Lautan takkan pernah surut selama air mata manusia terus mengalir karena derita dan suka.

Derai-derai air mata manusia mengembun terbang di angkasa menjelma awan, awan itu akan melebur menjadi air hujan membasahi tanah.

Dari tanah tersebut, lalu melahirkan benih-benih pepohonan yang rindang dan ketahuilah kekasih, pohon rindang tempatmu berteduh itu berasal dari tangis yang terkasih.

Dedaunan pohon itu lalu gugur satu-persatu menyisakan kenangan meskipun selanjutnya engkau menyapunya tanpa sisa, jika hujan telah tiba, keluarlah dari rumah dengan segera.

Agar engkau rasakan tangis rindu yang terkasih, jangan bertanya aku sedang bagaimana, aku sedang berada dalam hutan yang berkabut, penuh dengan namamu.

Benar, aku sedang tersesat karena senyum lengkungmu itu, Senyum yang menggariahkan dan senang mendesah, membuat manusia manapun yang memandangnya akan berhalusinasi berada dalam surga.

Senyumanmu ialah benalu keindahan, terbang dengan sayap-sayap yang menyejukkan sanubari, siapapun ingin menangkapnya dengan langkah kaki yang takkan pernah lelah dan menyerah.

Berkibar membentang menjadi saingan segala keindahan yang memancar di dunia, menancap secara kekar hingga tiba muram sebagai mendung yang asam.

Air mata mu lalu jatuh di pipi hingga mengering bagaikan oase di gurun pasir, aku ingin menyekahnya dengan kebahagiaan, namun engkau menolak karena takdir alam.

Bagaimanapun, kita ialah sepasang kisah yang menyatu lalu berpisah, dengan tiba-tiba dan melangkah sepanjang jalan tanpa menoleh ke belakang.

Air mata merupakan warisan abadi manusia, selama manusia tidak menangis, maka ia tidak pantas disebut manusia.

Jika semua manusia menangis secara serentak, bumi akan diselimuti air mata, penuh dan keluh, air mata memang tidak berkata-kata, tetapi air mata menetes dibarengi sebuah cerita.

Aku berdansa dengan maut, lalu air mata datang menghampiri, dengan segera, air mata yang menyimak keheningan dan kehampaan hidup.

Tak perlu kata-kata dalam menjelaskan sebuah makna, hanya air mata lah sejujurnya alur cerita, menetes, terjun deras ke pipi mungil.

Sendu dan candu.

Makhluk manakah yang tak mempunyai air mata? Semua makhluk berhak atas air mata.

Air mata yang di dalamnya terdapat luka-luka yang membekas di jiwa, air mata yang bercahaya, berkilau seterang rembulan purnama, berkedip-kedip tanpa jeda.

Mengapa Tuhan menciptakan air mata? Tanpa tangis, air mata datang menghampiri dengan ceria.

Mendekapmu, lalu berbisik-bisik di telingamu bahwa semua akan baik-baik saja, menangislah dengan sunyi, pandangilah segala arah, air mata bukanlah lawan, apalagi kawan, air mata ialah dirimu sendiri.

Tangisilah segala apa yang datang dan apa yang telah pergi, menangislah dengan hembusan angin gunung yang segar.

Biarkan tangisanmu di dengar oleh alam, jangan sesekali sembunyikan air mata mu, menangislah dengan keberanian, menangis bukanlah ketakutan.

Air mata mu yang lapar, air mata yang meronta-ronta untuk menetes dengan segera, tanamlah air mata dalam taman pengalaman, biarkan air matamu telanjang, menghadapi kenyataan.

Alirkan air matamu ke sungai yang paling keruh, agar ikan-ikan disana memahami perasaanmu saat ini.

Agar tumbuh-tumbuhan di pinggir sungai mendengar ceritamu, lalu bertepuk tangan dengan meriah.

Tumpahkan air matamu di danau yang paling dalam, agar air matamu menjadi bendungan keindahan danau-danau yang penuh sampah dan limbah.

Menangislah di gunung, agar pepohonan merenung akan air matamu yang menjadi sumber fotosintesis.

Daun-daun yang berguguran pun terbang dan menyanyi dengan lantang tentang isi air mata.

Namun jangan menangis di perkotaan, jangan pernah dan jangan pernah, perkotaan hanya menjadikan air matamu sebagai air kotor dan perlu dibuang.

Ketahuilah, hanya tisu yang rela menjadi pendengar air mata yang setia, tangis-tangis yang mengolok kesunyian malam.

Air mata yang berjatuhan di keramaian siang, air mata yang membeku, lalu mencair kembali mencari-cari tempat berlabuh, air mata yang menunggu akan suatu yang datang, air mata yang merindu akan suatu yang hilang, air mata yang jatuh berpisah-pisah, lalu menyatu dalam samudra.

Sadarkah kita bahwa air mata yang telah menjadi dingin-dingin malam, bunga-bunga yang mekar dengan indah karena air mata.

Gejolak air mata yang berontak berombak-ombak dalam keresahan, hembuskan air matamu sekencang-kencangnya, sampai-sampai air matamu menjadi hujan deras yang membasahi sekujur tubuhmu.

Sapalah air matamu yang bersembunyi dalam gua sepi, ajaklah air matamu bersemi di bulan kemarau.

Air mata yang membuatmu lupa akan jati dirimu, air mata yang menggema dengan datar, air mata yang tak dipedulikan dan tak dipahami, air mata yang menyegarkan perasaan, luka, dan senyuman.

Kapankah terakhir kali engkau menangis dan mencampakkan air matamu itu? Sesekali kunjungilah air matamu sebagai apapun yang engkau inginkan.

Air mata yang menyimpan kenangan-kenangan pengalaman yang pada saatnya akan meluber dan melebar.

Air mata yang berisi hamparan cinta dan benci.