Bumi masih berputar. Segala kemungkinan masih dapat terjadi. Seperti kenyataan bahwa saya telah melewati transisi malam Minggu dengan kuaci, kopi dan live streaming pertandingan sepak bola. Tidak usah tanya kenapa tidak bermalam-mingguan, anggap saja saya sedang mencoba mengamalkan Fatum Brutum Amor Fati. 

Toh, perihal perempuan, Kahlil Gibran pun pernah bilang kalau wanita sempurna itu cuma ada dua. Satu di angan-angan, dan satunya lagi belum lahir. Jadi, sangat mudah sekali jika saya memang benar-benar ingin.

Okay, back to topic. 

Semalam (24/10), dua big match menarik tersaji. Pertama, laga “El Clasico” Barcelona melawan Real Madrid. Kedua, Manchester United melawan Chelsea.

Jam telah melewati pukul 9 malam. Partai El Clasico lekas terlebih dahulu. Sepuluh menit laga berjalan, tak disangka dua gol sudah lahir. 

Umpan terobosan Karim Benzema berhasil dikonversi menjadi gol dengan baik oleh Federico Valverde ketika laga baru berumur lima menit. Tak butuh waktu lama, tiga menit berselang Barcelona membalas lewat gol wonderkid 17 tahun, Ansu Fati setelah menerima umpan matang dari Jordi Alba.

Laga terus berjalan imbang 1-1 sampai ketika Real Madrid mendapat hadiah penalti setelah bek Barca, Clement Lenglet dianggap melakukan foul kepada Sergio Ramos. Padahal tampak jelas bahwa Ramos-lah yang menarik jersey Lenglet dari belakang. Meskipun kontroversial, wasit Martinez Munuera tetap memberikan penalti kepada tim tamu yang dieksekusi sempurna oleh sang kapten, Sergio Ramos.

Tertinggal dari tim tamu, Blaugrana tak tinggal diam. Ronald Koeman memasukkan tiga penyerang sekaligus yakni Trincao, Dembele dan Griezmann yang mengantikan Ansu Fati, Pedri dan Busquets pada menit 81. Sementara Braithwaite baru dimasukkan enam menit kemudian menggantikan Jordi Alba.

Sibuk menyusun serangan, Barca justru kecolongan. Menjelang akhir laga, Luka Modric sukses mencatatkan namanya di papan skor dan menutup laga dengan skor 3-1 bagi kemenangan Real Madrid.

Kamu tentu bisa mengira apa yang saya rasakan. Bagaimana saya harus siap menyaksikan timeline twitter, instastory dan status WA teman yang penuh dengan tagar #HartaTahtaSatuTiga.

Untuk menghibur hati, saya lantas menyaksikan pertandingan berikutnya yakni Chelsea versus MU. Walaupun bukan merupakan penggemar dari kedua klub Inggris tersebut, saya tertarik menontonnya karena saya pikir laga ini akan berjalan seru jadi sayang jika dilewatkan. 

Sial, yang ada justru sebaliknya. Pertandingan sama sekali tidak menarik. Minim jual beli serangan. Skor kacamata pun bertahan hingga peluit panjang berbunyi. 

Menyebalkan memang ketika menyaksikan big match namun tidak ada satu gol pun tercipta. Terlebih jika pertandingan liga semacam ini yang hanya berjalan 90 menit tanpa penentuan pemenang pertandingan. Itu seperti kamu yang menunggu balasan pesan dari seseorang yang sudah seharian kamu tonton semua instastory-nya yang berderet seperti koloni semut yang berjalan di dinding. Nihil.

Setelah laga MU versus Chelsea usai, saya berselancar di dunia maya guna melihat hasil dan highlight  pertandingan  lainnya. Alangkah terkejutnya saya ketika mengetahui hasil akhir dari sebuah pertandingan di liga Belanda.

Ternyata ada yang lebih menyedihkan daripada Barcelona, yaitu VVV Venlo. Dalam lanjutan Eredivisie, VVV Venlo menjamu Ajax Amsterdam berakhir dengan skor di luar dugaan. VVV Venlo takluk dengan skor super telak, 13 gol tanpa gol. 

