Hubungan Nahdlatul Ulama (NU) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sesungguhnya agak berbeda dibanding hubungan Muhammadiyah dan PAN.

Sejak KH. Yahya Cholil Staquf terpilih menjadi ketua umum PBNU, beredar anggapan jika NU akan mengikuti langkah Muhammadiyah untuk "memperketat" organisasi agar tidak terbawa ke satu arus politik tertentu.

Anggapan itu berdasar atas statement Gus Yahya sendiri dalam berbagai wawancara di media, bahwa ia ingin NU sebagai Jam'iyah (organisasi) lebih kuat, karena menurutnya selama ini NU yang berkembang di daerah-daerah itu lebih sebagai jamaah atau komunitas kultural.

Agaknya Gus Yahya melihat adanya kelonggaran yang membuat organisasi sebesar NU akhirnya menjadi sasaran empuk terutama untuk politik elektoral.

Sebut saja sementara ini, partai politik yang paling menikmati hal tersebut adalah PKB, yang dalam narasinya kerap disebut anak kandung NU.

Namun agaknya PBNU akan menghadapi tantangan yang tak mudah dalam "mendisiplinkan" organisasi jika melihat relasi historis NU dan PKB.

Geneologi politik NU

Jika kita bedah dalam sejarah, NU dan PKB memiliki relasi yang sangat intim, dibanding misal Muhammadiyah dan PAN.

Dahulu kerap ada istilah, PKB partainya NU dan PAN partainya Muhammadiyah, merujuk pada dua figur di dalamnya yaitu Gus Dur dan Amien Rais.

Peristiwa pelengseran Gus Dur semakin menguatkan "rivalitas ideologis" antara keduanya.

Padahal, PAN didirikan oleh banyak tokoh sebagai partai nasionalis-moderat, yang mana Amien Rais sebagai salah satu tokoh yang disokong ke permukaan.

Karena kuatnya ketokohan Amien Rais di Muhammadiyah lah, PAN kemudian disokong oleh pimpinan dan kader Muhammadiyah, terutama pendirian DPD dan DPC di daerah-daerah.

Selain dukungan dari Muhammadiyah, tentu ada elemen lainnya. Namun yang perlu digaris bawahi adalah PAN tidak didirikan oleh Muhammadiyah, di samping karena secara organisasi tidak memungkinkan.

Hal ini berbeda dengan PKB yang memang digagas dan didirikan oleh Kyai dan Ulama Nahdlatul Ulama sebagai aspirasi politik warga Nahdliyin.

Melihat dua hal di atas perlu juga mempertimbangkan kultur kedua ormas yang memang berbeda. Termasuk merepresentasi figur-figurnya.

Amien Rais ketika akan masuk ke gelanggang politik harus memilih antara tetap di Muhammadiyah atau mundur, dan ia memilih mundur lalu digantikan Buya Ahmad Syafii Maarif.

Namun NU, dengan kultur pesantren dan Kyainya yang kuat, maka tak keliru jika PKB memang partai yang dibentuk dan didirikan oleh dan untuk warga Nahdliyin.

Semakin diperkuat oleh sejarah bahwa NU pernah menjadi partai politik sejak pemilu 1955 dan mendulang suara cukup besar bersaing dengan PNI dan Masyumi.

Lalu NU kembali ke khittah 1926. Namun ketika orde baru lengser, kemungkinan untuk membentuk partai politik terbuka lebar, NU tidak mungkin menjadi parpol, maka PKB kemudian didirikan.

Relasi Ormas dan Partai Politik

Dalam perjalanannya, relasi ormas dan partai politik mungkin menjadi refleksi tersendiri.

Ormas dianggap punya nilai tawar karena memiliki basis massa yang banyak, apalagi NU. Secara kultural, NU tak bisa dipungkiri lagi sebagai ormas dengan massa kultural terbanyak.

Kondisi seperti itu ternyata tidak selalu menguntungkan organisasi. Apalagi organisasi yang berdiri sejak sebelum negara Indonesia terbentuk.

Ada semacam pemanfaatan basis massa dan ternyata tak memberikan dampak positif bagi ekosistem di dalam organisasi, apalagi organisasi dakwah.

Organisasi besar dan lebih tua dari negara dianggap kehilangan marwah karena kerap dijadikan alat kepentingan kekuasaan oleh oknum partai politik.

Padahal seharusnya organisasi yang lebih tua itulah yang menuntun pemerintah agar melahirkan kebijakan-kebijakan untuk kemaslahatan bangsa, namun yang terjadi justru sebaliknya.

Hal yang mungkin juga dirasakan Muhammadiyah ketika terlalu identik pada satu parpol tertentu, sehingga memilih moderat dan memberikan kebebasan bagi kader untuk berafiliasi ke parpol manapun dengan syarat harus melepaskan jabatan pada tingkat pimpinan di Muhammadiyah mulai dari pusat hingga ranting.

Namun perlu diingat jika Muhammadiyah tidak memiliki basis kultural sebesar NU, sehingga pendisiplinan organisasi relatif lebih mudah.

Memang Muhammadiyah lebih tua sebagai organisasi dibanding NU, namun komunitas kultural atau Islam Tradisi yang saat ini identik dengan NU sudah eksis sejak abad ke-18.

###

Perang dingin yang tampak terlihat antara PBNU dan PKB belakangan bisa jadi karena Gus Yahya memang ingin menguatkan NU sebagai jam'iyah (organisasi).

Dalam proses tersebut mungkin akan berdampak pada pengetatan kelembagaan sehingga partai politik, termasuk PKB, tidak bisa lagi leluasa mengklaim sebagai partainya warga Nahdliyin.

Parpol lain yang mengincar suara warga Nahdliyin pun juga akan diperlakukan sama, namun itu justru semakin mempermudah karena NU akan lebih inklusif dalam hal politik.

Terlepas apakah ada keterkaitan masa lalu ketika terjadi dualisme di dalam PKB, dan kebetulan ketua umum PBNU adalah kader dekat Gus Dur, namun sebagai sebuah organisasi besar dan modern, hal itu memang harus dilakukan.

NU adalah aset bangsa dengan jejak kultural-historis panjang yang sebaiknya tidak dibaca dalam satu firm politik tertentu, apalagi firm politik kekuasaan. []

Blitar, 16 Juli 2022