Pemerhati Sosial
1 tahun lalu · 527 view · 6 menit baca · Politik 81508_86258.jpg
setkab.go.id

Airlangga Hartarto, Fajar Paper dan Industri Kertas

Akhir tahun 2017 ini, diprediksi sebagai momentum sejarah perkembangan politik yang amat penting, terutama untuk Partai Golkar. Partai yang berlambang pohon beringin ini, akan mengakhiri tahun 2017 dan mengawali, sekaligus menyongsong tahun politik, tahun 2018 dan 2019 nanti dengan ketua umum yang baru melalui Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub), yang rencananya akan digelar tanggal 19 - 20 Desember 2017.

Munaslub ini digelar gegara Setya Novanto, ketum Golkar yang terjerat kasus dugaan korupsi e-KTP oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Siapa ketua umum Partai Golkar yang baru dan pantas untuk menggantikan Setya Novanto itu? Adalah Airlangga Hartarto, pengurus DPP Partai Golkar dan Menteri Perindustrian Kabinet Kerja pemerintahan Presiden Jokowi ini sebagai calon terkuat dan yang digadang-gadang akan menjadi ketua umum Partai Golkar menggantikam Setya Novanto.

Siapa Airlangga Hartarto?

Ir. Airlangga Hartarto, MBA, MMT, (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 1 Oktober 1962; umur 55 tahun), sosok yang disebut-sebut menjadi calon kuat ketua umum Partai Golkar menjelang Munaslub pekan depan. 

Airlangga Hartarto memang menjadi salah satu nama yang digadang kuat menggantikan Setya Novanto menjadi ketua umum Golkar. Ia juga sempat bertarung di Munaslub Golkar tahun 2016 lalu melawan Setya Novanto dan Ade Komarudin. Sayang ia tidak terpilih. Dan Setya Novanto akhirnya yang terpilih menjadi Ketum Golkar.

Di samping pernah menjabat sebagai Ketua Asosiasi Emiten Indonesia periode 20011-2014, Airlangga juga adalah Ketua Komisi VII DPR RI (2006-2009) membidangi energi, lingkungan hidup dan ristek dari Fraksi Partai Golkar dan tercatat sebagai Wakil Bendahara dalam Pengurus DPP Partai Golkar periode 2004-2009, dan pada periode 2009-2015 tercatat sebagai Ketua DPP Partai Golkar.

Ia terpilih kembali menjadi anggota DPR periode 2009-2014 untuk Daerah Pemilihan Jawa Barat V dan menjabat sebagai Ketua Komisi VI yang membidangi perindustrian, perdagangan, UKMK, Investasi, BUMN.

Airlangga Hartarto juga menjadi Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) periode 2006-2009, Ketua Dewan Insinyur PII 2009-2012. Airlangga adalah anggota Majelis Wali Amanah Universitas Gadjah Mada Yogyakarta sd tahun 2012 dan menjadi pemrakarsa Herman Johannes Award, suatu penghargaan bagi inovasi teknologi saat ia menjabat Ketua Keluarga Alumni Fakultas Teknik UGM (KATGAMA) pada tahun 2003. 

Airlangga adalah pemilik sejumlah perusahaan, dan salah satunya ia menjadi Presiden Komisaris dari PT. Fajar Surya Wisesa Tbk. (Sekarang PT. Fajar Paper), perusahaan multinasional yang bergerak di bidang industri kertas.

Ia menempuh pendidikan di SMA Kolese Kanisius Jakarta pada tahun 1981, dan Fakultas Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada tahun 1987. Airlangga Hartarto mendapatkan gelar MBA dari Monash University Australia tahun 1996 dan Master of Management Technology (MMT) dari University of Melbourne, Australia, tahun 1997.

Semasa studi Airlangga sudah aktif menjadi Wakil Ketua OSIS SMA Kanisius dan kemudian tepilih menjadi Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Teknik UGM. Ia juga pernah menjadi Ketua Barisan Muda KOSGORO 1957.

Airlangga pernah mengungkapkan bahwa ia mengagumi ajaran Mahatma Gandhi menyangkut tujuh hal yang harus dihindari, yakni kaya tanpa bekerja, kesenangan tanpa kesadaran, pengetahuan tanpa karakter, bisnis tanpa moral, ilmu tanpa kemanusiaan, penghargaan tanpa pengorbanan, dan politik tanpa prinsip.

Airlangga Hartarto menulis buku Strategi Clustering dalam Industrialisasi Indonesia (terbitan Andi Offset, Yogyakarta, 2004). Airlangga adalah putra dari Ir. Hartarto yang pernah menjabat Menteri Perindustrian di era presiden Soeharto, yaitu pada Kabinet Pembangunan IV (1983-1988) dan Kabinet Pembangunan V (1988-1993) dan Menteri Koordinator bidang Produksi dan Distribusi (Menko Prodis) pada Kabinet Pembangunan VI (1993-1998).

Beberapa alasan yang bisa diungkap bahwa Airlangga Hartarto adalah calon terkuat dan layak menjadi ketum Partai Golkar pasca Setya Novanto, antara lain:

1) Airlangga Hartarto sudah mendapat restu Presiden Jokowi. Kenapa perlu restu Presiden? Karena ia adalah pembantu presiden, yang dalam hal ini, ia sebagai Menteri Perindustrian. Bukan berarti presiden mau ikut campur dan nimbrung dalam urusan intern rumah tangga Partai Golkar. Hanya saja, tujuannya agar nanti ia tidak dipermasalahkan jika merangkap jabatan sebagai menteri dan ketua umum partai.

2) Airlangga Hartarto memiliki kapabilitas dan integritas dalam memimpin partai Golkar ke depan.

3) Airlangga Hartarto adalah sosok yang bersih atau tidak pernah terkena kasus hukum yang berkaitan dengan korupsi.

