Kehidupan manusia ini hanyalah impian kemaluan kita. Manusia hanya menjalaninya saja. - Iwan Angsa

Adegan pertama di halaman pertama dari buku ini menggambarkan si tokoh utama, Ajo Kawir, yang melakukan masturbasi di kamar mandi, berusaha membuat si burung bangkit kembali. Aku berhenti sejenak. Berdiam diri. Berpikir. Ini baru adegan pertama lho. Tapi, masa iya tidak membaca buku ini sampai tuntas? Mungkin saja akan lucu; iya, kan?

Eka Kurniawan kan juga biasanya menyelipkan filososfi-filosofi kehidupan yang bikin mikir. Selesai membaca buku ini, di sampul belakang aku melihat nih buku dikategorikan sebagai novel/fiksi/novel dewasa. Oh pantas!

Kutipan khusus di atas bahwa kehidupan manusia hanyalah impian kemaluan kita dan kita hanya menjalaninya saja, rasanya adalah ide pokok yang ingin disampaikan buku ini. Aku berpikir sejenak. Lalu mengangguk mengiyakan.

Tidak butuh menjadi seorang Freudian untuk mengafirmasinya. Eh tapi, sepertinya tidak juga. Ada juga orang-orang yang berhasil memelihara dirinya dari hal-hal seksual. Kita akan lihat bagaimana Ajo Kawir menjalani hidupnya.

Awal mula terjadinya kutukan itu—yang membuat burung Ajo Kawir tidur panjang, bermula dari hal yang sungguh tidak terduga. Ajo Kawir diajak oleh seorang sahabat karibnya, Si Tokek, melihat seorang perempuan gila. Perempuan itu bernama Rona Merah yang pada malam nahas itu diperkosa oleh dua orang polisi.

Dua anak kecil usia 12 atau 13  yang menyaksikan peristiwa tersebut hanya bisa menahan napas. Sialnya, mereka ketahuan. Lebih tepatnya, Ajo Kawir ketahuan. Siapa sangka jika ternyata anak kecil bernama Ajo Kawir itu kemudian akan diseret oleh polisi ke dalam rumah Rona Merah.

Ia diperintahkan turut juga memerkosa si perempuan gila. Setelah celana Ajo Kawir dibuka paksa, didapatilah si burung yang tak mampu berdiri. Sekalipun di hadapan Rona Merah yang cantik dan badannya yang menggiurkan, si burung tidak juga bangkit. Ajo Kawir ditertawakan oleh kedua orang polisi itu. Hidup Ajo Kawir memasuki babak baru.

Tentang burung Ajo Kawir yang tidak mampu berdiri itu hanya diketahui oleh Si Tokek. Merasa tak mampu memecahkan masalah dengan hanya mereka berdua, Si Tokek memberitahukan perihal Ajo Kawir kepada ayahnya, Iwan Angsa.

Iwan Angsa menyodorkan beberapa solusi yang setelah dieksekusi masih juga tidak mampu membangunkan si burung dari tidur panjangnya. Bahkan, seorang pelacur pun tak mampu membangkitkan si burung.

Ajo Kawir dan Si Tokek memenuhi masa-masa remaja mereka dengan berkelahi. Si Tokek menyadari keadaan burung sahabatnya, melihat berkelahi sebagai satu-satunya jalan penyaluran hasrat sahabatnya. Sepertinya tak ada rasa takut dalam diri Ajo Kawir.

Ia bahkan bertekad menghajar seorang laki-laki paruh baya yang sejatinya tidak memiliki masalah dengan dirinya. Mungkin ada benarnya kata Iwan Angsa, “hanya orang yang enggak bisa ngaceng, bisa berkelahi tanpa takut mati”.

Hingga akhirnya, tibalah hari itu. Hari di mana Ajo Kawir jatuh cinta kepada seorang gadis. Iteung namanya. Seorang jawara silat. 

Nasib malang. Sebab ujung dari percintaan adalah seks, Ajo Kawir sempat berpikir untuk mundur. Ia seharusnya tak bermain untuk sesuatu yang tak akan mampu ia tuntaskan. Si burung yang masih tidur panjang membuat hatinya patah semangat.

Rupanya putus cinta bukan sesuatu yang mudah. Hidup Ajo Kawir hilang semangat. Si Tokek dibuatnya tak karuan. Sudah cukup rasanya kepedihan kawannya dengan burung yang tak mau bangun itu, usahlah ditambah dengan patah hati segala.

