1 week ago · 71 view · 3 menit baca · Seni 99330_30933.jpg
Nella Kharisma - YouTube

Ajakan Waras pada Lirik 'Wong Edan Kui Bebas'

Pernahkan mendengar lirik lagi koplo ini: wong edan kui bebas, wong edan kui bebas? Di kanal YouTube, Anda bisa melihat lagu ini dinyanyikan oleh penyanyi populer seperti Nella Kharisma, Shodiq Monata sampai para penyanyi jalanan. 

Lagu ini diciptakan seseorang yang menggunakan inisial Abah Lala. Viewer-nya pun jutaan, dan potongan liriknya mudah diingat oleh banyak orang, yakni wong edan kui bebas. Hentakan musiknya membuat kaki kita segera bergoyang mengikuti hentakan nada rancak lagu ini. 

Anda merasa waras? Barangkali untuk menjawab pertanyaan ini, saya menawarkan untuk mendengar lagu ini. Jika akan tersenyum dan menertawakan klaim tentang kewarasan kita sendiri, maka kemungkinan besar memang kewarasan kita sedang dalam kondisi baik-baik saja. Begitukah?

Barangkali para kritikus seni akan segera memasukkan lagu Wong Edan Kui Bebas dalam aliran seni realis. Suatu ekspresi seni dalam bentuk lagu, yang kuat sisi estetiknya, namun tetap mengungkap sisi kenyataan hidup yang dialami banyak orang. 

Wong Edan, dalam makna orang yang secara sosial divonis gila atau mendapatkan klaim psikologi sebagai penderita skizoferenia, adalah bukti nyata. Atau penyebutan wong edan untuk kepentingan satire kepada mereka yang melawan norma, sikap antisosial, dan menyimpang serta melanggar hukumAtau sekadar olok-olok dalam keseharian, yang menunjukkan keakraban dengan kawan yang bertindak ekstrem, dengan sapaan: wong uedan... 

Untuk menunjukan bahwa lagu ini mengandung sisi realis, coba amati beberapa potongan lirik berikut:

Wong edan kui bebas... 

Ora usah mikir uripku 
Aja susah mikir dalanku 

Merga dalan uripku iki
Dudu urusanmu

Wong edan kui bebas dalam lirik di atas menunjukkan bahwa wong edan adalah seseorang yang memaklumkan diri memiliki otonomi mutlak—konon, dalam bahasa pakar sosiologi disebut sebagai ‘subjek bebas’. Mereka yang secara otonom dapat menentukan jalan hidupnya sendiri dalam menghadapi kerumitan realitas. 

Tentu pilihan menjadi ‘subjek bebas’ seperti ini adalah penyimpangan di tengah budaya kita yang cenderung mengedepankan kolektivitas. Saat kita berada dalam budaya di mana norma berlaku sangat mengikat pada anggota masyarakat, dalam desa misalnya, jangan coba melawan norma dan bertindak semaunya. 

Kalau masyarakat memang terbiasa sekolah sebagai ritual wajib bagi seorang anak-anak hingga remaja, sementara Anda yakin bahwa anak Anda tidak perlu sekolah, karena menuntut ilmu itu luas seluas alam raya, dan Anda ngeyel tak menyekolahkan anak Anda, maka bisa jadi Anda akan mendapatkan stigma sebagai wong edan. Wong edan karena dianggap memisahkan diri dari norma yang mengikat, dan anda bebas melakukan apa pun, dengan syarat Anda menerima dengan tangan terbuka disebut sebagai wong edan.

Kita lanjutkan pada lirik selanjutnya dari lagu Wong Edan Kui Bebas berikut:

Dalan uripe kabeh menungsa
Becik ketitik ala ketara
Mula aja gawe gela
Merga urip butuh konca

Potongan lirik ini ternyata tidak se-edan yang kita kira. Alih-alih menemukan kalimat merancau tak jelas ala penderita skizofrenia, Anda justru mendengar kata yang dikutip dari pujangga Jawa yakni “becik ketitik ala ketara” atau makna bebasnya kebaikan pasti akan tampak dengan jelas, sementara kejahatan dan keburukan juga akan segera terlihat. 

Ini merupakan peringatan bagi orang yang sering kepo dengan urusan sesama, mereka yang mengklaim dirinya lebih berakal dan waras yang ditambahi nyinyir yang terus-menerus dengan urusan orang lain.

Tak perlu nyinyir dengan jalan hidup orang lain. Jangan membuat orang kecewa. Karena sewaras-warasnya Anda, Anda masih butuh kawan. Begitu kira-kira pesan wong edan kepada yang mengklaim dirinya waras. Ehm. Justru bait ini terasa ‘getir’ dan penuh nuansa moral.

Kita lanjutkan pada bait selanjutnya:

Wong edan kui bebas
Eling eling omonge wong tuo
Loro ati angel ditambani
Bedo yen karo wong loro untu
Ngombe obat dinggo mapan turu

Paradoks dengan ungkapan awal pada bait sebelumnya, yakni wong edan kui bebas, justru kini wong edan sedang memberikan pepeling tentang suatu dimensi yang lebih dalam, soal ‘hati’, soal ‘akal budi’, dan ‘kewarasan’ bahwa penyakit terhadap akal budi dan kewarasan adalah penyakit yang paling susah di sembuhkan. Bahkan tak bisa dibandingkan dengan sakit gigi sekalipun, yang diklaim sebagai penyakit yang paling memilukan. 

Faktanya, penyakit pada hati, akal sehat, dan kewarasan adalah penyakit yang akut dan susah disembuhkan. Penyakit hati seperti kebencian, ujub (narsisme), hasud, riya, dan lain-lain justru susah disembuhkan. (Eh kok jadi mubaligh, sih ...).

Jadi, setelah mendengarkan lagi wong edan kui bebas, justru pendengar tidak disuguhkan pada ekspresi ke­-edan-an yang sering mengundang tawa. Akan tetapi, justru pada senyum getir, kemudian menertawakan diri sendiri: benarkah kita waras?

Dan, daripada pusing memikirkan seberapa warasnya kita, makin terus bergoyang dan mendendangkan lagu: wong edan kui bebas, wong edan kui bebas...