4) Airlangga Hartarto adalah sosok yang bisa diterima oleh berbagai kalangan intern partai Golkar, termasuk generasi milinea sekalipun.

5) Airlangga Hartarto adalah sosok yang bisa memulihkan muruah dan mengangkat elektabilitas partai Golkar, mampu menyatukan berbagai kepentingan dan menjalin komunikasi dengan baik, baik itu intern maupun ekstern partai.

6) Last but not a least, Airlangga Hartarto adalah politisi sekaligus pengusaha yang sangat mengerti dunia industri. Catat itu!

Atas alasan-alasan itu semua, paling tidak, Airlangga Hartarto adalah sosok yang sangat pantas membawa Partai Golkar ke depan untuk lebih baik dan melepaskan kemelut dalam Partai Golkar pasca Setya Novanto selama ini. Bravo, Airlangga Hartarto!

Sekilas tentang Fajar Paper

PT. Fajar Paper (PT. Fajar Surya Wisesa Tbk.), perusahaan yang bergerak di bidang industri kertas terletak di Jl. Imam Bonjol Cikarang Barat Bekasi, tidak jauh dengan tempat saya tinggal. Hanya beberapa meter jaraknya.

Fajar Paper berdiri pada tanggal 29 Februari 1988. Perusahaan ini merupakan produsen kertas kemasan terkemuka di Indonesia. Hal ini tak khayal karena pabriknya mampu memproduksi dengan lebh dari kapasitas 1.200.000 metrik ton per tahunnya. Produk yang dibuat antara lain Kraft Liner Board dan Corrugated Medium Paper untuk kemasan karton kotak dan Coated Duplex Board yang dipakai untuk kemasan display.

Pada awal kemunculannya Fajar Paper merupakan sebuah perseroan terbatas. Namun pada tanggal 19 Desember 1994, Fajar Paper mampu mencatatkan sahamnya dalam Bursa Efek Jakarta untuk pertama kalinya.

Perusahaan yang didirikan oleh Airlangga Hartarto dan Winarko Sulistyo ini berhasil mendapatkan sertifikat ISO 9001 pada tahun 2003. Beberapa tahun kemudian tepatnya pada tahun 2010 juga berhasil mendapatkan sertifikat ISO 14001. Perkembangan industri Fajar Paper memang mengalami angka yang signifikan. Hal ini dibuktikan pada tahun 2012 Fajar Paper berhasil membukukan sebesar 1,2 juta T per tahun.

Beberapa produk unggulan dari Fajar Paper antara lain Coated duplex board yang merupakan kertas putih dengan lapisan mengkilap yang biasanya dipakai untuk bahan kemasan ringan. Kertas ini sangat ideal untuk menghasilkan bahan yang membutuhkan hasil cetakan berkualitas tinggi. Kertas ini biasa digunakan untuk produk farmasi, sepatu, peralatan rumah tangga, makanan olahan dan elektronik konsumen.

Selain itu juga memproduksi Container Board, kertas cokelat berkualitas tinggi dengan lapisan luar dari lembaran bergelombang. Hal ini dibuat dengan tujuan memberikan perlindungan efektif terhadap permukaan yang mengandung cetakan kualitas tinggi. Kertas ini terbuat dari 100% kertas daur ulang.

Dengan komitmen tinggi menjaga kualitasnya membuat Fajar Paper mendapatkan beberapa penghargaan, seperti Highly Commended Best Structure Trade Deal Indonesia oleh The Asset Asian Awards tahun 2012, klasifikasi "PROPER" dengan rangking "BLUE" dari Kementerian Lingkungan, serta menerima sertifikat No. OHS-2011-0391, No. 2010-0479, dan No. 95-2-0524 dalam komitmen menjaga kesehatan dan keselamatan kerja, sistem manajemen lingkungan serta sistem manajemen kualitas.

Industri Kertas, Usaha yang Menjanjikan dan Tak Pernah Mati

Sejarah yang jelas telah mencatat bahwa keberadaan mesin cetak dan kertas adalah salah satu pencapaian tertinggi dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kita mengenal jejak ilmuan, pemikir atau tokoh-tokoh penting dalam sejarah pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk kitab suci, tidak lain dan tidak bukan, karena adanya peran kertas dan percetakan.

Sampai kapan pun, dan atas alasan apa pun, termasuk kemajuan alat komunikasi digital dan internet sekalipun, selain untuk kebutuhan-kebutuhan lain, seperti tisu, mengepak barang (packaging paper), kartu undangan, kartu ucapan, dan seterusmya; apalagi untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi berupa buku dan media cetak, keberadaan kertas tetap sangat penting dan dibutuhkan.

Pada kondisi ini, industri kertas adalah usaha yang strategis, menjanjikan dan tak akan pernah mati. Percayalah, tak peduli dengan adanya kemajuan teknologi alat komunikasi berupa digital dan internet secanggih apa pun di zaman now atau zaman next sekalipun, kertas tetap menjadi kebutuhan vital umat manusia. Di mana ada manusia, di situ ada kertas. Kertas adalah teman setia manusia. Manusia dan kertas adalah kehidupan.

Airlangga Hartarto adalah salah satu dari sekian pengusaha yang paham betul peluang ini. Usaha dalam bidang industri kertas adalah pilihannya yang tepat dan menjanjikan. 

PT. Fajar Paper adalah bukti kecerdasannya melihat peluang usaha dalam bidang industri kertas ini. Tak berlebihan, menurut saya, jika dikatakan bahwa Airlangga Hartarto, Fajar Paper dan industri kertas adalah realitas politik dan ekonomi Indonesia (bukan saja sekadar bagi Partai Golkar), yang tidak bisa dipandang sebelah mata.