Lecturer
2 tahun lalu · 1679 view · 4 menit baca · Gaya Hidup muslim-girl-selfie.png
Foto: drrichswier.com

Ajak Aku Berswafoto, Ukhti!

Mencoba Mengerti Diskrepansi Para Ukhti

Demam swafoto atau selfie (a self-potrait photograph) telah melanda hampir semua kalangan, menerabas batas usia, golongan, hingga batas-batas gaya berkeyakinan. Bukan hanya melanda para anak-anak muda alay yang rata-rata jablay, atau para pejabat yang sangat doyan rapat, selfie bahkan telah masuk ke kalangan para muslimah full cover (baca; bercadar).

Fenomena ini tentu menarik, karena semula gaya berpakaian ini kerap dianggap sebagai keputusan untuk anti-sosial; Perempuan bercadar menutupi sekujur badan dengan kain tebal berangkap-rangkap, bergulat di tengah hawa panas nan pengap, hanya agar para tetangga tahu, “aku bukanlah aku yang dulu.”

Ini ditambah dengan fakta bahwa dalam beberapa kasus, kain-kain panjang itu nyatanya tidak hanya menutupi badan, tetapi juga pola komunikasi dengan masyarakat sekitar. Jangankan untuk bersalaman, shodaqoh senyum ke tetangga pun tak pernah lagi dilakukan (oh, yang ini ga kelihatan ding! sori sori, hehe).

Entah bagaimana awalnya, keputusan untuk menutupi sekujur badan diyakini mampu mendekatkan seseorang pada tuhan, meski pada saat yang bersamaan mereka juga sadar, ada banyak kesempatan silaturahmi yang sengaja mereka tinggalkan. Mereka rela mengabaikan tetangga demi surga yang entah ada di mana…

Atas anggapan ini, muncul kecurigaan bahwa perempuan-perempuan itu sengaja mengasingkan diri dari masyarakat. Sekelompok orang yang mereka pandang terlalu sibuk pada urusan dunia dan melupakan akhirat yang memang belum pernah dikunjunginya.

Kehidupan dunia – termasuk silaturahmi dengan keluarga dan tetangga—tidak lagi menjadi prioritas para perempuan ini, karena hidup ini hanya untuk mengumpulkan bekal mati. Udah, itu saja! Tidak ada jadwal kumpul-kumpul, apalagi nonton sinetron "anak jalanan" di tipi! Semua itu tidak akan dibawa mati.

Berjubalnya model-model pakaian terkini juga seolah tak bisa membangkitkan hasrat memiliki pada perempuan-perempuan ini, kain gelap berangkap-rangkap sudah cukup membuat mereka nyaman tanpa godaan untuk berdandan gila-gilaan. Sampai di sini, para perempuan ini seolah sudah tidak lagi hidup dan tinggal di planet ini. Mereka telah pindah ke alam lain, sebuah alam yang tak pernah bisa dilihat dengan mata tanpa busana (telanjang, astaghfirullah!).    

Namun, merebaknya demam selfie nyaris menjungkirbalikkan anggapan ini; jilbab tebal yang menutupi kepala nyatanya tak mampu membekap otak yang ada di dalamnya. Keinginan untuk dikenal dan dimengerti tak bisa hilang meski kini mereka telah ‘bergelar’ Ukhti.

Pada momen inilah, diskrepansi terjadi. Yakni perbedaan antara actual self dengan ideal self dan ought self. Perbedaan ketiganya tidak jarang membuat seseorang memandang konsep dirinya secara berantakan, terlebih ketika ia menyadari bahwa actual self-nya masih terlalu jauh dari ideal self yang diimpikan.

Baron dan Byrne (2003) memang mengakui bahwa konsep self berasal dari kumpulan keyakinan dan persepsi diri yang telah tertata sedemikian rupa, artinya tiap individu memiliki kebebasan untuk memupuk keyakinan yang ia inginkan demi membangun persepsi diri.

Termasuk untuk meyakini bahwa menutupi badan akan membuatnya lebih ideal. Namun jangan lupa, tuntutan ought self (diri yang seharusnya) kerap membuat seseorang kebingungan untuk membedakan antara diri mereka yang sesungguhnya dan idealnya.

Memiliki konsepsi ideal self yang terlalu tinggi tak jarang justru akan melemparkan diri seseorang jauh dari actual self-nya, ia yang sesungguhnya. Para ukhti yang terlalu tinggi memasang standar ideal self untuk diri mereka misalnya, terlalu mudah lupa bahwa satu-satunya yang berubah dari mereka hanyalah gaya berpakaiannya saja. Dus, mereka tetaplah mereka dengan segala ke-actual self-annya.

Yang seneng arisan tetep arisan, yang seneng ngemall tetep ngemall, dan yang ga seneng apa-apa juga tetep aja begitu. Meski tentu saja, komunitasnya berubah.. arisannya jadi arisan syariah, ngemallnya juga ke mall syariah, dan yang diam ga ngapa-ngapain akan berasalan diamnya karena alasan syariah. Haiyah!

Kini kita tahu, bahwa tuntutan untuk selalu dekat dengan Ilahi beriringan dengan tuntutan untuk selalu tampil trendi. Karenanya bercadar tidak berarti mengasingkan diri, tetapi memilih untuk hanya bersosialisasi dengan orang-orang tertentu yang dipandangnya cocok untuk dikumpuli.

Di sisi lain, perubahan gaya berpakaian yang kearab-araban ini tentu menimbulkan banyak reaksi dari masyarakat, kebanyakan responnya memang negatif, namun seperti telah diperingatkan oleh Malle dan Horowitz (1995), respon paling berbahaya dari perubahan seseorang bukanlah berasal dari respon yang negatif, melainkan respon yang positif.

Baginya, opini negatif dari orang lain hanya akan menimbulkan reaksi-reaksi yang mudah diprediksi. Sebaliknya, opini positif justru menimbulkan reaksi yang lebih sulit untuk dimengerti.

Hinaan atau cacian yang diterima para ukhti bisa jadi hanya akan menimbulkan geram dan marah sesaat, namun pujian setinggi langit dari komunitasnya jelas mampu membesarkan kepalanya dan bahkan, pada tataran tertentu, memandang orang lain yang tidak berjilbab sebagai orang-orang yang sesat.

Para ukhti boleh saja memandang diri sudah sangat dekat dengan Ilahi, namun keinginan untuk tetap diakui dan tampil trendi tidak bisa dengan mudah ditutupi. Mulai banyaknya barisan ukhti yang merias diri –meski kebanyakan hanya dengan mempertebal gambar alis atau menggambar punggung tangan—menjadi bukti bahwa hidup ini bukan hanya tentang dekat dengan tuhan, tetapi juga kemampuan untuk tampil secara kekinian.

Dalam konteks ini, bisa jadi ideal self adalah menutup sekujur badan agar dekat dengan tuhan, sementara ought self adalah beriman sekaligus tampil kekinian, actual self? Hanya tubuh yang dibungkus, sementara imajinasi tetap saja jumpalitan laiknya sirkus.

Selfie di kalangan para ukhti merupakan sebuah pertanda nyata bahwa di balik pengapnya kain berwarna gelap, ada wajah yang ingin selalu diingat. Atau tubuh yang ingin selalu didekap. Ukhti, ajak aku dalam selfie-mu…