47566_84781.jpg
Ekonomi · 6 menit baca

Akankah Rezim Proteksionisme Kembali Tumbuh Subur?

Dampak dari aksi proteksionis Amerika tampaknya mulai mengemuka. Hal ini dapat dilihat dari berita yang dirilis oleh Bloomberg yang menyebutkan bahwa pertumbuhan lowongan kerja lebih banyak ketimbang pertumbuhan pengangguran. Hal ini dapat menjadi sinyal bahwa pengangguran akan segera berkurang di Amerika Serikat.

Namun, di satu sisi, Bloomberg membawa berita lain mengenai menurunnya penyerapan lapangan pekerjaan di sektor pertanian. Media lain menyebutkan aksi proteksionisme Amerika Serikat atas pasar luar negeri akan dibalas melalui perang tarif oleh berbagai negara.

Ketika hal ini terjadi, akankah proteksionisme Amerika terus berlanjut ataukah perang tarif akan meruntuhkan aksi proteksionisme Amerika? Apa yang sebenarnya dapat terjadi?

Agaknya pertanyaan ini kembali layak untuk mengemuka dan mendapatkan tempat di berbagai forum internasional. Penulis akan mencoba mengemukakan beberapa topik pembahasan yang belakangan ini sepertinya telah mengkhianati nilai-nilai dari tesis perdagangan bebas yang menjadi postulat kesejahteraan dunia internasional akibat beberapa hal.

Di satu sisi, penulis mengakui memiliki beberapa pandangan yang berbeda dan dikecualikan akibat beberapa hal yang penulis terapkan pada kondisi beberapa negara—dan dalam hal ini Indonesia diakibatkan tidak cukupnya kondisi tersebut untuk berlaku di Indonesia serta pemerintah Indonesia sendiri tidak memiliki kondisi yang layak untuk melaksanakannya dengan bijak. Hal ini akan coba penulis ulas di akhir tulisan.

Diskusi proteksionisme menjadi menarik mengingat berbagai negara kembali merangkai ulang berbagai peraturan dagang yang sebenarnya menjadi syarat kesejahteraan internasional.

Perdagangan Bebas dan Kesejahteraan Internasional

Data dan fakta menunjukkan bahwa negara dengan tingkat perekonomian yang semakin terbuka memiliki hubungan positif dengan tingkat pertumbuhan ekonomi (2015 Economic Freedom: Promoting Economic Opportunity and Prosperity oleh Terry Miller dan Antony B. Kim). Negara-negara yang memiliki hubungan perdagangan tanpa hambatan ataupun dengan hambatan yang sangat sedikit disebut-sebut memiliki tingkat kesejahteraan yang cukup tinggi.

Lebih lanjut, perdagangan yang bebas tarif maupun hambatan, berhasil meningkatkan arus perdagangan dunia, juga disebut tidak hanya berdampak pada meningkatnya kesejahteraan, namun juga turut mengentaskan kemiskinan di berbagai negara melalui penciptaan kesempatan memeroleh berbagai komoditas dengan harga yang lebih terjangkau serta arus modal yang kian masif.

Hal ini dinilai lantaran perdagangan bebas memicu tumbuhnya berbagai pekerjaan di berbagai negara di seluruh dunia dan pada akhirnya meningkatkan arus perdagangan antarnegara.

Perdagangan internasional, yang menunjukkan terjadinya hubungan perdagangan antar-negara—baik intra-kawasan maupun antar-kawasan—serta terbukanya sistem perdagangan negara-negara yang terlibat, juga mendorong terwujudnya peningkatan pertumbuhan ekonomi tiap negara. Perdagangan internasional dianggap mampu mengefisienkan produksi dengan adanya kompetisi serta spesialisasi perdagangan sehingga menurunkan biaya produksi. 

Tercapainya produksi yang efisien kemudian meningkatkan kesejahteraan negara-negara yang melakukan perdagangan internasional, mengingat, tiap komoditas dapat diperoleh dengan biaya yang lebih terjangkau.

Dalam rangka menyokong perdagangan internasional lebih baik lagi, Viner (1950 dalam Hosny:2013) sebenarnya telah jauh hari merumuskan teori perdagangan internasional sebagai fondasi teori pertumbuhan ekonomi suatu negara dengan mengandalkan perdagangan internasional. Beliau menyarankan adanya integrasi kawasan yang dapat memacu pertumbuhan ekonomi melalui trade creation.

