Penulis
3 bulan lalu · 1827 view · 3 menit baca · Politik 76963_60161.jpg
merdeka.com

AHY Menuju Jokowi

Sebulan jelang pilpres dan pileg, Partai Demokrat kembali melakukan aktivitas tak terduga. Sakitnya Ibu Ani berimbas pada struktural partai tersebut meski hanya sementara. Peluang besar ini bisa menjadi momen bagi putra sulung SBY menunjukkan insting politiknya.

Setelah pensiun dari kemiliteran, AHY all-out, memulai dengan menjadi cagub kemudian berkeliling Indonesia. Meski 'matahari' Demokrat (SBY) telah memutuskan mendukung Prabowo-Sandi, bukan berarti 'matahari' muda (AHY) tidak boleh berbeda. 

AHY yang kecewa dengan keputusan Prabowo bisa saja membuat kejutan di akhir 'pertandingan'. Kejutan yang bisa menguntungkan partai maupun dirinya sendiri setelah melakukan kajian mendalam. Hal yang tak terduga namun rasional sekali.

Berdasarkan hasil survei, suara Demokrat belum mencapai 10 persen. Itu artinya AHY harus melakukan sesuatu yang baru, cerdas, kreatif, dan pada akhirnya meningkatkan elektabilitas partai maupun dirinya. Salah satunya melalui media televisi dan cetak. 

Media cetak dan televisi nasional saat ini dikuasai Jokowi-Ma'ruf. Sementara kubu Prabowo-Sandi tampak lebih sering menampilkan capres selanjutnya, Sandiaga Uno. 

Kans AHY menaikkan elektabilitas diri dan partai lebih besar bila bersama Jokowi-Ma'ruf Amin. Apalagi tak sedikit kader Demokrat yang terang-terangan mendukung Jokowi-Ma'ruf.

Sikap pertengahan Demokrat sejatinya sudah jelas sejak Prabowo memilih Sandiaga Uno. Kalaupun Demokrat kemudian mendukung Prabowo-Sandi, tak lebih disebabkan regulasi yang mengharuskan demikian. Demi 2024, Demokrat harus memilih salah satu capres secara administratif. 


Kini setelah de jure telah dilakukan, maka secara de facto Demokrat bebas berkreasi. Setidaknya hal itu sudah dilakukan meski belum secara kepartaian. Demokrat selama ini telah membiarkan kader-kadernya memilih Jokowi-Ma'ruf atau Prabowo-Sandi. Sikap setengah hati ini sekaligus cara 'bermain' aman.

Sepertinya bukan hal baru Demokrat 'bermain' begitu. Dalam pilkada DKI Jakarta, Demokrat bahkan sejak 2014 sudah begitu. Karenanya sudah saatnya AHY menunjukkan kelasnya. Tak perlu malu mengakui di bawah komandonya Demokrat akan dukung Jokowi-Ma'ruf. Toh selama ini Demokrat secara kepartaian tidak tegas mendukung Prabowo-Sandi.

Selama ini elite Demokrat juga terkesan galau dengan lebih seringnya Sandiaga yang muncul ketimbang Prabowo. Tentu saja Sandiaga Uno dianggap ancaman serius bagi AHY yang bersiap nyapres 2024 mendatang. Sementara di kubu Jokowi-Ma'ruf, keduanya dipastikan tidak lagi bertarung pada pilpres selanjutnya.

Ma'ruf Amin dalam pernyataannya juga yakin AHY akan mendukungnya. Ma'ruf Amin membaca gelagat AHY yang lebih nyaman dengan Jokowi-Ma'ruf ketimbang Prabowo-Sandi. Kalau nantinya pengurus PB NU mendekati AHY dan memberi sinyal dukungan 2024, bukan mustahil AHY tergoda.

Selama ini kita saksikan pula bagaimana AHY tak pernah bersama Prabowo-Sandi turun ke daerah-daerah. Jarang sekali AHY berkomentar yang menunjukkan Demokrat benar-benar serius mendukung Prabowo-Sandi. Sikap tersebut jelas berbeda dengan PAN maupun PKS. 

Realitas itulah yang membuat publik percaya bahwa dari lubuk hati terdalam, AHY sebenarnya ingin bersama Jokowi-Ma'ruf Amin. AHY bukan SBY yang memiliki masa lalu tak nyaman dengan Megawati. AHY bicara masa depan, sementara SBY selalu melihat masa lalu sehingga enggan bersama PDIP.


Karena pandangan ke depan, AHY berpikir berdasarkan peluang 2024 bukan 2019. Bagi AHY, pilpres 2019 hanya pilpres administratif, sehingga Erick Thohir harus sigap membaca peluang ini. Bila abstainnya Demokrat dalam pilpres 2014 menguntungkan Jokowi, konon lagi bila didukung oleh Demokrat.

Deal politik yang bisa ditawarkan kepada AHY ialah menjadi cawapres bahkan capres 2024. Bila AHY enggan, maka kerugian yang ia dapati. Pasca Jokowi atau Prabowo menang, Gerindra dipastikan tidak akan mencalonkan AHY. Maklum, Gerindra memiliki amunisi yang cukup.

Selain Sandiaga Uno, Gerindra maupun PKS bakal mengajukan Anies Baswedan pada pilpres selanjutnya. Sementara PDIP barangkali akan mengajukan Ridwan Kamil, dan bisa jadi AHY bila kali ini mau mendukung Jokowi-Ma'ruf Amin. Pilihan bersama Jokowi-Ma'ruf Amin menurut saya lebih logis bagi AHY.

Kini, masa depan AHY ada di tangannya pasca SBY lengser sementara. Keputusan sekecil apa pun akan berimbas pada masa depan dirinya dan partai Demokrat. AHY harus berani bersikap dan cerdas membaca peluang. AHY harus mandiri, tak boleh lagi menjadi 'anak babe'. 

AHY juga harus mampu menyerap aspirasi kader-kader Demokrat di daerah. AHY harus berani mengubah Demokrat, dari partai keluarga menjadi partai terbuka. Kalaupun tidak menjadi capres setidaknya AHY harus menjadi cawapres 2024. Bila tidak, riwayat Cikeas hanya sampai 2019.

Sempat menjadi buah bibir, kini elektabilitas AHY sudah ditenggelamkan tokoh muda lain. Selain Sandiaga, ada Fahri Hamzah, Anies Baswedan, maupun Ridwan Kamil. Tanpa jabatan publik selama 5 tahun ke depan, sulit bagi AHY bersaing dengan nama-nama di atas.


Lalu benarkah episode ini akan berakhir manis bagi AHY? Ataukah episode ini lebih menyakitkan dari pilkada DKI Jakarta? Hanya AHY dan Tuhan yang tahu. 

Bila tak salah analisis saya, maka AHY saat ini sedang menuju Jokowi-Ma'ruf Amin. Bagaimana menurut Anda?

Artikel Terkait