“ Libur ya Mas”. Pertanyaan tersebut akrab ditelinga saya selama musim pembelajaran jarak jauh ini. Saat jadwal bekerja di rumah atau work for home (WFH) dan pagi tidak ada jadwal mengajar, saya menyempatkan diri untuk menyapu halaman depan. Saat itulah tetangga lewat dan terjadi pertanyaan tersebut.

Saya menganggap pertanyaan itu sebagai basa basi sesuai dengan budaya kita yang nggak enak kalau melewati seseorang tanpa menyapa. Oleh karena itu, saya juga menjawabnya dengan basa basi tapi tetap berusaha tidak berbohong “Bekerja dari rumah Mas”. Tidak perlu khan saya menjelaskan panjang lebar kalau di rumah tetap mengajar dengan aplikasi pembelajaran.

Ternyata pertanyaan tersebut datang lebih dari satu orang. Pendidikan mereka juga tidak rendah rendah amat. Kalapun ada yang pendidikanya rendah, setidaknya mereka dapat membaca dan menulis. Apa mereka tidak membaca berita berita popular saat ini ya tentang bekerja di rumah (WFH) dan bekerja di kantor (WFO)?.

Dengan tetap menjunjung tinggi budaya basa basi di masyarakat kita, saya kemudian berpikir agak melebar. Jika mereka tidak baca tentang berita berita tersebut, mungkin ini yang menjadi penyebab budaya membaca atau literasi membaca kita rendah.

Literasi sendiri mengalami perkembangan definisi disesuaikan dengan perkembangan zaman. Literasi dulu diartikan sebagai kemampauan dasar membaca dan menulis. Pada perkembanganya literasi juga diperluas menjadi literasi media, literasi sains, literasi sekolah dan lainya. Membaca juga berarti memahami informasi informasi di media cetak dan elektronik.

Sudah bukan rahasia umum lagi, menurut survey badan badan internasional, kemampuan literasi bangsa kita rendah. Central Connecticut State University dalam berita di Kominfo.go.id (10/10/2017) pada Maret 2016 menyampaikan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat baca membaca.

Sedikit menggembirakan adalah survey dari World Culture Index Score 2018. Kegemaran membaca masyarakat Indonesia meningkat signifikan. Indonesia menempati urutan ke-17 dari 30 negara (Warta Ekonomi.co.id, 22/04/2019)

Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando dalam berita di Kompas.com (02/02/2021) menyatakan bahwa berdasarkan hasil kajian Indeks Kegemaran Membaca yang dilakukan Perpusnas pada tahun 2020 memberikan hasil minat baca Indonesia masuk dalam poin 55,79 atau sedang.

Membongkar penyebab rendahnya literasi bangsa tidak bisa hanya sekedar menyalahkan internet dan gawai masa kini. Memang internet dan gawai menjadi salah satu penyebab rendahnya literasi bangsa saat ini, tetapi itu hanya riak kecil dari gelombang penyebab. Penyebab rendahnya literasi bangsa dapat dilihat dari budaya bangsa, peranan pemerintah, orang tua dan masyarakat.

Rendahnya literasi dasar membaca dan menulis bermula dari budaya bangsa kita yang suka bercerita atau “mendongeng” daripada membaca dan menulis. Banyaknya hikayat dan legenda dari bangsa kita menjadi bukti. Dalam memberi petuah petuah kepada yang lebih muda, leluhur kita suka bercerita misalnya Malin Kundang, Sankuriang, Bandung Bondowoso Roro Jonggrang dan lainya.

Selain itu, bangsa kita sangat suka berkumpul dan berbicara berbagai hal tentang kehidupan yang dialaminya. Misalnya dalam masyarakat jawa dikenal dengan istilah “Grumungan’ atau berbicara ngalor ngidul tentang berbagai hal. Topiknya tidak jauh dari segala hal yang terjadi pada lingkungan dan pribadi masing masing. Bukan sesuatu yang telah dibacanya.

