Pada dasarnya manusia mengatur dirinya, manusia membuat peraturan, untuk itu manusia mengatur alam dan ia membuat aturan untuk mengurus dirinya dan alam berdasarkan manusia itu sendiri.

Manusia adalah sentral segalanya. Jadi, wajar jika manusia mengenali siapa manusia itu sebenarnya. Socrates (470-399 SM).

Masalah yang kecil bisa saja menjadi besar dalam dunia ini dan ketika keputusan hanya berpijak dari yang berkuasa apalah daya orang yang menjadi korban didalamnya.

Sebuah argumen saling beradu mencari kemenangan diantara mereka, yang berkuasa atas jabatan  itulah yang menang.

Tanpa sedikit pun melihat kebawah, mereka hanya bisa menyaksikan dengan kedendaman yang tak bisa di ucapkan.

Apabila semua ini terjadi akan kah negeriku hancur ?


MIRAS DI LEGALKAN

Alodokter mengemukakan mengonsumsi miras (Minuman keras) bukanlah tanpa resiko, apalagi jika sering dan secara berlebihan hingga mabuk.

Miras sangatlah berbahaya ketika seseorang yang tidak pernah mencoba miras, akan terbawa dan tercandu karena faktor lingkungan yang mendukungnya untuk meminum minuman keras.

Orang-orang yang sudah tercandu akan mengalami penurunan konsentrasi dan kehilangan kendali diri dan timbullah perilaku-perilaku yang tidak sepantasnya dilakukan.

Pembunuhan dan pencabulan akan sering terjadi dimana-mana, karena mengonsumsi minuman keras secara berlebihan justru dapat menyebabkan depresi berat.

Penelitian menunjukkan bahwa orang yang sering mabuk memiliki resiko lebih tinggi untuk bunuh diri dan mengalami gangguan kecemasan.

Untuk itu ketik miras di legalkan maka akan timbul lah kekacauan yang dapat mengakibatkan kehancuran dan kekerasan yang tidak bisa dikontrol dengan mudah,

Jagalah negrimu karena kamu lahir di atas negri yang kau pijak ini, kerusakan atau kegembiraan semuanya berada di tangan mu


AJARAN AGAMA DIANGGAP KUNO

Orang Yunani, lebih kurang 600 tahun sebelum Masehi telah menyatakan bahwa pendidikan ialah usaha membantu manusia menjadi manusia.

Yang berarti seseorang dapat dikatakan telah menjadi manusia bila telah memiliki nilai (sifat) kemanusiaan. Itu menunjukan bahwa tidaklah mudah menjadi manusia.

Agama di dalam KBBI adalah sebuah ajaran, atau sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan pribadatan kepada tuhan yang maha kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta manusia dan lingkungannya.

Apa jadinya apabila ajaran agama di hapus di setiap sekolah?

Agama mengajarkan kita untuk selalu ikhlas dengan keadaan apapun.  Memang agama merupakan pedoman hidup yang penting bagi manusia.

Karena agama akan mengajarkan manusia untuk selalu berbuat kebaikan. Selain itu agama akan membuat kita terhindar dari kesesatan.

Setiap agama mengajarkan tentang arti segala kemanusiaan, terutama menjadi manusia yang manusiawi.

Apabila menghapus pelajaran agama artinya bukan saja pendidikan agama Islam 

Namun juga ada pendidikan agama Hindu, agama Budha, agama Konghucu, Kristen dan Katolik. 

Padahal Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa lingkungan sekolah memang bukan satu-satunya tempat anak-anak belajar

Termasuk perlunya belajar pendidikan agama.  

Karena masih ada pendidikan di lingkungan keluarga yang pertama dan utama menenamkan karakter anak, dan juga pendidikan di lingkungan masyarakat.

"Ki Hajar menyebutnya dengan istilah ‘Tri Pusat Pendidikan"

Artinya, pendidikan agama sejatinya memang diajarkan di semua ranah, yaitu di keluarga, di sekolah dan di masyarakat.


