Kemaren sore (23/2/2017) Ahok silaturahim di kediaman keluarga almarhum Nurcholish Madjid (Cak Nur) Kebayoran lama Jaksel. Ahok menyatakan pernah bertemu sosok Cak Nur dalam beberapa kesempatan saat beliau menjadi pembicara di Prasetiya Mulia, kampus di mana Ahok menempuh S2.

Dalam kesempatan tersebut, Ahok mendapatkan hadiah berupa Ensiklopedia Nurcholish Madjid. Sebuah pesan kebangsaan untuk Ahok, melalui keteladanan kepada sosok Cak Nur, Ahok menjadi pemimpin yang toleran dan berteman dengan berbagai keragaman.

Cak Nur pernah menegaskan pentingnya sekularisasi di Indonesia. Maksudnya pembedaan antara tugas agama dan negara. tujuannya agar tidak terjadi politisasi sebagaimana yang saat ini terjadi di Jakarta. Di mana agama telah dimanipulasi demi kepentingan politis.

Sekulerisasi yang dimaksudkan agar fungsi keduanya (agama dan negara) bisa berjalan sinergi beriringan. Agama penopang wilayah-wilayah etis moralitas keumatan. Sedangkan negara mengemban amanah mewujudkan hak-hak sipil politik dalam mewujudkan keadilan sosial yang merata.

Pesan Cak Nur ini sangat dipahami oleh Ahok. Ahok tidak pernah menjadikan agama berperan dalam urusan-urusan politiknya. Justru Ahok merangkul semua umat beragama untuk menjunjung tinggi pentingnya toleransi antar umat beragama.

Sebenarnya Cak Nur sudah mengingatkan sejak lama, bahaya jika agama dan negara bercampur dalam urusan konstitusional. Sangat rawan terjadinya politisasi. Kewaspadaan ini terbukti kini kelompok intoleran (radikal) membuat gerakan politik untuk merebut kekuasaan. Membuka pintu politisasi agama kepada kelompok intoleran sama saja menyerahkan kebangsaan kita kepada mereka.

Itulah kenapa Cak Nur menegaskan, “Islam Yes, Partai Islam No!” Islam sebagai agama memiliki tugas penting menata wilayah keumatan membentuk karakter kebangsaan. Bukan sebagai partai politik. Karena jika Islam sebagai partai maka rawan manipulasi, politisasi. Belum lagi akan mencampuri hal-hal konstitusional yang menyangkut kehidupan umat beragama di Indonesia.

Apalagi Indonesia adalah negara pancasila. Pancasila itu final. Cak Nur sering menegaskan bahwa pancasila adalah satu-satunya ideologi bangsa. Tidak ada pertentangan antara keduanya, antara agama (Islam) dan negara. Negara menjamin hak-hak umat beragama, sebagaimana bunyi sila pertama.

Pancasila itu pondasi dasar kebangsaan. Kini semua warga negara bahkan warga agama wajib merawat nilai-nilai pancasila sebagai pandangan hidup. Melalui pemahaman bersama tentang pentingnya nilai-nilai pancasila maka menjaga kebangsaan adalah tugas bersama, merawat kebhinekaan, hidup dalam keberagaman.

Ahok merepresentasikan nilai-nilai yang diajarkan Cak Nur. Ahok tampil sebagai gubernur Jakarta bukan karena agama namun karena demokrasi. Ahok merangkul dalam keberagaman, terbukti Ahok selalu menjaga toleransi antar umat beragama.

Ahok paham betul mengenai pentingnya merawat nilai-nilai pancasila. Melalui keteladanan Ahok kepada tokoh-tokoh bangsa, bahkan ulama keIndonesiaan, Ahok menjunjung tinggi pentingnya saling menghargai. Yang pasti Ahok toleran kepada keragaman dan sama sekali tidak toleran kepada kelompok intoleran.

Berbeda dengan rivalnya Anies Baswedan, seorang mantan Menteri Pendidikan era Jokowi. Anies dianggap telah gagal menjadi menteri karena ketidakmampuannya mengeksekusi kebijakan yang menyangkut pendidikan nasional. Itu salah satu alasan yang menjadikan dirinya dilengserkan dari kursi menteri. Bukan karena alasan politik, karena terbukti menteri penggantinya dari kalangan professional bukan politisi.

Seharusnya, sebagai seorang intelektual yang pernah menjabat rektor paramadina Anies mencerminkan sosok Cak Nur. Tapi sama sekali tidak. Nilai-nilai keIslaman yang dibangun Cak Nur melalui Paramadina tidak menjadi inspirasi bagi seorang Anies. Itulah alasan kenapa Paramadina tidak pernah berkembang selama berada di bawah komando Anies Rasyid Baswedan.

Terbukti Anies tidak konsekuen dirinya sebagai seorang intelektual. Pasca dari paramadina Anies mengikuti konvensi partai Demokrat pada tahun 2014, namun gagal kemudian menjadi jubir kampanye Jokowi pada Pilpres. Pada proses kampanye Anies Baswedan menyerang Prabowo (rival Jokowi pada Pilpres 2014), bahkan juga menyudutkan PKS.

Namun kenyataanya sekarang, Anies Baswedan memuja-muji Prabowo yang dulu dia serang habis-habisan. Kemudian berkomplot dengan PKS yang dulu dia sudutkan. Seorang Anies Baswedan telah menjual mahalnya sebuah integritas, demi kepentingan kekuasaan. Anies terbukti tidak pernah puas sebelum mencapai kekuasaan yang telah diimpikan.

Belum lagi Anies kini bermitra dengan kelompok intoleran. Kelompok-kelompok yang visinya ditentang oleh Cak Nur. Yakni mereka yang menebarkan kekerasan dan merusak kebangsaan. Anies tidak peduli soal kebangsaan, asalkan tujuannya tercapai.  Anies Baswedan telah menjual harga sebuah integritas, kini Anies sedang menawarkan harga sebuah kebangsaan kepada kelompok intoleran demi tujuannya berkuasa.

 Untuk menjaga nilai-nilai kebangsaan, melalui pilkada Jakarta, Jakarta tidak boleh diserahan kepada Anies Baswedan dan rombonganya. Yang jelas-jelas merusak tenun kebangsaan dan merobek kebhinekaan. Pilihan paling tepat untuk menjaga serta merawat kebangsaan kita adalah mempercayakan Jakarta kepada Ahok (Basuki Tjahaya Purnama). Meminjam kata-kata Cak Nur, AHOK YES! ANIES NO!