Saya tidak bermaksud bahwa budaya berkumpul itu tidak baik. Manfaatnya juga sangat banyak. Saya yakin bahwa budaya gotong royong dan musyawarah bangsa kita berasal dari budaya berkumpul. Dua budaya tersebut kemudian menjiwai falsafah bangsa kita. Sisi kekurangan dari budaya tesebut yang harus dibenahi.

Literasi sangat erat kaitanya dengan pendidikan. Oleh karena itu, meningkatkan literasi tidak bisa melepaskan dari tiga pilar pendidikan; pemerintah (sekolah), masyarakat dan keluarga. Pemerintah pernah mencanangkan gerakan gemar membaca. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan sendiri sudah mencangkan gerakan literasi sekolah beserta panduanya.

Namun menurut saya, program tersebut belum begitu maksimal terlaksana. Tidak cukup dengan program, tetapi juga harus disertai kecukupan prasarana dan pelaksanaan program. Tidak semua sekolah mendapatkan cukup buku yang bermutu dan kekinian. Tidak semua daerah ada perpustakaan keliling.

Program program yang mendukung kegiatan membaca dan menulis seperti lomba lomba juga jarang diadakan atau tidak sampai ke daerah daerah. Kompetensi tersebut sangat berguna dalam menggairahkan semangat literasi masyarakat.

Mungkin anda akan mendebat saya bahwa sekarang ada internet. Well, tidak semua warga di republik ini mampu untuk membeli gawai android dan pulsanya. Tidak semua daerah ada jaringan intenet yang memadai. Daerah di republik ini tidak hanya Jawa, tetapi sampai ke Papua.

Sekolah selanjutnya menjadi soko guru atau tiang dari literasi bangsa. Bagaimana tidak, kegiatan kegiatan disekolah khususnya belajar mengajar tidak lepas dari membaca dan menulis. Tidak hanya siswa saja, tetapi juga kepala sekolah, pendidik dan tenaga kependidikan. Apalagi sekarang gerakan literasi juga sudah digaungkan oleh Kemdikbud ke sekolah sekolah.

Namun kegiatan membaca dan menulis di sekolah sebagian besar terpaku pada konten dari materi yang diharuskan di kurikulum. Keharusan target nilai untuk mencapai ketuntasan belajar membuat guru terpaku pada penyelesaian materi dalam kurikulum. Sehingga guru tidak sempat untuk memperkaya materi lebih luas pada siswa.

Gerakan literasi sekolah memang sudah digaungkan. Tetapi itu jauh panggang dari api. Tidak semua sekolah benar benar melaksanakan gerakan literasi. Gerakan yang lebih diperluas, bukan sekedar rutinitas belajar mengajar saja. Buku buku diperpustakaan masih banyak belum disentuh. Apalagi sekolah sekolah terpencil yang minim fasilitas.

Secercah harapan muncul ketika Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). Asesmen tersebut mencakup penilaian kemampuan numerasi dan literasi serta survey karakter. Diharapkan dengan tiga hal tersebut, dapat meningkatkan kemampuan siswa baik dari akademik, sikap dan ketrampilan.

Yang terakhir dan yang paling penting adalah pengaruh keluarga. Sehebat apapun program literasi di sekolah, jika tidak didukung lingkungan keluarga, hasilnya tidak maksimal. Siswa lebih banyak waktunya di rumah daripada di sekolah. Sehingga pendidikan literasi dari orang tua sangat penting sebagai pondasi anak.

Namun tidak semua keluarga mendapatkan kondisi yang mendukung literasi. Himpitan ekonomi yang kian berat, membuat keluarga lebih mementingkan kebutuhan sehari hari daripada sesuatu hal yang tidak langsung di dapat hasilnya. Belum lagi keluarga yang orang tuanya sibuk bekerja sehingga tidak dapat memperhatikan belajar putra putrinya.