LEBIH MENCINTAI PRODUK LUAR NEGERI

Pada dasarnya sebuah negeri mempunyai kelebihannya masing-masing, seperti Negara Indonesia salah satu kelebihannya yaitu negara maritim terbesar di dunia, Negara kepulauan terbesar di dunia.

Akan tetapi banyak sekali pribumi-pribumi yang lebih menyukai produk luar negeri dari pada dalam negerinya sendiri, hal ini sudah tidak asing lagi. Terutama dalam segi ekonomi, banyak sekali pribumi-pribumi yang gengsi dengan produk lokal,

Faktor utama tersebut dapat di isyaratkan menjadi 2 (Dua) kemungkinan yaitu faktor internal dan eksternal.

Faktor internal yaitu di mana pribumi gengsi dengan produk lokal karena harganya murah atau kalah saing dengan produk luar.

Faktor eksternal yaitu di mana produk luar negeri sangat menarik perhatian, harganya sangat mahal dari produk lokal dan mempunyai brand luar negneger

Hilang nya budaya-budaya yang terdahulu, budaya adalah ciri khas negri setiap negri mempunyai budaya Mereka masing-masing,

Budaya dapat di simpulkan bahwa budaya adalah salah satu ciri khas daerah yang turun temurun oleh nenek moyang kepada sang penerus.

Sebuah burung tidak akan bisa membuat rumahnya apabila sang burung lupa cara membuat nya.


ETIKA

Etika pada umumnya diidentikkan dengan moral atau moralitas. Namun, meskipun sama-sama terkait dengan baik buruk tindakan manusia, etika dan moral memiliki perbedaan pengertian.

Menurut Haidar Bagir moral lebih condong pada pengertian “ nilai baik dan buruk dari setiap perbuatan manusia itu sendiri”, maka etika berarti “ ilmu yang mempelajari tentang baik dan buruk”.

Etika sangatlah penting untuk di pelajari dan diimplementasi, saling menghormati satu sama lain, bergotong royong, itulah Budi pekerti yang luhur.

Budi pekerti yang bisa membawa kepada kebaikan dan menjauhkan dari buruk sangak.

Hilangnya nilai-nilai etika dalam masyarakat yang tercermin didalam pancasila salah satunya adalah ketidak pedulian etika sosial dan keagamaan.

Contoh saja di zaman sekarang banyak sekali dikalangan, pemuda, siswa, bahkan mahasiswa yang kurang beretika, bahkan bisa dikatakan tidak memiliki etika dalam bermasyarakat dan bersosialisasi.

Hal tersebut akan membawa dampak buruk dimasa yang akan datang. Mengingat bahwa generasi muda yang akan membawa sebuah perubahan di masa yang akan datang.

Mengapa bisa dikatakan demikian? Karena penerus serta penentu keberhasilan sebuah negara adalah tergantung pada para pemudanya.

Jika para pemuda yang menjadi ujung tombak keberhasilan bangsa tidak memiliki etika (moral), lalu bagaimana negara ini kedepannya akan bisa maju?

Mungkin banyak orang masih berfikir bahwa meredupnya etika dikalangan diri para pemuda adalah hal yang anggap biasa-biasa saja. Akan tetapi Justru itulah yang berpengaruh besar di masa yang akan datang.

Apabila krisis etika (moral) pemuda terus berlanjut, bagaimana dengan nasib masa depan bangsa? Generasi muda yanag seharusnya mampu menjadi “Agent of Change”, berkontribusi besar dalam perubahan bangsa dan menjadi tonggak peradaban, justru tidak memiliki dasar atau podasi kokoh yang menjadi modal dalam segala aspek sendi kehidupan.

betapa pentingnya etika, mencintai produk dalam negri, ilegalkan miras dan belajar pendidikan agama, itu semua sangat penting bagi kemajuan bangsa.