2 tahun lalu · 195 view · 4 min baca menit baca · Sejarah kawa.jpg
Wikipedia

Aia Kawa Daun

Tak Ada Biji, Daun Pun Jadi

Di dalam kamar, Galeng, yang belakangan akan berganti nama menjadi Wiranggaleng, dan kekasihnya Idayu tidak bisa tidur hingga tengah malam. Galeng menyalahkan minuman berwarna hitam yang disuguhkan Syahbandar Tuban pada jamuan makan malam mereka.

Galeng pun mengumpat dan menyebut minuman tersebut sebagai minuman setan. Sebab, setelah meminum itu, dia dan Idayu merasa jantung berdebar lebih kencang sehingga susah untuk tidur.

Syahbandar yang bernama Tholib Sungkar itu menyeduh tepung hitam dan gula ke dalam cawan-cawan jamuan saat jamuan makan tadi. Cawan-cawan itu dihampar air panas mendidih hingga tepung hitam didalamnya mengepul. Tidak lupa minuman di dalam cawan itu di aduk hingga menyebar aroma yang kuat.

“Inilah minuman Raja-Raja jauh di atas angin sana. Ingat-ingat nama minuman ini: Kah-wa!,” terang Syahbandar itu. Ia pun bercerita lagi, hanya Raja dan Ratu Ispanya yang mampu meminum minuman tersebut dua kali dalam sehari. Sedangkan Raja dan Ratu Peranggi bisa sampai tiga kali sehari. Mereka semua membelinya dari para pedagang arab.

Penggalan cerita di atas berasal dari novel epos sejarah Pramoedya Ananta Toer berjudul “Arus Balik”. Latar tempat ceritanya ialah Nusantara abad ke enam belas pasca kemunduran Majapahit. Di mana banyak pelabuhan di nusantara tengah berkembang pesat.

Salah satunya Tuban yang sering disinggahi pedagang-pedagang eropa, yang diistilahkan dalam novel tersebut sebagai orang-orang negeri di atas angin. Untuk mengasosiasikan wilayah yang berada jauh diatas garis lintang.

Adapun minuman yang diseduh dengan tepung hitam itu tak lain ialah bubuk kopi. Galeng mungkin tidak tahu, kalau debar jantung yang menyulitkan ia tidur disebabkan meningkatnya adrenalin dalam tubuh akibat konsumsi zat bernama kafein. Zat yang namanya berasal dari nama biji yang ditumbuk menjadi seduhan minuman tersebut.

Dari penuturan novel Pram itu, digambarkan bahwa sebenarnya minuman kopi sendiri ialah barang baru di Nusantara pada abad pertengahan. Kopi nasgitel, panas legi (manis) kentel (kental), istilah yang sering kita dengar di jawa saat ini tentu belumlah ada.

Air kah-wa yang disebutkan syahbandar tersebut mengingatkan saya pada aia kawa yang saya nikmati saat pulang ke kampung halaman ayah saya, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Kala itu saat sarapan sate dangung-dangung, varian dari sate khas minangkabau yang menonjolkan penggunaan kunyit dan rasa manis, di saat itulah saya mencoba aia kawa.

Bedanya sebutan minuman aia kawa itu bukan minuman dari bubuk biji kopi. Melainkan rebusan air dengan daun kopi yang telah di sangrai. Minuman tersebut disajikan dalam tempurung kelapa yang telah dibersihkan dengan penyangga potongan bambu pendek di bawahnya. Orang-orang di kampung itu percaya bahwa minuman ini memiliki banyak khasiat yang baik bagi tubuh.

Ayah saya sendiri meyakini asal nama aia kawa, yang ia dapati dari cerita turun temurun, berasal dari cara penyajiannya yang menggunakan tempurung kelapa. Bentuk tempurung ialah simbol dari kawah Gunung Marapi.

