Sejarah Islam tidak mesti dipandang hanya sebelah mata. Sejatinya dalam sebuah arus sejarah mempunyai dua unsur yang berbeda. Di satu sisi terdapat unsur yang positif dan selebihnya unsur negatif. Begitu pula dengan sejarah Islam yang menyimpan dua unsur tersebut.

Kita tahu bahwa setelah meninggalnya nabi Muhammad SAW, ajaran Islam diserahkan kepada para sahabat (Khulafa Al-Rasydun) sebagi penerusnya sekaligus menjabat sebagai khalifah umat Islam seluruh dunia. Yang menjabat Khalifah pertama adalah Abu Bakar Shidiq, dilanjutkan oleh Umar Ibn Khattab, Utsman Ibn Affan, dan Ali Ibn Abu Thalib. Sedari khalifah kedua dari yang terakhir ini, Islam dibuat agak sedikit buram dari makna aslinya karena terkontaminasi oleh praktek-praktek politik.

Puncak dari politik Islam sendiri terlihat sangat kentara pada sosok Ali Ibn Abi Thalib dengan oposisinya Muawiyah Ibn Abu Sufiyan yang pada saat itu bersetru mengenai siapa yang layak melanjutkan kepemimpinan sepeninggal Utsman Ibn Affan yang meninggal akibat dibunuh.

Ironisnya selain perseteruan antara ke dua kubu tersebut, di dalam kubu Ali sendiri terdapat perseteruan antar kelompok yang tak kalah hebohnya. Di satu sisi kelompok yang pro dengan Ali yang dinamakan Syi’ah dengan  kelompok sakit hati yang dinamakan Khawarij. Ke dua kelompok dalam tubuh Ali inilah yang sesungguhnya menjadi cikal bakal gerakan-gerakan Islam Radikal.

Akar Gerakan ISIS, Meneruskan Kembali Semangat Khawarij dan Al-Qaeda

Sebuah entitas kelompok boleh saja hancur, namun semangat yang disandang tidak akan pernah sirna. Hal tersebuat tercermin dalam gerakan ISIS yang meneruskan semangat Khawarijisme yang dikatakan sangat radikal pada zamanya.

Mereka dikatakan radikal di satu sisi karena merasa paling benar dalam memahami Islam sehingga menyalahkan bahkan mengkafir, musyrik, murtadkan kelompok yang di luar dirinya termasuk sahabatnya sendiri Syi’ah dan Ali. Di sisi lain mereka kecewa terhadap Ali karena menyetujui perjanjian damai dengan Muawiyah setelah kalah perang dengan kelompok Ali.

Mereka menamakan dirinya Khawarij setelah mendeklarasikan bahwa mereka keluar dari kubu Ali. Dari sisni terlihat jelas bahwa Islam sudah sarat dengan praktek-praktek politik. Terjadinya pemberontakan, pembunuhan, peperangan tidak lain hanya karena masalah siapa yang pantas menduduki kursi kepemimpinan, padahal Islam bukan hanya terfokus pada politik, melainkan Islam adalah rahmat atau kasih sayang bagi semesta alam.Maka sangat dilarang kiranya apabila ada seseorang yang mengaku Muslim tetapi hobi dan kerjaanya hanya membunuh dan menyalahkan orang lain.

Karakter seperti itu –fanatis, radikalis, fundametalis, sampai berujung pada pembunuhan− sampai sekarang masih melekat di sebagian umat Muslim di seantero dunia ini. Sebelum terbentuknya Al-Qaeda dan ISIS, karakter keras di atas termanifestasi dalam gerakan Ikhwan Al-Muslimin (IM) di Mesir yang didirikan oleh Hasan Al-Bana.

Gerakan tersebut muncul karena keprihatinan mereka terhadap umat Islam yang selalu saja tertinggal dalam segala hal akibat kolonisasi barat dan terutama Soviet yang Sosialis dan Komunis. Oleh karena itu Al-Bana –yang terkenal pintar dan cekatan− dengan di dorong oleh pemuda-pemuda Islam agar supaya bergerak mengambil langkah konkrit terkait kondisi masyarakat Islam yang tak tentu arah.

