Bagi kebanyakan orang, kata "Nona" adalah sebutan yang ditujukan kepada seorang gadis (dibaca: yang belum menikah). Namun dalam lingkungan pergaulanku, Nona adalah nama seorang gadis cantik nan jelita yang aku kenal ketika berkuliah di Jurusan Kebidanan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muslim Indonesia, Makassar.

Gadis yang tutur katanya begitu lembut, selembut kulitnya yang selalu ditempeli dengan handbody "Scarlet". Gadis dengan perawakan cantik; hidung mancung, alis tebal nan rapi, bibir yang merah merona dan tahi lalat hitam yang menempel pada dagu kanannya menambah ayu wajah cantiknya.

Awal Perkenalan dengan Nona

Pada saat itu, aku sedang berada pada semester empat bangku perkuliahan. Aku yang kala itu menjabat ketua tingkat mendapat pesan singkat dari nomor baru. kurang lebih isinya begini:

"Ini dengan Iis? Aku Nona, mahasiswa pindahan dari Pare-pare. Minta tolong dikabarin jadwal kuliahnya yah, aku ikut perkuliahan di kelas Bd1 semester ini. Makasih."

Itu adalah awal perkenalanku dengannya. Sampai saat kami diwisuda pada tahun 2014, kami belum terlalu dekat, hanya sekadar saling menyapa saja.

Tepat pada tahun 2015, kami pun dipertemukan kembali pada program studi S1 Kesehatan Masyarakat di kampus yang sama. Dari kelas Kespro angkatan 2015 inilah kami mulai akrab sampai akhirnya kami bersahabat. 

Dia dan seorang lainnya yang bernama Ayu akhirnya berangsur-angsur mengubah penampilanku yang urakan. Maklum, anak organisasi sibuk ngurusin umat yang nggak jelas.

Baca Juga: Jangan Menikah!

Kami tujuh orang bersahabat, di antaranya; Asti, Ita, Ayu, Imbob, Ririn, Nona, dan aku sendiri. Dari tujuh sahabat ini, hanya aku dan Nona yang belum berkeluarga.

Kegelisahan Nona sepanjang 2017-2018

Awal tahun 2017, Ayu dan Ririn melangsungkan pernikahan pada 8 dan 9 Januari, mengikuti Asti yang telah lebih dulu menikah pada akhir 2016. Kami semua hadir dalam pesta pernikahan mereka. Kami pun turut berbahagia dengan pernikahan keduanya.

Sampai akhirnya pada pertengahan 2017 aku memiliki seorang pacar. Sontak hal ini membuat mereka terkejut. Masa iya si Iis yang cuek tiba-tiba punya pacar?

Nona yang kala itu tengah putus cinta, dilanda syok berat. Sebab bagi mereka, kalau aku pacaran ataupun sejenisnya itu adalah kemustahilan.

Di tengah putus cinta yang menderunya, aku yang tengah asik menikmati biduk asmara mengantarkan Nona pada kegelisahannya. "Iis aja yang nggak cantik kok bisa laku ya? Masa gue nggak?" ungkapnya dalam hati.

Wajar saja kalau Nona sedemikian gelisahnya. Gadis dengan perawakan cantik dan bertubuh ideal, dengan tinggi 157 cm dan berat badan 50 kg serta berpenampilan menarik, dikalahkan oleh Iis yang urakan dan cuma sibuk ngurus organisasi saja.

Nona bukan tak laku, tapi ia teramat pemilih. Banyak laki-laki yang mendekatinya tapi begitulah dia, mencari sosok yang nyaman namun tak pasti.

Makin hari kegelisahan Nona makin bertambah. Di kala aku sering bercerita kepada mereka tentang pacar baruku ini, Nona pun makin gelisah.

Ayu menyahut, "Non, masa kalah dari Iis?"

Ita pun menambahkan, Iya, Non, masa cewek secantik dirimu ndak laku?"

Datang lagi Imbob yang menambah panas suasana hati Nona. "Iis aja yang loe ajarin match and balance laku, masa loe kaga' laku-laku? Gimana tuh?"

Sontak Nona menjawab, "Kalau Iis ngelambung gue naik pelaminan, hari ini juga gue merried ama om-om, gue siap," ungkapnya yang disambut gelak tawa kami dalam mobil.

