Ketika mendapatkan hadiah Gift card tahun kemarin, tanpa berpikir panjang, saya langsung membeli “In our own Image” karangan George Zarkadakis. Sebuah buku yang memuat topik yang lagi hangat dibicarakan. Topik tersebut adalah tentang bangkitnya teknologi kecerdasan buatan atau Artficial Intelligence (AI). Kata bangkit disini mungkin kurang tepat digunakan karena sekarang penggunaan AI sudah merebak dan mulai merambah berbagai sektor.

Penggunaan AI di Indonesia mungkin belum nampak terlihat jelas. Tetapi di negara-negara maju, penggunaan AI sudah bukan lagi wacana baru, melainkan fakta kehidupan sehari-hari. Para ilmuwan dan cendekia kini berdebat sengit tentang implikasi AI dalam kehidupan manusia.

Artificial Intelligence atau yang sering disingkat dengan AI adalah salah satu cabang ilmu komputer yang fokus dengan bagaimana membuat mesin menjadi cerdas seperti manusia, sehingga dia dapat melakukan pekerjaan yang dikerjakan manusia. Para ilmuwan membagi kecerdasan buatan kedalam tiga tipe. Tipe yang pertama adalah apa yang sering disebut dengan ANI atau artificial Narrow Intelligence, kecerdasan buatan yang sifatnya sempit, minimalis atau terbatas hanya pada satu jenis tugas tertentu. ANI sering disebut juga sebagai Weak AI. ANI bisa dijumpai dengan mudah. Mulai dari mesin pencari Google, Siri, games, robot penyedot debu atau mesin di pabrik-pabrik. 

Tipe kedua adalah AGI, Artificial General Intelligence atau strong AI. AGI adalah AI yang memiliki kecerdasan umum yang sama dengan kecerdasan rata-rata manusia. Ketika AI sudah sampai ke tahap AGI, maka ia sudah dapat melakukan segala jenis pekerjaan atau tugas yang sama yang dapat dilakukan oleh umumnya manusia. Sebuah AI bisa dibilang sebagai AGI ketika ia sudah melewati ujian-ujian. 

Salah satu ujian yang terkenal adalah Tes Turing yang dikemukakan oleh Alan Turing. Menurut tes Turing, sebuah AI bisa dikatakan telah mencapai kecerdasan umum apabila manusia sudah tidak bisa lagi membedakan antara percakapan yang dibawakan oleh manusia dengan percakapan yang dibawakan oleh mesin. Sebagai catatan, Siri, Google, Alexa dan Cortana masih tergolong sebagai ANI, bukan AGI. Meski mereka terkesan seolah-olah berbicara seperti manusia, namun kemampuan berbicaranya masih tergolong sangat primitif. AI yang sudah mencapai tahap AGI akan membuat si Mamat tidak bisa membedakan apakah ia berbicara kepada Siri atau neng Sari.

Tipe terakhir, ini adalah tipe yang bagi sebagian kalangan dianggap mengerikan, adalah ASI atau Artificial Superintelligence. Stephen Hawking pernah menyatakan pendapatnya di BBC bahwa AI bisa menjadi penyelamat atau penghancur ras manusia. Di kesempatan lain, Elon Musk seorang pengusaha teknologi kenamaan pernah berkata bahwa menciptakan AI sama dengan “memanggil setan”. Tentunya pernyataan-pernyataan tersebut terkesan hiperbolik. 

Namun pernyataan tersebut bukan mengada-ngada karena ASI adalah AI yang sudah melebihi kecerdasan manusia. Bayangkan tentang kehadiran seseorang yang paling cerdas di dunia, dan ASI jutaan kali lebih cerdas dari manusia tersebut. Ini bukan sebuah khayalan Science-fiction. Para ahli banyak yang sepakat bahwa ASI, tidak menutup kemungkinan, akan hadir dalam kehidupan manusia. Yang tidak mereka sepakati adalah soal waktunya kapan.

Saya tidak akan membahas soal AGI dan ASI yang kehadirannya masih spekulatif (meski bukan berarti tidak akan terjadi). Fokus tulisan ini adalah soal ANI. Meski terkesan remeh, ANI sudah hadir dalam kehidupan kita sehari-hari. ANI membawa tantangan tersendiri buat umat manusia secara umum yang apabila tidak dihadapi dengan serius maka akan membawa masalah besar pada berbagai bidang kehidupan. Masih ingat dengan kasus kendaraan online seperti Uber, Gojek dan sebagainya yang sempat membuat ricuh antara pengemudi tradisional dengan pengguna jasa online. Nah, dampak ANI akan jauh lebih besar lagi dari itu.

Salah satu aplikasi ANI yang paling nyata dan mudah dijumpai adalah otomatisasi pekerjaan. Baru-baru ini PWC, salah satu korporasi konsultan terbesar di dunia, menyatakan bahwa otomatisasi pada tahun 2030 dapat membabat habis pekerjaan di Inggris sebanyak 30%, di Amerika sebanyak sebanyak 38% dan di Jerman sebanyak 35%. Pekerjaan yang paling besar terkena dampak adalah pekerjaan yang sifatnya kasar, manual atau rutin, seperti kasir, buruh pabrik, sopir dan seterusnya. Pekerjaan-pekerjaan tersebut gampang dialihkan ke mesin karena sifatnya yang sederhana. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut McKinsey, lebih dari 50% pekerjaan di Indonesia dapat terkena dampak otomatisasi.

Otomatisasi dapat merampas pekerjaan para sopir ketika kendaraan sudah tidak lagi membutuhkan pengemudi. Pernah mendengar istilah self driving car yang dibuat oleh Google? Kendaraan otomatis tersebut bisa beroperasi sendiri berkat bantuan AI. Google tidak sendirian, perusahaan seperti Uber, Toyota, volvo dan Audi pun tidak mau kalah bersaing. Ini masuk akal karena jika mereka masih bertahan dengan konsep kendaraan lama, maka kompetitor lain akan menguasai pangsa pasar. 