VVV Venlo bermain dengan 10 pemain sejak menit 51 setelah bek tengah mereka, Christian Kum diganjar kartu merah saat skor masih 4-0. Jelas hal tersebut membikin kondisi tim tuan rumah makin runyam dan akhirnya harus menelan kekalahan yang memalukan. Tanpa dapat membalas sebiji gol pun ke gawang lawan.

VVV Venlo bukanlah tim sementara. Dalam dua musim terakhir, mereka berhasil bercokol di papan tengah Eredivisie. Maka, pembantaian brutal tersebut jelas merupakan tanda tanya besar.

Namun yang menjadi pertanyaan saya adalah bagaimana bisa gol sebanyak itu bersarang ke gawang Delano van Crooij dalam satu laga. Maksud saya, apakah harus sebagai "tim yang sudah dipastikan menang" mencetak gol selusin lebih untuk menunjukkan keperkasaan mereka? 

Terlepas dari urusan profesionalitas, skor dengan defisit sebesar itu -dalam sebuah ajang kompetisi resmi--dibiarkan terjadi oleh sang pelatih untuk terjadi? Di mana letak hati Eric ten Hag sebagai seorang insan yang sepakbolawi? 

Pertandingan tersebut jelas sebuah ketimpangan. Ajax tampil begitu dominan dengan 76% ball possession. Artinya, dalam 90 menit waktu normal, VVV Venlo hanya memegang bola selama 21,6 menit. Dan, bisa dipastikan sebagian atau hampir seluruh waktu itu digunakan untuk bertahan. Bahkan VVV Venlo tidak mencatatkan shot on target satu pun. 

Sebaliknya, Ajax justru tanpa hati memborbardir pertahanan Yellow Black Army dengan 45 shots dengan 23 tendangan mengarah ke gawang.

Ternyata kekecewaan yang saya rasakan, tidak ada apa-apanya dengan apa yang dirasakan fans Venlose Trots. Dilibas 2-8 saja sudah menyakitkan sekali, apalagi ini, 13-0.

Selain Eric ten Hag, dari seluruh penggawa De Godenzonen tampaknya ada satu pemain yang mungkin akan dibenci selamanya oleh publik Venlo. Dia adalah Lassina Traore. 

Delapan dari tiga belas gol The Amsterdammers adalah andil striker Burkina Faso tersebut. Ia sukses  mencetak  quintrick dan tiga assist pada laga ini.

Mungkin gairah dan spirit muda pemain berumur 19 tahun tersebut bisa dimaklumi namun kebuasan yang telah ia lakukan merupakan pemerkosaan moral dan etika terhadap pemain lawan yang tidak dapat ditolerir oleh fans tuan rumah. Walaupun memang tidak ada hukum tertulis yang melarang sebuah tim mencetak banyak gol dalam jumlah tertentu.

Apakah Traore tidak memikirkan kalau para pemain dan pelatih tim lawan juga memiliki anak dan istri di rumah yang sering membanggakan profesi ayah dan suami mereka sebagai seorang pesepakbola? 

Saya tidak tega membayangkan bagaimana mereka menjalani hari-hari mereka sekarang ini. Apa yang terjadi di ruang ganti setelah pertandingan kemarin. Ada atau tidak dan seperti apa kata-kata yang keluar dari mulut  Hans de Koning. 

Lalu, bagaimana jika anak salah seorang pemain VVV Venlo sedang mengikuti kelas daring dan diminta untuk menceritakan tentang ayahnya. Semoga ia kuat ketika diminta on camera ketika vicon (video conference) berlangsung. 

Bagaimana jika istri-istri mereka bertemu secara tidak sengaja dengan istri dari salah seorang pemain Ajax Amsterdam. Apakah kalian memikirkannya wahai Lassina Traore, Eric ten Hag dan para Amsterdammers? Mungkin ini terkesan hiperbolis namun percayalah, dibantai itu tidak enak.

Watu terus berlalu. Que sera, sera. Seperti halnya saya dengan malam Minggu, fans VVV Venlo pun harus bisa nrimo ing pandum.

Meminjam ungkapan Pidi Baiq, "Mudah-mudahan kita kuat, sekuat kehidupan, cinta dan pertemanan. Kegagalan dan merasa sedih tidak selalu berarti kekalahan."