Itulah puncak kegelisahan Nona di tahun 2017. Kegelisahan filosofis bagi perempuan millenial masa kini.

Tahun 2017 berlalu dengan penuh kehangatan dalam balutan persahabatan. Sampai kami pun diwisuda pada Desember 2017.

Tahun 2017 beranjak, memasuki awal tahun 2018, Nona balikan sama pacarnya. 

Tidak sampai di situ saja, kegelisahan Nona makin bertambah. Bagaimana tidak, teman-teman satu sekolah di SD (Sekolah Dasar), SMP (Sekolah Menengah Pertama), dan SMA (Sekolah Menengah Atas) satu per satu melepaskan masa lajangnya.

Alhasil, kami pun harus mendegar cerita Nona yang sudah mulai waswas karena tidak kunjung dilamar.  Ditambah lagi dengan Imbob yang melangkahkan kaki menuju pelaminan pada Mei 2018, disusul Ita pada awal Juni 2018.

Makin gelisahlah kawan aku yang satu ini. Lampu merah sudah menyala untuk Nona. Semua anggota geng sudah naik pelamina, tersisa dia seorang dengan aku.

Penolakan Nona terhadap beberapa lamaran di sepanjang tahun 2018 membuatnya makin gelisah. Tuhan pun belum menghendaki ia dilamar sang pacar yang mati-matian dipertahankan.

Menuju Penyelesaian Kegelisahan

Pada 2019, kami menyempatkan untuk reunian. Untuk sekadar bertemu dan ngumpul bareng lagi memang agak susah. Maklumlah, kebanyakan dari kami sudah berkeluarga.

Alhasil, kami merencanakan reunian dengan matang. Tujuannya tidak lain untuk sekadar membayar rindu. Rindu ngerumpi bareng, rindu ngemall bareng, rindu tidur bareng sambil bergosip ria.

Akhir tahun 2019, aku berjumpa dengan Nona, tepatnya di kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Nona memberikan oleh-oleh yang ia bawa dari Negeri Jiran. Sebuah lipstik model ink crayon merek Maybelline yang belum beredar di Indonesia.

Alasan sederhananya memberikan lipstik padaku adalah, keinginannya untuk melihat wajahku merona dalam balutan warna lipstik agar aku segera menemukan jodoh.

Aku sekadar mengelak, "Kirain kalo gue duluan naik pelaminan loe bakalan nikahin om-om." Disambut tawa Nona yang sudah tak segelisah dulu membahas pernikahan.

Aku lantas bertanya, "Non, Gon kapan ngelamar?"

Ia pun menjawab, "Kemungkinan awal 2020."

"Kalo nggak 2020, gimana?" timpalku.

"Ya gue harus move on, toh gue juga udah lama nunggu. Belum lagi orang rumah udah ngomel. Tahun ini udah berapa kali gue nolak lamaran," tukasnya.

"Ya udah, gue doain loe cepat naik pelaminan. Dari pada gue ngelambung, terus loe yang nyesek nantinya."

Kami pun larut dalam tawa pada pertemuan kali ini, sampai kami lupa hari sudah memasuki malam.

Ke Mana Langkah Membawa Nona pada 2020 ini?

Akhir 2019, Nona melebarkan sayapnya dalam dunia bisnis. Ia mulai mencoba peruntungan pada bisnis make up dan fashion, setelah sebelumnya ia tekun menggeluti bisnis furniture selama dua tahun.

Kali ini Nona membuka jasa titipan (jastip) barang-barang bermerek dari luar negeri. Maklum, dia suka jalan-jalan.

"Sekalian aja ngambil untung dari pada jalan-jalan doang, mending sekalian buat bisnis," tukasnya pada pertemuan terakhir kami tahun lalu.

2020 ini, langkah kaki membawa Nona pada peruntungan bisnis online shop-nya. Sekaligus memberi Nona lebih banyak ruang untuk fokus pada karier dan masa depannya.

Persoalan jodoh, Nona masih menunggu ke mana takdir akan membawanya berlabuh pada 2020 ini. Semoga Tuhan berkehendak membawa Nona pada takdir terbaiknya di tahun ini.

Ini adalah doa tulus dari sahabat yang menyebalkan tapi jauh di lubuk hati sangat menyayanginya. Semoga tahun ini Tuhan berbaik hati membawa langkah Nona dan Nona yang lainnya di luar sana kepada kebaikan yang dikehendaki.