2 tahun lalu · 7357 view · 3 menit baca · Politik cztzfecusaap8ul.jpg
Selfie bersama sebelum debat dimulai @KompasTV

AHY Takut Debat Lagi?

Tak habis pikir, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) kembali mempertontonkan ketidakhadirannya dalam debat yang diselenggarakan oleh media massa. Dulu di Net TV, dan yang terbaru di Kompas TV (15/12).

Alasan ketidakhadiran AHY juga terbilang masih sama dengan yang dulu-dulu. AHY lagi-lagi lebih memilih untuk menyibukkan diri dengan masyarakat: "Saya tak hadir, masih dengan rakyat. Saya masih di sini. Saya memilih menyibukkan diri bersama rakyat, mendengarkan langsung aspirasi mereka."

Memang, menyibukkan diri bersama rakyat dan mendengar langsung aspirasi mereka adalah penting dalam masa-masa kampanye. Calon mana pun tentu harus benar-benar tahu apa yang jadi kebutuhan rakyat pemilihnya. Hal ini menjadi modal tersendiri atau sebagai bahan pertimbangan dalam merumuskan visi-misi pembangunan dan rencana program kerja ke depan.

Hanya saja, memperdengarkan visi-misi dan rencana program kepada rakyat justru tak kalah utamanya juga. Terutama bagi para calon pemilih, tentu mereka wajib tahu dan memang harus diberi tahu mengapa si calon (pemimpin) harus mereka pilih. Dalam percintaan, inilah yang disebut sebagai “alasan mencintai”.

Ya, hadir atau tidaknya AHY dalam debat bertajuk “Rosi & Kandidat Pemimpin Jakarta”, sebagaimana juga di acara debat sebelumnya, adalah hak yang tidak boleh dipaksakan bentuknya. Karena memang, debat oleh media massa ini bukanlah debat resmi yang wajib AHY ikuti sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta. KPU Daerah telah menetapkan jadwal untuk debat itu.

Agus: Debat yang Tak Bermakna

Cawagub AHY, Sylviana Murni, juga memberi alasan senada soal ketidakhadirannya dalam episode spesial dari acara “Talkshow Rosi” ini. Ia menjelaskan bahwa yang terpenting itu adalah bagaimana bisa bertemu rakyat dan tahu kebutuhan-kebutuhan mereka.

Alasan pasangan nomor urut satu ini memang tak patut kita salahkan. Ini lebih kepada soal pilihan semata.

Tetapi yang patut disayangkan adalah ketika AHY memberi penjelasan soal alasan ketidakhadirannya yang seolah menyebut bahwa debat di Kompas TV tersebut tidaklah bermakna. Ia berujar, "Rakyat akan lebih feel comfortable untuk bersama dengan calon pemimpinnya dibandingkan mereka (warga) melihat sesuatu yang tidak ada maknanya buat mereka."

Dalam hal ini, saya rasa AHY keliru. Sebagai lembaga penyiaran publik, tentu Kompas TV juga (dan harus) merasa terpanggil untuk membantu publik mengetahui calon pemimpin mereka. Lagipula, acara jenis ini adalah produk jurnalistik di mana asas keberimbangan harus senantiasa dijunjung tinggi. Dan ketidakhadiran AHY di sini jelas memberi pengaruh kepada media massa yang harus mensosialisasikan semuanya dengan berimbang.

Saling Adu Argumen

Terlepas dari ketidakhadiran AHY, debat yang dimoderatori oleh Rosiana Silalahi ini tetap berjalan apa adanya. Kedua pasangan calon yang hadir dinilai sebagai pasangan terbaik. Kalau kata Anies, mereka berempat (Ahok, Djarot, Uno, dan dirinya) adalah yang terdidik.

Ya, setidaknya mereka berani dan mau ikut debat, meski tidak resmi. Sebab acara ini, menurut Rosi, adalah acara yang juga sangat dibutuhkan rakyat selain turun ke bawah. Saling beradu visi-misi dan rencana program kerja menjadi rangkaian acara awal dalam agenda debat ini. Kedua pasangan pun menyampaikan visi-misi pembangunan mereka, terutama program unggulan yang menjadi daya tawar.

Selain itu, kedua pasangan juga diberi kesempatan untuk saling memberi koreksi. Tanya-jawab antar-pasangan pun berlangsung seru, meski terkadang dibumbui dengan pemandangan yang kurang elok, yakni saling serang kepribadian masing-masing.

Terlepas dari itu, sejauh yang bisa saya simak, kedua pasangan calon punya keunggulan sendiri-sendiri. Pasangan Anies-Uno misalnya, mereka lebih unggul dari segi konsep pemikiran daripada pasangan Ahok-Djarot. Pun sebaliknya, Ahok-Djarot lebih unggul dalam hal penguraian fakta di lapangan atau bukti kerja yang telah mereka lakukan.

Sebagai kesimpulan yang bisa saya rangkum dari hasil debat Cagub DKI di Rosi ini, saya mencoba memberi nilai bahwa hanya ada 2 pasangan calon di Pilkada DKI Jakarta yang layak masyarakat pilih. Keduanya sudah terbukti punya visi-misi dan rencana program kerja yang jelas. Bedanya, Anies-Sandi baru sebatas “akan…”; Ahok-Djarot “sudah dan akan (meningkatkan lagi)…”.

Dalam menyampaikan argumentasi, hal tersebut sangat mencolok. Sebagaimana disampaikan oleh pasangan Ahok-Djarot, Anies-Uno tampak hanya mengandalkan retorika tanpa data-data valid. Dan hal inilah, opini yang menyesatkan, yang coba dipatahkan oleh Ahok-Djarot dengan menyeru untuk beradu data.

Melihat hal tersebut, tentu para calon pemilih (rakyat DKI) dituntut kepiawaiannya dalam memilih. Jangan memilih calon pemimpin secara coba-coba, apalagi dadakan. Meminjam kata-kata Ahok dalam “stand up politik”-nya, pilihlah yang lurus; dan memilih yang lurus harus menggunakan kacamata kuda saat pencoblosan 15 Februari 2017 mendatang.