Trade creation tercipta ketika berbagai hambatan serta tarif di kawasan dihilangkan sehingga mendorong ekspor lebih jauh dan pada akhirnya menyerap tenaga kerja dan menciptakan kesejahteraan (Hosny:2013).

Balassa juga merupakan akademisi yang memperkenalkan integrasi kawasan di samping Viner. Beliau memperkenalkan tahap integrasi kawasan sebelum mencapai integrasi yang paripurna, serta turut memperjelas perbedaan antara integrasi kawasan dengan kerja-sama kawasan.

Hal yang disebutkan oleh Viner tersebut kemudian berkembang atau menjadi tesa kesimpulan berdirinya MEE (Masyarakat Ekonomi Eropa) dan NAFTA (North-America Free Trade Area). Berbagai perjanjian kemudian dibentuk dalam rangka mendorong perdagangan intra-kawasan.

Di NAFTA, berbagai perjanjian seperti bebas-mengalirnya beberapa komoditas barang guna mendorong perekonomian kawasan—walaupun berjalannya agenda tersebut memiliki dampak ganda seperti merugikan beberapa pihak dan menguntungkan pihak lainnya dikarenakan berbagai asumsi tidak dijalankan dengan benar—sedangkan di sisi yang lain kawasan bebas perdagangan intra-kawasan Uni-Eropa menjanjikan bebasnya pergerakan pekerja serta barang guna mendorong aktivitas ekonomi.

Azis menduga bahwa hal ini akan mendorong aktivitas perekonomian hingga 150% hingga 300% akibat bebasnya tarif dan berbagai hambatan. Sayangnya, aksi tarif dan hambatan perdagangan oleh Amerika Serikat serta keluarnya Inggris dari Uni-Eropa menunjukkan aksi proteksionisme kedua negara tersebut. Akankah rezim proteksionisme dapat kembali tumbuh subur?

Bangkitnya Kembali Rezim Proteksionisme

Di Amerika Serikat, laporan Bloomberg menyatakan bahwa pertumbuhan pekerjaan yang tersedia bervariasi mulai dari 65 ribu hingga 6,698 juta lapangan pekerjaan yang awalnya hanya 6,633 juta lapangan pekerjaan. Sedangkan penyerapan tenaga kerja meningkat dari 5,486 juta menjadi 5,578 juta dengan persentasi dari 3,7% menjadi 3,8% penyerapan tenaga kerja.

Singkatnya, laporan tersebut memberitakan bahwa terdapat gap jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia lebih besar dibandingkan pertumbuhan tenaga kerja sehingga jumlah pengangguran mengalami minus. Hal ini didorong oleh aksi Trump dengan gerakan pro-Amerikanya yang mendorong gerakan “Dari Amerika untuk Amerika” yang menginginkan produksi kembali ke Amerika untuk menyerap tenaga kerja lokal. Akankah trend ini terus terjadi?

Di sisi yang lain, pasca krisis Yunani yang mengguncang Uni-Eropa, Brexit membuat Inggris terus meningkatkan aksi proteksionismenya. Sebuah hal yang sayangnya, bagi warga negara Inggris, banyak ditentang karena diduga akan lebih banyak merugikan warga negara Inggris.

Laporan yang dirilis oleh Project Syndicate menyebutkan bahwa pengetatan impor yang dilakukan oleh Inggris terhadap Uni-Eropa akan merugikan Inggris sendiri. Data yang ditelusuri oleh penulis juga menunjukkan defisitnya perdagangan Inggris ke seluruh negara dalam perdagangannya menegaskan proteksi yang dilakukan oleh Inggris Raya.

Data menunjukkan perdagangan dan ketergantungan Inggris Raya terhadap Uni-Eropa meningkat dari tahun ke tahun berturut-turut US$ -83.634.647.618 untuk tahun 2014, US$ -91.420.340.445 untuk tahun 2015, dan US$-118.565.918,1 untuk tahun 2016. Sedangkan masing-masing untuk Asia Tenggara dan Asia Besar (China, Australia, Jepang, Korea Selatan, dan Jepang) mengalami peningkatan dan untuk NAFTA mengalami penurunan walaupun secara tidak signifikan. Sedangkan perdagangan Amerika terhadap NAFTA turun namun tidak begitu signifikan terjadi pergeseran impor Amerika terhadap Asia Besar dan Asia Tenggara.

