Tulisan ini merupakan tanggapan atas diskusi yang diselenggarakan Qureta pada 18 Maret di Salihara dengan tema Eco dan Iman: Percakapan tentang Iman dan Akal (Mengenang 30 Hari Kepergian Umberto Eco).

Narasumber diskusi adalah Goenawan Mohamad (Salihara) dan Hamid Basyaib (Balai Pustaka) yang dimoderatori Luthfi Assyaukanie (Qureta). Karena dalam diskusi tersebut sangat terbatas waktu untuk memberi tanggapan, maka tulisan ini merupakan tanggapan atas diskusi tersebut. 

Dalam diskusi di atas, saya tak mendapatkan pemaparan Goenawan Mohamad (GM) atau Hamid Basyaib tentang posisi Umberto Eco dalam akal dan iman: Apakah ia ateis, agnostik atau religius?

Posisi ini  penting dilihat karena ia akan berpengaruh menetapkan pandangan dunianya sebagaimana E.F. Schumacher yang sangat terpengaruh spritualitas Ghandi dalam menetapkan pandangan dunianya tentang ekonomi, politik, sosial dan pembangunan sebagaimana yang ia tulis dalam bukunya 'Small is Beautiful'.

Juga, dalam banyak studi terbaru, latar belakang dan pengalaman seseorang sangat penting untuk dilihat karena ia akan memiliki pengaruh pada karya-karyanya.

Karena tema diskusinya adalah tentang akal dan iman, saya pun tak mendapatkan pemaparan GM tentang apakah seseorang yang mengutamakan akal, maka imannya akan semakin kuat. Atau sebaliknya, dengan mengutamakan akal, seseorang akan kehilangan keimanannya. Atau, akal tak berpengaruh apa-apa pada keimanan seseorang.

Pemaparan ini juga, hemat saya, penting dianalisis untuk melihat fungsi akal dan iman seraya melihat  contoh-contoh ilmuwan besar dunia yang memiliki iman yang kokoh dan pada saat yang bersamaan ia mempunyai kekuatan rasional atau jika ia mengoptimalkan akalnya, maka ia tak beriman (ateis atau agnostik).

Selain itu, sebagai orang yang saat ini mengajarkan etika dan spritualitas sebagai kerangka orientasi nilai hidup dan pengabdian manusia, saya cukup terusik dengan pernyataan Hamid Basyaib mengenai agama akan kehilangan perannya di abad ini dan pada masa-masa yang akan datang.

Dengan kata lain, agama menjadi tak berguna sekarang ini, karena kehilangan peran akalnya dan terutama diperhadapkan dengan sains yang diperkecil menjadi ilmu pasti dengan mengabaikan social science.

Science dalam pandangan Hamid dikacaukan dengan produk teknologi, padahal teknologi hanya bagian dari produk science. Meski dalam soal ini, kami, saya dan Hamid sering berdiskusi --dan kadang tak ada titik-temu--dalam salah satu group WhatsApp. 

Pernyataan Hamid di atas seperti keluar dari orang yang tidak memiliki kepekaan sebagai pengamat sosial, karena justru di era ini, terutama di Indonesia, tren yang sedang kuat adalah orang sedang gandrung pada agama, terutama Islam.

Lihat fenomena perempuan-perempuan berjilbab. Sepanjang yang saya cermati, di masa-masa inilah kegandrungan masyarakat Indonesia pada Islam terjadi, terutama pada kasus perempuan berjilbab ini. Jilbab seakan-akan bukan lagi menjadi fashion dari budaya luar, tetapi seperti fashion dalam budaya-budaya di nusantara.

Kecenderungan ini terlihat mulai dari perempuan lapisan bawah, perempuan kalangan pegawai negeri, perempuan anggota legislatif dan kepala-kepala daerah hingga artis. Selain itu, banyak sekali saat ini teman-teman 'abangan' saya naik haji dan katanya ingin belajar Islam. Dengan belajar Islam mereka seperti melengkapi kehidupan dan kebahagiaan mereka.

Sementara saya yang berlatar belakang keluarga Islam yang kental, mempertanyakan mengapa mereka harus belajar Islam dan tidak nampak percaya diri dengan nilai-nilai kejawen atau abangan yang mereka anut.

Fenomena ini ditangkap oleh kelompok-kelompok puritan Islam atau para ustadz-ustadz yang dipopulerkan oleh televisi atau lainnya yang tidak memiliki kekokohan dalam ilmu-ilmu keislaman.

Karena nilai-nilai, etika dan praktis Islam diajarkan oleh orang-orang seperti mereka, maka  Islam yang dianut saat ini adalah Islam yang banal. Islam yang tak menghargai ilmu pengetahuan dan imajinasi serta Islam yang tidak menghargai humor sebagai bagian dari katarsis kehidupan.

Sebagai kaum intelektual yang pendapatnya seringkali menjadi rujukan audience, sangat baik jika Hamid skeptis --atau hati-hati--dengan pelbagai proposisi yang disampaikan. 

Terlalu sinis berlebihan pada komunitas keagamaan di mana mereka sepenuh hati melakukan kepatuhan pada Tuhannya, maka kemungkinan yang terjadi adalah mereka akan sangat menjauh dari ide-ide yang Hamid sampaikan. Padahal ia sedang memasarkan ide-idenya agar dipahami sebanyak mungkin orang dan beruntung jika ia menjadi 'actus' dalam kehidupan sekarang ini dan mendatang.

Membuat 'pulau' yang ekslusif dalam pasaran ide, maka ide-ide yang bersebrangan dengan Hamid itulah yang akan menguasai dan mencengkram ruang publik kita. Hamid pun sebaiknya tidak berada pada pendulum lain yang berposisi pada jenis 'fundamentalisme' yang lain, karena karakter fundamentalisme, apakah ia fundamentalisme ideologi, fundamentalisme ilmiah dan fundamentalisme agama, sama-sama memiliki karakter kaku pada teks dan tertutup pada dinamika sosial yang terus berubah.

Beragam jenis fundamentalisme itu menyergap bangsa kita dalam segala bidang, baik kaum akademisi di kampus yang menggunakan beragam teori untuk kepentingan sikap rasis dan homophobianya, fundamentalisme agama dalam partai politik dan civil society dan fundamentalisme yang menyergap kaum aktivis.

Diskusi-diskusi dikembangkan oleh kaum pencerah semestinya tidak menjadi ajang memperkuat  pandangan fundamentalisme yang berwajah ilmiah itu.