Kesadaran (consciousness) manusia merupakan objek pemikiran dan penelitian yang sampai sekarang teka-tekinya masih belum terpecahkan sepenuhnya. 

Gabungan gagasan filsuf-filsuf Yunani ratusan tahun silam dan kajian peneliti-peneliti ilmu saraf terkini masih tidak cukup dalam memberikan definisi yang kokoh untuk kata “kesadaran” dan menjelaskan bagaimana milyaran sel saraf di otak yang bersifat material dapat berakumulasi menjadi apa yang kita sebut sebagai kesadaran, sebuah konsep yang seolah-olah tidak lagi berada di ranah material.

Walaupun begitu, kita tahu sesuatu yang pasti mengenai kesadaran, yakni bahwa kesadaran lahir dari proses evolusi dan seleksi alam (natural selection). Teori evolusi menegaskan bahwa manusia pada dasarnya merupakan ikan yang belajar berjalan di daratan dan bahwa kesadaran tidak selalu ada dalam diri manusia. 

Pada suatu titik di atas garis sejarah Homo sapiens (atau mungkin spesies sebelumnya), seleksi alam menyebabkan gen-gen di dalam tubuh leluhur kita tersebut untuk menurunkan kombinasi gen baru yang “menghidupkan” kesadaran spesies kita untuk pertama kali.

Kemunculan kesadaran ini adalah titik balik yang signifikan dalam sejarah manusia. Terlahirnya kesadaran untuk pertama kali pada leluhur kita bisa diibaratkan sebagai jatuhnya domino pertama dalam barisan domino yang semakin besar ukurannya ke belakang dan memulai era baru bagi kehidupan di planet Bumi (dan mungkin di seluruh alam semesta). 

Sama seperti bagaimana domino pertama menjadi pemicu jatuhnya domino-domino raksasa pada ujung barisan, kesadaran manusia menjadi penggerak pertama dalam melahirkan seluruh aspek fondasi peradaban manusia seperti filosofi, seni, kebudayaan, militer, teknologi, politik, agama, dan ekonomi.

Apapun definisinya dan bagaimana pun cara kerjanya, kesadaran terbukti merupakan produk termutakhir yang pernah tercipta dalam proses evolusi.

Dari pernyataan barusan, pertanyaan yang logis untuk diajukan selanjutnya adalah: Bagaimana selanjutnya? Apakah kesadaran adalah produk akhir dari evolusi? Atau apakah evolusi masih berpotensi menciptakan sesuatu yang jauh lebih hebat dibandingkan kesadaran?

Meskipun kita masih belum mengerti apa itu kesadaran, pertanyaan-pertanyaan di atas merupakan sesuatu yang pantas diajukan. Kita tidak perlu memahami sepenuhnya kesadaran untuk dapat menggunakannya dan salah satu kakas mental yang diberikan oleh kesadaran adalah kemampuan untuk memprediksi masa depan, menganalisis masalah, dan menyusun rencana untuk menyelesaikannya – seperti yang sedang kita lakukan saat ini.

Ketika saya mengatakan “sesuatu yang lebih hebat dibandingkan kesadaran,” yang saya maksud bukan sembarang produk evolusi, melainkan sesuatu yang bisa dikatakan setara dengan kesadaran. Mari kita sebut evolusi semacam itu sebagai “evolusi kesadaran”. 

Spesies manusia tentu saja masih bisa berevolusi di masa depan, misalnya jika suatu saat seluruh daratan di planet Bumi tenggelam, mungkin saja manusia masa depan akan mempunyai sirip atau selaput di kulitnya. Akan tetapi, evolusi semacam ini tidak setara dengan kesadaran, maka evolusi ini bukan termasuk “evolusi kesadaran”.

Mengidentifikasi “sesuatu” ini merupakan tugas yang sepertinya mustahil pula karena spesies yang berhasil menemukan “evolusi kesadaran” akan menjadi spesies yang sepenuhnya berbeda dari sebelumnya. 

Ini sama halnya seperti meminta simpanse untuk memahami cara kerja bursa saham Wall Street atau sandiwara Shakespeare. Kita tidak akan tahu sampai mendapatkannya.

