Mahasiswa
3 tahun lalu · 751 view · 3 menit baca · Budaya freedomfrankl_1.jpg

Akal dan Kehendak Bebas

Dalam kehidupan ini terhampar banyak pilihan-pilihan yang harus kita putuskan untuk dilakukan atau ditinggalkan. Darinya, kurang tepat jika hidup didefinisikan sebagai pilihan, lebih tepat dan pas kita maknai bahwa hidup adalah memilih. Ya, hidup adalah aktivitas sadar dalam memilih setiap pilihan-pilihan yang terhampar itu. Memilih adalah bukti bahwa pada dasarnya kita adalah makhluk yang merdeka.

Aktivitas hidup manusia dibedakan dengan hidup hewan lainnya, seumpama Kerbau, Kera, dan Babi. Dalam tradisi filsafat ilmu (epistemologi), hidup manusia yang benar itu didasarkan atas empat tahapan, yaitu objektifikasi, penilaian, perbandingan, dan putusan.

Pertama, objektifikasi merupakan suatu aktivitas di mana darinya-lah pengetahuan manusia didapat. Objektifikasi dilakukan melalui medium lima indra yang dimiliki oleh kita; penglihatan, penciuman, pengecapan, pendengaran, dan perabaan. Dari lima indra itulah kita mendapatkan modal dasar atas bentuk-bentuk pengetahuan yang melekat di dalam benak.

Kedua, penilaian atas setiap pengetahuan yang kita dapatkan melalui proses objektifikasi di atas. Dari tahapan inilah kita mengetahui bahwa gula itu manis, bola itu bundar, susu itu putih dan lain sebagainnya. Secara metodologis, penilaian dapat dilakukan melalui jalan definisi (hadd) dan analogi (qiyas).

Lebih jauh, dari tahap penilaian ini, kita dapat mengetahui bahwa sesuatu itu bernilai baik-buruk, indah-jelek, dan benar-salah. Seumpama kita memberikan penilaian bahwa susu itu baik untuk kesehatan tubuh, sedangkan racun akan memberikan dampak buruk saat diminum oleh kita.

Ketiga, perbandingan atau pembedaan. Dalam tahapan ini, setiap apa yang telah kita objektifikasi dan diberikan penilaian, satu sama lain memiliki kualitas-kualitas yang berbeda. kita mampu membedakan pria dan perempuan, madu dan racun, halal dan haram, baik dan buruk, dan lain sebagainnya.

Nah, mulai dari tahapan objektivikasi, penilaian dan perbandingan itu merupakan domain apa yang disebut dengan akal (rasio). Jika kita pernah merasa melakukan ketiga tahapan hidup seperti yang telah disebutkan di atas, berarti kita termasuk golongan orang-orang yang berakal.

Menurut Ibn Sina, Dalam proses menghasilkan sistem pengetahuan manusia, akal memiliki peranan yang sangat vital karena sebagai pembeda atas pengetahuan yang berdasarkan indrawi semata. Lebih lanjut Ibn Sina menyebutkan bahwa akal manusia memiliki empat pembagian dalam tinkatannya, yaitu akal material (al-‘Aql al-hayulânî), akal aktif (‘aql bi al-fi’l), akal talenta (al-‘aql bi al-malakah) dan akal perolehan (‘aql musafad).

Akal material (al-‘aql al-hayulânî) adalah kekuatan pertama yang mampu menerima gambaran tentang bentuk-bentuk universal yang diabstraksikan dari benda, dan yang pada dirinya tidak mempunyai bentuk. Akal habitu (al-‘aql bi al-malakah) adalah akal yang kesanggupannya berfikir secara murni abstrak telah mulai kelihatan. Ia telah dapat menangkap pengertian dan kaidah umum, seperti keseluruhan lebih besar daripada sebagian.

Pada akal material, dihasilkan kesempurnaan prinsip pertama (al-ma’qûlât al-ûlâ) yang dengannya berkaitanan dengan prinsip yang kedua (al-ma’qûlât al-tsâniyah). Prinsip pertama (al-ma’qûlât al-ûlâ) artinya premis-premis yang bisa menghasilkan keyakinan tanpa upaya apa pun, dan orang yang yakin itu tidak menyadarinya bahwa suatu saat bisa saja ia luput dari keyakinan tersebut, seperti keyakinan kita bahwa keseluruhan lebih besar daripada sebagian.

Akal aktual (al-‘aql bi al-fi’l) yaitu akal yang telah lebih mudah dan lebih banyak dapat menangkap pengertian dan kaidah umum yang dimaksud. Akal aktual ini merupakan gudang bagi arti-arti sesuatu yang abstrak, yang dapat dikeluarkan setiap kali dikehendaki. Sedangkan Akal perolehan (al-‘aql al-mustafâd) yaitu akal yang di dalamnya arti-arti abstrak tersebut selamanya sedia untuk dikeluarkan dengan mudah sekali.

Paham? Tentu saja gambaran tentang akal di atas sangat njelimet dan membingungkan. Saya pun merasakan hal yang sama sejak dari awal mula bergelut dengan ‘akal-akalan’nya Ibn Sina lewat al-Najahnya. Tapi intinya, objektivikasi, penilaian dan perbandingan itu adalah aktivitas yang dilakukan oleh akal manusia.

Keempat adalah putusan. Setelah kita dapat membedakan banyak hal tentang sesuatu, lantas tahapan terakhir adalah putusan. Dan putusan ini merupakan domain dari kehendak bebas (free will) yang dimiliki oleh manusia. Melalui kehendak bebas inilah manusia bebas untuk menentukan setiap pilihan yang ia inginkan. Dengan memilih manusia itu bebas dan merdeka.

Semisal kita telah mampu membedakan bahwa madu itu baik dan racun itu buruk, namun banyak orang yang memutuskan untuk meminum racun meski sebelumnya ia mengetahui bahwa hal itu dapat membahayakan hidupnya. Tapi itulah pilihannya atas dasar kehendak bebas yang dimilikinya.

Atas dasar kehendak bebas untuk memilih setiap pilihan yang ada, maka manusia dihadapkan pada dua konsekuensi, yaitu penghargaan (reward) dan hukuman (punishment). Dua hal tersebut menjadi penting, karena manusia harus mempertanggungjawabkan atas apa yang telah ia putuskan.

Alhasil, akal dan kehendak bebas merupakan karunia Tuhan yang tidak dimiliki oleh makhluk-makhluk Tuhan lainnya. Dan tugas hidup kita pun menjadi sangat sederhana; berpikir dan merdekakanlah dirimu.