipi kirinya. Itu setelah ia pulang dari tempat bermain playstation hampir sehari semalam. Sebabnya adalah ia telah mengambil uang di laci gerobak nasi goreng yang akan digunakan ayahnya untuk berbelanja.

Empat bulan sebelum Pomo mengambil uang di laci gerobak nasi goreng ayahnya. Ia di panggil ke ruang kepala sekolah setelah salah seorang temannya melaporkannya akibat memukulnya di saat jam istirahat. Awalnya adalah saat Pomo dan teman-temannya bermain adu gambar. Ia kalah dan semua gambarnya harus berpindah tangan kepada temannya yang menjadi bandar.

Tak terima atas kekalahan tersebut, tangannya dengan cepat melayang dan meninju wajah temannya. Tak sempat melawan, kembali temannya menerima pukulan bertubi-tubi dari kepalan tangan Pomo. Tak ada yang berani melerainya, sebelum akhirnya ia sendiri kelelahan dan mengambil kembali gambar miliknya dan masuk kelas.

Satu tahun sebelum Pomo dipanggil kepala sekolah atas tinjuan yang dilakukannya. Ia melakukan pencurian pertamanya. Saat itu di sekolahnya sedang ramai permainan gasing. Di depan sekolahnya terdapat seorang penjual mainan dengan dua keranjang yang ditanggung menggunakan satu kayu.

Saat sang penjual lengah melayani pembeli lain, tangannya diam-diam mengambil satu buah gasing yang luput dari pandangan sang penjual. Setelah gasing berhasil berpindah dari tempat asalnya ke saku celananya. Ia pergi begitu saja dengan perasaan lega karena berhasil memindahkan barang yang ia inginkan.

Sang penjual adalah seorang lelaki tua, rambutnya sudah memutih. Keriput di wajahnya terlihat begitu jelas dengan warna kulit yang cukup eksotis, coklat kehitaman. Sejak itu, beberapa kali ia menjadi langganan dalam proses pemindahan barang. 

Tidak hanya untuk keisengan pribadi, beberapa barang yang berhasil ia pindahkan ia jual dengan harga lebih murah dibanding harga yang di tawarkan sang penjual. Uangnya ia gunakan untuk menyewa playstation untuk beberapa jam.

Enam bulan sebelum ia melakukan pencurian pertamanya. Ia kecewa terhadap ayah dan ibunya dan marah terhadap orang-orang yang arogan itu. Hal tersebut dikarenakan ayah dan ibunya tidak melawan saat lokasi tempatnya berjualan di obrak-abrik oleh para petugas Satpol PP. Dagangannya berhamburan di jalanan, gerobak satu-satunya yang mereka miliki disita petugas.

“Goblok kalian semua.” Pomo berteriak sebelum akhirnya mereka pergi dengan truk dan beberapa motor. “Kontol!”