Singkat cerita, Ajo Kawir dan Iteung akhirnya menjalin kasih kembali. Perihal burung yang tak mampu bangun itu adalah masalah belakangan. Toh peran si burung bisa digantikan dengan jari-jari, begitu pikir Ajo Kawir.

Ajo Kawir dan Iteung memutuskan menikah. Si Tokek termenung sambil mengingat syarat sah sebuah pernikahan.

“Syarat pernikahan hanya ada lima. Paling tidak itu yang kuingat pernah kudengar dari corong pengajian di masjid. Satu, ada kedua mempelai. Dua, ada wali perempuan. Tiga, ada penghulu. Empat, ada ijab kabul. Lima, ada saksi. Tak pernah kudengar pernikahan mensyaratkan kontol yang ngaceng”, kata Si Tokek.

Lalu, berjalanlah rumah tangga Ajo Kawir dan Iteung hingga beberapa waktu lamanya. Ajo Kawir merasa aman-aman saja bahkan dengan burung yang masih tidur panjang itu. Ia mencintai Iteung dan begitu juga sebaliknya. Lalu, semuanya menjadi tanda tanya ketika Iteung mengaku hamil.

Bayangkan!!! Apakah mungkin tarian jari-jemari Ajo Kawir bisa membuat Iteung hamil? Iteung tidak mengatakan apa-apa. Ajo Kawir menerobos gerimis meninggalkan rumah dan tak kembali. Mungkin memang benar, bahwa cinta dan seks adalah dua hal yang berbeda.

Ke mana Ajo Kawir pergi? Ia mencari Si Macan untuk mengajaknya berduel bahkan mungkin membunuhnya. Sebenarnya tidak ada urusan secara langsung antara Ajo Kawir dan Si Macan.

Dalam hal ini, Ajo Kawir adalah preman yang dibayar untuk berurusan dengan Si Macan. Ajo Kawir menyanggupi saja. Mungkin memang ini jalannya melampiaskan hasrat-hasrat yang terpendam dalam dirinya. Ia hanya ingin membunuh seseorang.

Singkat cerita, Ajo Kawir membunuh Si Macan dan ia dipenjara. Entah berapa tahun hukuman penjara. Keluar dari penjara, ia menjadi sopir truk antarkota, bahkan hingga antarpulau. Bersama seorang rekan yang muda belia, Mono Ompong namanya, ia menjejaki aspal Jawa hingga Sumatra.

Dalam profesi inilah, selama sekitar satu dekade, dengan burung yang masih memilih tidur panjang, ia menjalani kehidupan dengan tidak mencari-cari masalah. Jalan hidup Sufi.

Seperti dendam, rindu harus dibayar tuntas, yang menjadi judul buku ini, rupanya adalah tulisan di bagian bokong truk milik si Ajo Kawir. Ya lumayanlah.. daripada tulisan macam “kutunggu jandamu” atau “ rinduku tak seberat muatanku”. Tapi, sebenarnya rasa dendam dan rindu kepada siapa yang harus terbayar tuntas?

Ingat anak yang dikandung Iteung ketika Ajo Kawir meninggalkan rumah? Ia telah tumbuh menjadi gadis kecil. Tapi, sekalipun Ajo Kawir tak pernah pulang. Singkat cerita, seorang perempuan tak tahu arah dan tujuan, tahu-tahunya telah berada di dalam truk Ajo Kawir.

Perempuan itu tidak cantik, tidak menarik perhatian sama sekali. Lagi pula, peduli setan Ajo Kawir dengan perempuan. Sepuluh tahun sudah ia mungkin telah lupa kalau ia makhluk yang terlahir dengan burung.

Mungkin memang kisah ini harus berakhir sebagaimana ia bermula. Menuntaskan hal-hal yang seharusnya tuntas. Ajo Kawir kerap kali memimpikan perempuan itu, Jelita namanya. Padahal, tak pernah sekalipun ia peduli akan perempuan itu. Tapi, kok ya turut serta dalam mimpinya dan membuat burungnya bereaksi?

Dan terjadilah persetubuhan itu, antara Ajo Kawir dan Jelita. Burung Ajo Kawir yang lama tidur panjang, kini telah bangun. Apakah petualangannya telah berakhir? Mungkinkah ini saatnya untuk pulang?

Ajo Kawir pulang dan si burung tidak juga menjalankan tugas kenegaraannya. Sebab satu dan lain hal kembali terjadi, Iteung dipenjara karena membunuh seseorang dan si burung harus sabar menanti dan percayalah bahwa Ajo Kawir baik-baik saja. Sekian!