Dari terbentuknya IM inilah banyak memunculkan sayap-sayap. Ada yang moderat yang hanya sebatas menjaga Islam dan ada yang radikal yang mempunyai misi didirikanya Negara Islam.

Kelanjutan dari misi tersebut diteruskan oleh ISIS yang merupakan transformasi dari Al-Qaeda di Iraq pimpinan Aiman Azawahiri. Tentu saja setelah tragedi penabrakan pesawat ke gedung WTC di Ameraika atau biasa kita sebut dengan tragedi 11 september 2001 dengan dakwaan ditujukan pada kolompok Al-Qaeda, dengan seketika mereka bungkam dan tidak menjalani aktivitas serta agenda seperti biasanya.  

Bukan berarti sikap senyap meraka menandakan bubarnya kolompok, akan tetapi ihwal tersebut dimanfaatkan untuk membetuk kelompok baru yang akan jauh lebih besar dan lebih ekstrim. Hal tersebut terbukti di masa sekarang dengan bermunculanya para ekstrimis yang jauh lebih radikal yang tergabung dalam ISIS (Islamic State of Iraq and Suriah).

Anak Kandung Amerika

Bukti nyata yang mengatakan bahwa antara ISIS dengan Amerika telah bersekutu bisa kita lihat dalam bukunya Reno Muhammad dengan judul “ISIS (Kebiadaban Konspirasi Global)” pada halaman 35. Di situ disebutkan bahwa Mantan Pegawai National Security Agency (Badan Keamanan Nasional) Amerika Serikat , Edward Snowden, menyatakan jika ISIS merupakan organisasi bentukan hasil kerja sama intelijen tida negara.

Menurut Snowden, satuan intelijen Inggris (M16), AS (FBI-CIA), dan Israel (Mossad) bekerja sama menciptakan sebuah “negara kekhalifahan” yang kini bernama ISIS. Apa yang dikatakan Snowden tersebut bisa dirujuk silang pada bocoran dari Hillary Clinton di tautan ini: http://youtube/NsZg_maF0ow:USA Created Al-Qaeda.

Menurut Snowden, badan intelijen dari tiga Negara tersebut membentuk sebuah organisasi teroris untuk menarik semua ekstrimis dari seantero dunia. Mereka menyebut taktik tersebut dengan nama “sarang lebah”. Taktik tersebut dibuat demi melindungi kepentingan Zionis dengan menciptakan slogan Islam, dan demi menempatkan semua ekstrimis dalam satu tempat yang sama, sehingga mudah dijadikan target.

Tak hanya itu, adanya ISIS akan memperpanjang ketidakstabilan di Timur Tengah. Dalam dokumen NSA yang dirilis Snowden menyebutkan bahwa Al-Baghdadi –pimpinan ISIS yang sekarang− mendapatkan pelatihan militer satahun penuh dari Mossad, sekaligus mendapatkan kursus teologi dan retorika dari lembaga intelijen zionis itu.

Terlepas dari aksi-aksi yang dilancarkan ISIS, pada hakikatnya yang menggerakan mereka adalah Amerika. Banyak faktor yang melatar belakangi pembentukan kelompok tersebut oleh AS, diantaranya usaha unutk menjatuhkan rezim Basar Al-assad yang Syi’ah.

Karena ketidaksukaanya terhadap Syiah sama seperti ketidaksukaanya terhadap komunis, Nampak dalam sekte dan partai tersebut unsur revolusioner yang tergambar dalam sosok Imam Khomaeni di Iran dan Lenin di Rusia yang bakal menghalangi target pencapaian AS. Oleh karena itu AS menggunakan setrategi yang sangat jitu, yaitu memperalat orang-orang Muslim yang Sunni dengan mempersenjatainya demi menggulingkan rezim yang tidak disukai.