Konsep kendaraan otomatis ini sangat menggiurkan karena bukan hanya menawarkan kenyamanan (tidak perlu capek nyetir, lelah dan emosional di jalanan), tetapi juga keselamatan. Apabila melihat angka statistik, banyak sekali angka kecelakaan di jalan yang diakibatkan oleh kelalaian pengemudi. Kendaraan otomatis yang didukung oleh kemajuan AI dan Internet of Things (IoT), dipercaya lebih aman dan memberikan jaminan keselamatan sehingga dapat menurunkan angka kecelakaan. Kendaraan yang dikendalikan oleh robot tidak akan lelah, mengantuk atau melanggar aturan lalu lintas.

Otomatisasi adalah pilihan terbaik dan menjadi keharusan bagi para pemilik pabrik karena dapat meningkatkan efisiensi produksi. Bayangkan sebuah pabrik yang dikendalikan sepenuhnya oleh robot. Dia tidak akan mengalami kelelahan, sakit, atau minta cuti. Lebih dari itu, robot tidak akan mengeluh atau berdemonstrasi meminta kenaikan upah. Pengusaha paling hanya perlu bekonsentrasi pada perawatan dan investasi teknologi yang lebih canggih lagi. Namun di sisi lain, otomatisasi adalah kabar buruk bagi mereka yang hanya bermodal tenaga fisik. Serikat pekerja mungkin dapat menekan pengusaha untuk tidak terburu-buru menerapkan teknologi terbaru. Tapi berapa lama hal tersebut akan bertahan, dan berapa banyak ongkos yang harus dikeluarkan?

Pekerjaan yang sifatnya profesional pun tidak akan luput dari otomatisasi. Penggunaan AI di bidang kesehatan akan menjadi fenomena yang sangat umum di masa depan. Sedikit demi sedikit, robot akan mengambil alih tugas dokter seperti mendiagnosa penyakit atau memberikan saran kesehatan. Baru-baru ini Google DeepMind bekerja sama dengan NHS (National Health Service) di Inggris untuk penggunaan aplikasi yang dapat memberitahukan kondisi pasien kepada dokter dan perawat.

Di sektor keuangan, sudah banyak bank-bank besar yang berinvestasi di AI. Trend yang terjadi sekarang adalah Bank mulai bergeser dan menaruh perhatian besar pada teknologi AI. Dalam jangka panjang hal ini akan berdampak pada berkurangnya jumlah profesional di sektor keuangan. Saya tidak berbicara tentang teller atau mereka yang duduk manis di front office, tetapi posisi sektor keuangan yang lebih besar lagi seperti di asuransi, Investment Bank dan Hedge Fund. Ray Dalio, salah satu manajer keuangan terbesar di dunia diberitakan menggunakan AI untuk mengambil keputusan-keputusan penting di perusahaannya.

AI bukan hanya merambah sektor kesehatan dan keuangan, tetapi juga sektor hukum. Regulatory Technology atau ‘Regtech’ adalah salah satu sektor yang kini sedang mulai naik daun. Mungkin AI tidak akan menggantikan advokat besok atau lusa. Tapi dalam jangka waktu 10 atau 20 tahun, siapa yang tahu?

Saat ini kita dihadapkan pada persoalan besar yang belum ada jawabannya. AI setiap hari semakin canggih dan semakin lihai dalam melakukan pekerjaan yang dilakukan oleh manusia. Lalu di masa depan adakah pekerjaan yang masih tersisa yang masih dapat dikerjakan oleh manusia? 

Jika kita umat manusia menjadi pengangguran berjamaah, apa yang harus dilakukan untuk menghidupi kehidupan sehari-hari? 

Para cendekia di Barat, baik dari kelompok kiri atau kanan menyatakan pentingnya kebijakan Universal Basic Income (UBI) atau pendapatan dasar menyeluruh, dimana semua warga menerima tunjangan gajih dari pemerintah tanpa kecuali supaya mereka dapat tetap hidup di era otomatisasi. Tetapi jika dipikir lebih jauh lagi, urusan bekerja bukan hanya urusan perut. Manusia bekerja karena itu memberikan kita arti dalam hidup. Ada yang berpendapat bahwa: jika revolusi industri membebaskan manusia dari jenis pekerjaan kasar dan kotor, maka AI akan membebaskan manusia seluruhnya dari segala jenis pekerjaan. Sehingga manusia bisa mencurahkan energinya untuk hal-hal yang dia sukai seperti seni. Namun benarkah demikian? Apakah manusia dapat bersaing dengan AI yang bisa mengarang puisi, melukis, menciptakan lagu atau menulis sebuah novel.

Sebagai seorang yang sering decekoki dengan paham bahwa manusia itu mahluk unik, spesial, The pinnacle of creation/ puncak dari segala ciptaan, sebagian dari diri saya merasa tidak rela jika ada entitas lain yang lebih cerdas dari diri kita umat manusia.

 Tetapi mau tidak mau kita sedang berhadapan dengan entitas baru yang kecerdasannya terus tumbuh. Ini hanya soal waktu saja ketika ANI mencapai tahap AGI dan mengambil alih seluruh jenis pekerjaan yang dilakukan oleh manusia. Satu-satunya yang bisa kita lakukan mungkin adalah bersenang-senang di alam Virtual (Virtual reality), dibawah asuhan AI. James Baratt dengan judul bukunya yang catchy menyebut AI sebagai “Our Final Invention” penemuan terakhir umat manusia, yang sesudahnya mungkin kita tidak akan lagi menemukan apa-apa.