Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. 

Kiranya pribahasa di atas dapat menggambarkan keadaan kami yang berencana muncak menuju Gunung Haur Bunak di Desa Pa'au, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, Kal-Sel. Cuaca hujan tidak mendukung rencana saya dan sembilan teman yang lain untuk mendaki ke sana.

Sejak pagi keberangkatan, cuaca memang sudah mendung. Tapi mau bagaimana lagi, rencana yang sudah disusun jauh-jauh hari harus tetap dijalankan, kan?

Guyuran hujan menemani keberangkatan kami dari desa Bati-Bati (tempat tinggal kami) menuju dermaga kapal penyeberangan Riam Kanan. Ya, gunung Haur Bunak terletak di sebuah pulau yang berada di tengah-tengah waduk Riam Kanan.

Sesampainya di sana, cuaca mulai cerah. Awan-awan gelap perlahan bergeser dan membukakan jalan agar sang Surya dapat menampakkan eksistensinya. 

Dari dermaga Riam Kanan kami menyebrang menuju Pulau Pa'au dengan durasi perjalanan kurang lebih 2 jam. Lumayan lama, wajar memang karena kami menggunakan transportasi taksi air, sehingga banyak pulau yang harus disinggahi. 

Kapal pun berlabuh di dermaga pulau Pa'au. Di sana, kami di sambut oleh seorang warga dan dipersilakan untuk istirahat sebentar di rumahnya. 

Dari sinilah drama dimulai dan kisah bermula, cuaca yang tadinya cerah tiba-tiba berubah menjadi mendung lagi dan akhirnya hujan. Hati kami mulai gelisah. Kegelisahan pun bertambah dengan kabar bahwa gait -sebutan untuk orang yang menjadi pemandu menuju gunung- di kampung tersebut tidak ada, mereka menyeberang pergi ke kota. Warga di sana menawarkan kami pergi ke air terjun Panyaluhan saja, yang terletak di kaki gunung Haur Bunak.

Apalah daya, sudah kepalang tanggung, daripada pulang sia-sia tanpa membawa cerita, akhirnya kami mengiyakan tawaran tersebut. 

Sehabis berkemas, menjelang malam, kami memulai perjalanan. Di sepanjang jalan sebelum memasuki hutan, saya melihat-lihat sekeliling. Sepertinya, listrik di desa yang terletak di tengah-tengah pulau itu hanya menyala pada jam-jam tertentu.

Asumsi saya ini berdasarkan pengamatan pada hari yang sudah menjelang malam dan mulai gelap, namun tak satupun penduduk yang menyalakan lampu rumahnya, padahal ada lampu yang terpasang di setiap rumah. Jika benar asumsi tersebut, hal itu tidak terlalu mengherankan. Sebab, di desa itu juga belum tersedia jaringan internet. Bahkan jaringan untuk telepon dan SMS pun masih belum ada. 

Namun, itu hanya sebatas asumsi, bisa saja kebetulan listrik di desa itu sedang padam. Entahlah.

Hari semakin gelap, lampu senter mulai dihidupkan guna membantu penerangan jalan di hutan. Hujan rintik-rintik masih mengguyur kami sepanjang perjalanan.

Untuk orang sekelas saya, perjalanan itu cukup berat. Walaupun air terjun Panyaluhan hanya terletak di kaki Gunung, namun perjalanannya lumayan menguras waktu dan tenaga. Kurang lebih 4 jam kami habiskan untuk menuju air terjun Panyaluhan. Medan yang menanjak dan menurun, ditambah lagi tanah yang becek, menjadi tantangan tersendiri bagi saya dan teman-teman yang lain. 

Selain itu, di tengah-tengah perjalanan kami harus melewati anak sungai yang cukup deras, yang mengharuskan kami saling berpegangan agar tak terseret arus. Sesekali saya dan teman-teman istirahat sebentar, sekedar untuk minum dan sambil menunggu teman yang tertinggal di belakang.

Perjalanan panjang dan melelahkan malam itu kami akhiri di sebuah selter. Selter yang kami pakai menginap merupakan selter kedua di hutan itu, setelah selter yang pertama sudah kami lewati di awal memasuki hutan. Kami memasang tenda, makan-makan dan bersiap untuk tidur. Perjalanan menuju tujuan utama, Air Terjun Penyaluhan, akan dilanjutkan esok pagi. Jarak antara selter tempat kami menginap dengan air terjun tidak jauh, sekitar 15 menit perjalanan. 

Paginya, setelah menyantap bekal dan menikmati secangkir kopi. Kami bersiap-siap berangkat. Tanpa membawa tas dan perlengkapan lainnya, kami berangkat hanya memakai pakaian yang ada di badan. Barang-barang dan perlengkapan ditinggal di selter.

Menuju ke sana, medan yang dilalui jauh lebih menantang dibanding perjalanan sebelumnya, namun karena jarak yang ditempuh tidak terlalu jauh, sehingga lelah tidak terasa.

Hutan tempat bersemayamnya air terjun Penyaluhan ini memang masih hutan asli. Disitu masih ditemui pohon yang tingginya belasan meter dengan diameter yang cukup besar. Bukti keaslian lainnya, jika kami melintasi anak sungai, tak jarang pacat (binatang pengisap darah) ikut menempel di kaki, tangan bahkan sampai ke leher. Itu merupakan pengalaman paling horor yang saya alami selama di hutan, ditempeli pacat.

Tak terasa, akhirnya kami tiba di air terjun Penyaluhan. Di luar ekspektasi, ternyata air terjunnya jauh lebih tinggi dan lebih besar dari yang dibayangkan. Mungkin tingginya mencapai puluhan meter. Ditambah lagi air yang sangat deras, tidak memungkinkan kami untuk berlama-lama  di sana, apalagi mau mandi.

Lagi enak-enaknya menikmati indahnya air terjunnya Penyaluhan, saya teringat lelahnya perjalanan menuju ke sini. Kemudian terbesit sebuah pertanyaan. Apakah alam yang terlalu hebat atau manusia (termasuk saya sendiri) yang memang lemah? 

Manusia lah yang sok hebat, itulah jawaban saya. Di hutan, manusia tidak ada apa-apanya. Kalah tinggi dibanding pohon-pohon di sana. Kalah kuat di banding arus air. Kalah tangkas ketika berhadapan dengan lereng terjal, mudah terpeleset. Sedari dulu alam tetaplah seperti itu, tidak ada yang berubah. 

Ya begitulah manusia. Ditengah ketidakberdayaannya, mereka masih saja berani menantang alam dengan menebang pohon sembarangan, mengeruk tanah secara berlebihan dan mencemari air. Ketika banjir bandang, tanah longsor dan kelangkaan air terjadi, semakin terlihatlah ketidakberdayaan manusia melawan alam. Semoga hutan tempat bersemayamnya air terjun Panyaluhan ini tidak menjadi korban kesekian kalinya ulah tangan kebrutalan sebagian oknum yang tidak bertanggung jawab. 

Setelah mengabadikan momen dengan beberapa jepretan kamera gawai, kami memutuskan untuk kembali ke selter dan bersiap untuk pulang  

Walaupun sebentar, saya rasa itu sudah cukup untuk melihat keindahan air terjun Penyaluhan. Tak rugi rasanya menempuh perjalanan 4 jam lamanya menuju ke sana. 

Ketika teman-teman saya ramai mengupload foto dan video perjalanan mereka di medsos. Saya memutuskan untuk mengabadikan perjalanan ini dalam sebuah tulisan (yang sedang kalian baca).