Gunung yang menjadi tempat sentral kebudayaan agraris bangsa minangkabau. Tempat yang di percaya menjadi cikal bakal lahirnya nenek moyang orang minang. Tentunya etimologi itu tidak tercatat dan sulit di konfirmasi. Pengalaman saya yang besar di pesisir Riau daratan, kawah sendiri juga bisa merujuk pada kuali penggorengan yang terbuat dari logam. Penggunaan istilah tersebut akrab digunakan oleh orang-orang melayu semenanjung.

Namun, penyebutan aia kawa juga memiliki variasi. Di beberapa tempat seperti di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat mayoritas menyebutnya kawa daun. Sehingga di kedai-kedai sepanjang jalan di sana banyak bertuliskan “Sedia Kawa Daun”. Minuman ini mulai digemari. Padahal dahulu, identik sebagai minuman orang-orang tua.

Saat ini minuman tersebut tampil menjadi kuliner tradisional yang khas di tempat-tempat wisata di Sumatera Barat. Khususnya tempat wisata di daerah pegunungan yang dingin.

Penyebutan aia kawa juga bisa merujuk pada variasi asing, khususnya dari pedagang arab, yang diceritakan Pram lewat penjelasan oleh tokoh novelnya sang Syahbandar Tuban, untuk menyebut tumbuhan kopi. Kah-wah atau kehwa penggunaan sebutan ini juga sulit di lacak akarnya.

Variasi sebutan tersebut seperti, qehwa atau kahwa,juga di kenal di kawasan Kashmir dan Asia Tengah. Akan tetapi penggunaannya untuk menyebut minuman aromatik yang berasal dari pucuk daun teh. Sementara itu di Eropa abad pertengahan, biji kopi banyak di dapat dari pedagang Arab. Tampaknya dari sanalah bermula nama café bagi pedagang Perancis, yang di sebut pedagang Inggris sebagai coffee.

Masih dari pengetahuan yang didapatkan Ayah saya dari cerita orang-orang tua di kampungnya, aia kawa ialah bentuk inovasi semasa penderitaan di zaman kolonial dahulu. Meskipun menanam kopi di tanah sendiri, tapi para petani itu tidak bisa menikmati biji kopinya sendiri.

Penjelasan tersebut bisa dilengkapi dalam konteks Kolonial Belanda yang menerapkan sistem tanam paksa (Cultuurstelsel) di Hindia Belanda. Defisitnya anggaran kerajaan akibat tiga perang di periode yang bersamaan yakni Perang Jawa, Perang Padri dan Revolusi Belgia membuat Belanda berusaha menaikkan jumlah produksi komoditas perkebunan yang punya nilai ekonomis tinggi, salah satunya kopi.

Setiap masyarakat di Hindia Belanda diwajibkan menanam komoditi ekspor tersebut dan hanya diperbolehkan menjualnya kepada Pemerintah Belanda. Namun, keinginan untuk menikmati citarasa tumbuhan kopi tidak hilang begitu saja. orang-orang zaman kolonial di kampung Ayah saya itu tidak hilang akal untuk meracik daun-daun kopi yang memang tidak diperdagangkan dan dianggap tuan tanah tidak punya nilai ekonomis.

Budaya minum kopi mungkin tidak akan segencar ini tanpa kolonialisasi. Tanaman asal afrika tersebut yang awalnya ditemukan seorang penggembala kambing ethiopia tersebut, sudah menjadi gaya hidup urban modern.

Di Eropa abad pertengahan, permintaan kopi meningkat di kalangan elit dan bangsawan. Dengan segmen konsumen seperti itu mengakibatkan tidak semua kalangan bisa menikmati kopi saat itu. Sehingga tidak semua masyarakat mengenal apa itu kopi.

Kalangan elit yang mampu menikmatinya digambarkan oleh Pram lewat penjelasan Syahbandar Tuban, hanya Raja Ispanya (Spanyol) yang mampu menikmati kopi dua kali sehari. Sementara Peranggi (Portugis) tiga kali sehari. Minum kopi pun jadi ukuran keunggulan suatu bangsa dari bangsa yang lainnya.

#LombaEsaiKemanusiaan

Artikel Terkait