Mari kita mulai menjawab persoalan tersebut. Pertanyaan utamanya adalah: “Apakah kesadaran adalah produk akhir dari evolusi?”. Ada dua jawaban yang mungkin untuk pertanyaan ini, yakni Ya dan Tidak. Mari kita bahas kedua kemungkinan ini sebagai Skenario A dan Skenario B.

Pada Skenario A, yakni bahwa Ya, kesadaran betul adalah produk akhir dari evolusi, kita dapat mengatakan bahwa evolusi sudah menyelesaikan tugasnya ketika “menghidupkan” kesadaran manusia. 

“Evolusi kesadaran” masih bisa terjadi untuk spesies selain manusia, seperti hewan dan tumbuhan, tetapi kita bisa yakin bahwa spesies tersebut tidak akan melebihi manusia. Jika suatu saat di masa depan, misalnya, spesies kucing menjadi makhluk sadar, kita mungkin dapat membangun hubungan mutualisme dan kajian intelektual interspesies tentang filosofi bola rambut kucing. 

Tidak ada salah satu spesies, baik manusia maupun kucing, yang lebih superior dibandingkan satu sama lain dari sudut pandang evolusioner.

Walaupun “evolusi kesadaran” tidak akan terjadi lagi pada Skenario A, manusia masih dapat berkembang melalui peradaban yang telah dibangunnya. Seperti yang diramalkan oleh Yuval Noah Harari, dalam bukunya Homo Deus, teknologi seperti kecerdasan buatan, genetika, bioengineering, dan robotik sudah menjelma menjadi kotak Pandora yang mungkin dapat merevolusi spesies manusia menjadi spesies manusia super. 

Masalah ini sekarang tengah mengundang debat etika dan moral yang mungkin akan lebih fundamental dan filosofis dibandingkan perdebatan mengenai bom atom pasca Perang Dunia Kedua.

Beralih ke Skenario B, yakni bahwa Tidak, kesadaran bukanlah produk akhir dari evolusi dan masih ada “evolusi kesadaran” kedua, atau bahkan ketiga, yang menunggu di jalur evolusi. 

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, mustahil bagi kita untuk memprediksi “evolusi kesadaran” macam apa yang akan muncul, tapi kita dapat mencoba untuk membayangkan implikasinya.

Mari berimajinasi sedikit untuk hal ini. Misalkan, bahwa “evolusi kesadaran” selanjutnya memungkinkan manusia untuk memproses informasi otak dalam kecepatan dan skala yang masif, yang secara praktis memungkinkan manusia untuk memprediksi kejadian di masa depan. 

Bagi manusia baru ini, mengetahui apa yang akan dikatakan oleh istrinya pada pukul 21.15 pada hari Selasa depan mungkin merupakan persoalan sepele dan dapat diselesaikan sambil menggosok gigi di pagi hari. Di dunia baru tersebut, manusia lama akan terlalu lambat untuk dapat bekerja dan bertahan hidup.

Tentunya ini hanya contoh yang asal dan mungkin akan jauh dari kenyataan. Akan tetapi, faktanya hal seperti inilah yang terjadi jutaan tahun lalu ketika manusia mendapatkan kesadarannya dan sampai sekarang mendominasi seluruh spesies lain yang ada di Bumi. 

Seperti spesies mamut yang tidak punya waktu untuk beradaptasi terhadap manusia purba, mungkin suatu saat kita juga tidak akan sempat untuk mempersiapkan diri terhadap kedatangan spesies manusia baru yang mendapatkan “evolusi kesadaran” keduanya.

Kedua analisis skenario kita tadi sepertinya berujung kembali kepada prinsip paling dasar dari seleksi alam, yakni survival of the fittest. Seratus atau seribu tahun dari sekarang, spesies manusia akan berbeda jauh dari kita sekarang. 

Apakah spesies manusia suatu saat akan punah atau, entah bagaimana caranya, kita akan tetap lestari hingga ratusan atau ribuan tahun ke depan. Tidak ada yang tahu.

Pemahaman manusia mengenai evolusi, kesadaran, dan masa depan sayangnya masih jauh dari kata sempurna. Mungkin suatu saat nanti.