Pernah ada yang mengatakan, 'Kalau mau belajar renang, jangan hanya sebatas teori, tapi langsung nyemplung saja.' Begitulah nasehat yang sering saya dengarkan kala dulu masih belum bisa berenang. Tapi pertanyaannya, 'Nyemplunga ke mana dulu, apakah langsung ke laut atau ke kolam renang dulu?' Nah dari sini saya mulai berpikir dan berusaha mengukur diri manakah yang harus saya cemplungi, apakah langsung ke laut atau ke kolam renang dulu? Kalau toh harus ke kolam renang dulu, yang kedalamannya berapa meter?'

Karena waktu itu saya masih SD, jelas sudah sang ayah menganjurkan saya untuk nyemplung di kolam renang yang tingginya hanya seperut saja, itu pun kolam renang anak-anak. Ketika saya tanya kenapa harus kolam renang yang ini, jawabnya bijak, 'Agar kamu terbiasa dulu dengan kolam renang, nanti kalau sudah berani menyelam dan tahu tekniknya, kamu baru bisa nyemplung ke kolam renang dewasa. Baru selanjutnya berenang ke laut.' Oh begitu ya Yah, oke deh siap.

Begitulah seharusnya proses dilakukan buat orang yang mau belajar atau menguasai dunia air. Ia perlu belajar step by step terlebih dulu sebelum menyeburkan diri ke laut yang luasnya tak terkira itu. Jika ada orang yang memberanikan diri langsung ke laut, bukan malah bisa berenang, namun justru terombang-ambingkan dan akhirnya mati tenggelam.

Tak jauh beda dengan dunia fitnes. Seorang lelaki pasti mengidam-idamkan bentuk tubuh yang ideal dan kekar. Karenanya  banyak lelaki yang mengorbankan waktunya untuk olahraga ke GYM. Di dunia GYM pun juga demikian, ada pola latihan yang harus ditaati agar bentuk tubuh yang diinginkan bisa tercapai.

Pertama ia harus mengangkat beban seberat 5 kg, lalu naik 10 kg, kemudian 20 kg, hingga semua beban yang ada mampu terangkat semua. Inilah yang disebut sebagai fase latihan dan keteraturan pola. Jika fase-fase ini dijalankan dengan baik, Insya Allah tubuh yang kekar layaknya Ade Ray pun bisa dimiliki.

Tapi jika sebaliknya, sebagai orang baru langsung ujug-ujug ambil bebas seberat 100 kg dan bergaya seolah-olah kuat, yang jadi justru sakin encok, bukan malah kekar. Pola semacam ini berlaku disemua bidang, baik itu olahraga, pendidikan, termasuk juga pilitik.

Nah di dunia perpolitikan DKI ada yang anak baru yang coba-coba sok berani langsung nyemplung ke laut atau coba-coba sok gagah mengangkat beban seberat 100 kg, padahal sebelumnya ia tak pernah nyemplung atau masuk ke GYM sama sekali.

Dari penampilannya sih ok. Tapi ia sangat tidak tahu diri dengan langsung nyemplung ke laut tanpa lebih dulu latihan di kolam anak-anak. Ini kan lucu banget? Andai kata dia dianalogikan di dunia fitnes, sudah pasti Ade Ray akan menertawakannya dan langsung mengajarinya.

Siapa dia? Ya siapa lagi kalau bukan putra tergantengnya Pak SBY, alias Agus Harimurti Yudhoyono. Semua orang pasti tahu siapa dia. Yap, dia adalah anak baru yang ingin menakhlukkan gelombang lautan DKI Jakarta tanpa lebih dulu latihan di kolam renang. Dia adalah pria gagah yang tak pernah menyentuh Barbel tapi sudah berani mengangkat barbel seberat 100 kg.

Kalau sudah demikian, tanpa perlu teori dan trawangan dari mbah dukun, hasilnya sangatlah jelas terlihat. Semua manusia pasti paham, untuk mencapai sesuatu yang besar butuh latihan. Persoalan keberuntungan sih oke, bisa diterima, tapi apakah iya dengan adanya keberuntungan itu ia bisa mengendalikan ombak lautan DKI yang kian lama kian membesar, kan belum tentu?

Makanya perlulah ia belajar dari seorang Ahmad Dhani. Contoh tuh Ahmad Dhani, meski ia tidak jadi maju sebagai calon Gubernur DKI, namun ia sadar diri bahwa ia adalah orang baru, alias orang yang sama sekali belum bisa berenang.

Karenanya saat ini ia memutuskan diri untuk latihan dulu di kolam renang, alias jadi calon Bupati di daerah Bekasi. Barulah jika sudah mengantongi sejumlah pengalaman dan paham akan medan masyarakat, tidak menutup kemungkinan bekalnya tersebut bisa membawanya ke lautan DKI Jakarta.

Ahmad Dhani saja tahu dini, masak putra terganteng SBY ini tidak tahu, bukankah di Harvard juga di ajarkan soal 'proses menjadi'? Atau jangan-jangan suka yang 'instan-instan' alias junk food? Wah kalau sukanya yang begituan, besar kemungkinan proses-proses birokrasi di DKI Jakarta nanti hanya mengandalkan strategi instan alias junk food. Itu pun kalau jadi.

Ya kalau ditanya apa tujuan tulisan ini, jawaban saya hanya simpel, cuma mengingatkan saja bahwa sesuatu yang didapatkan dengan cara instan, maka ia pun akan hilang dengan instan pula. Semua butuh proses, dan melalui proses itulah seseorang akan mendapatkan apa yang ia inginkan. Bukankah untuk menjadi Doktor harus melewati masa-masa TK, SD, SMP, SMA, S1, S2 dan baru S3, kecuali kalau mau menggunakan cara junk food, cukup dengan beberapa rupiah saja, gelar Doktor sudah bisa disematkan. Lak yo kan?

Saya sebagai warga Indonesia yang dulu pernah dipimpin oleh Pak SBY sangat prihatin dengan Mas AHY, kondisinya saat ini benar-benar penuh tanda tanya. Apakah posisinya sekarang benar-benar murni karena keinginannya, atau karena dorongan dari pihak ketiga? saya tidak tahu. Yang jelas apa yang ada didapan Mas AHY ini adalah lautan DKI yang kaya akan ombak dan badai yang besar, bukan lagi kolam renang untuk latihan.

Saran saya buat warga DKI, jika Mas AHY jadi maka posisinya adalah nahkoda. Ia akan memimpin laju kapal Jakarta menyebrangi buih samudra menuju kemajuan dan kejayaan, karenanya apapun yang terjadi di kapal Jakarta ini sangat bergantung dengan nahkodanya. Jika nahkodanya saja tak pernah nyemplung ke lautan dan harus menahkodai kapal Jakarta, bukan sesuatu yang mustahil kapal Jakarta ini akan menabrak karang lautan layaknya kapal Tetanic.

Kita beri arahan pula jika perlu agar Mas AHY lebih dulu mengangkat beban 5 kg sebelum ia memberanikan diri untuk mengangkat bebas seberat 100 kg, takutnya malah encok. Barulah jika ia sudah sering berlatih dan rutin meminum suplemen, Mas AHY bisa berlatih dengan beban seberat 100 kg atau selebihnya, Insya Allah pasti badannya akan seperti Ade Ray alias Insya Allah karir politiknya akan seperti Ayahnya.

Karena proses tidak pernah berbohong Mas, camkan itu!

So, mari kita beri kesempatan buat Mas AHY untuk belajar lebih giat lagi sesuai porsinya sebelumnya menghadapi ombak laut dan karang-karang laut yang siap menghadangnya!