Laporan Project Syndicate lebih lanjut memberikan petunjuk bahwa ketergantungan impor Inggris terhadap Uni-Eropa memberikan sinyalemen bahaya. Perang tarif, kuota dan hambatan dapat memengaruhi bagaimana harga yang diterapkan terhadap Uni-Eropa terhadap Inggris. Terlebih setelah Inggris memilih keluar dari Brexit, Inggris Raya tidak memiliki lagi jaminan dan kuasa terhadap tarif dan hambatan yang dapat menciptakan inflasi di Inggris.

Amerika dan Inggris sama-sama bergantung dengan harga dari luar negeri. Jika ekspor dapat menciptakan ketergantungan ekonomi dari luar negeri terhadap dalam negeri, maka impor neto (neraca defisit) yang dialami oleh kedua negara dapat menciptakan inflasi hebat bagi kedua negara. Sayangnya, kedua negara belakangan ini memilih jalan proteksionisme.

Rezim Proteksionisme di Era Perdagangan Bebas Tidak akan Berlangsung Lama 

Postulat dari kesejahteraan suatu negara ialah keterbukaan. Negara yang memiliki tingkat keterbukaan yang tinggi ditengarai akan memiliki kesejahteraan yang besar pula. Hal ini diakibatkan oleh aksi suatu negara yang terbuka akan dibalas oleh keterbukaan oleh negara lain pula.

Aliran barang dalam perdagangan akan mengalir lancar tanpa hambatan, tarif, dan kuota yang juga merupakan tujuan dari perdagangan bebas dalam mendorong pertumbuhan ekoomi bangsa-bangsa. Sayangnya, belakangan ini dirusak oleh aksi Amerika dan Inggris Raya.

Hal tersebut diklaim dalam rangka untuk memproteksi pasar dalam negeri kedua negara tersebut. Yang sebenarnya, alih-alih melindungi pasar dalam negeri, ia melindungi berbagai produsen yang tidak efisien namun merugikan berbagai konsumen.

Contoh yang serupa dapat kita temukan sebagaimana Olsson (dalam Bhagwati: 1988) memberikan contoh yang baik: bahwa proteksionisme memberikan keuntungan kepada sedikit orang dengan jumlah besar namun merugikan banyak orang dalam jumlah kecil: sehingga sulit merasakan dampaknya bagi banyak orang walaupun secara relatif dampaknya lebih besar dan lebih merugikan kepada publik yang lebih luas.

Aksi Amerika Serikat yang belakangan melakukan aksi proteksionisme sebenarnya berada dalam rangkaian panjang dalam Bhagwati (1988). Fenomena ini disebutkan sebagai “Raksasa Lumouh”. Sebuah fenomena dimana negara-negara besar termasuk Inggris Raya dan Amerika Serikat mulai kehilangan pangsa pasar dalam perdagangan internasional yang dulunya dikuasainya.

Dari tahun ke tahun, data menunjukkan bahwa terjadi penurunan pangsa pasar ekspor AS dan Inggris Raya yang bergeser ke Asia Besar serta Asia Tenggara karena efektivitasnya. Lebih jauh, kekuatan apresiasi mata uang, kekuatan ekonomi negara-negara besar itu sendiri yang membuatnya lebih kuat untuk mengimpor alih-alih mengekspor.

Kuatnya mata uang kedua negara tersebut menyulitkan negara-negara lain untuk melakukan impor dari kedua negara tersebut. Terlebih, lemahnya mata uang negara-negara dunia ketiga membuatnya lebih difavoritkan sebagai sumber impor.

Saya menduga, aksi proteksionisme Amerika Serikat dan Inggris Raya tidak akan bertahan lama. Termasuk dampak positif dari proteksionisme yang dilakukannya. Hal ini diakibatkan aksi proteksionisme tersebut akan mendorong inflasi dalam negeri akibat mahalnya biaya produksi dalam negeri serta aksi balasan dari berbagai negara mitra dagang terkait proteksi “quid pro quo”.

Mahalnya memang belum sekarang. Dampak dari aksi memang tidak selalu datang sekarang. The bills come later. Masih ada waktu sebelum inflasi membuyarkan euforia Inggris dan Amerika Serikat. Masih ada waktu pula sebelum inflasi meluluhkan aksi cowboy Trump. Tepat setelah tarif, kuota, dan hambatan berlangsung oleh negara-negara mitra dagang.