Tiga hari lalu, Presiden Jokowi menghadiri perayaan imlek nasional. Pada perayaan tersebut, berbagai tokoh-tokoh nasional keturunan Tionghoa hadir. Bahkan, Susi Susanti sampai dipanggil ke podium, ditanya-tanya, lantas meminta sepeda kepada Presiden

Namun, ada satu ketidakhadiran yang kentara. Presiden Jokowi saja sampai menyindirnya dalam pidato.

Semua pembaca pasti tahu. Sosok yang tidak hadir pada perayaan tersebut adalah Komisaris Utama Pertamina, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. 

"Temen baik saya, Pak Ahok. Tapi saya tanya tadi gak datang. Setelah jadi Komisaris Utama Pertamina kok gak datang?" tandas Presiden Jokowi. Sepertinya Presiden rindu dengan sahabat lamanya. Cieeee...

Selanjutnya, pada hari ini, Pak Ahok membuka suara. Ternyata, ketidakhadiran Beliau disebabkan oleh faktor jadwal pekerjaan. Berikut adalah pernyataannya (Karunia dalam kompas.com, 2020).

"Saya kan tiap Kamis ada rapat dewan komisaris sama dewan direksi. Ya enggak mungkin pergilah, Kamis hari kerja jam 9."

Pernyataan ini tipikal Ahok banget. Kerja menjadi prioritas nomor satu. Sesuai dengan slogan pemerintahan Jokowi, "Kerja, kerja, kerja!" Namun, kegilaan kerja (workaholism) ini berevolusi seiring waktu.

Pada saat Beliau menjadi bupati Belitung Timur sampai Gubernur DKI Jakarta, kegilaan kerja Beliau diiringi dengan kegilaannya ketika konfrontasi. Bisa dikatakan Beliau menjadi antitesis dari, "Tong kosong nyaring bunyinya." Justru, Pak Ahok adalah sosok pemimpin ulung yang cerdas sekaligus vokal. Tong penuh yang bunyinya sangat nyaring. Literally.

Kita tahu nyaringnya suara dan opini Beliau lewat transparansi kegiatan Pemprov DKI lewat YouTube. Dalam rekaman-rekaman tersebut, Pak Ahok sering terlihat menegur bawahannya secara keras. 

Selain itu, kita juga mengetahui betapa serius dan niatnya Pak Ahok bekerja sebagai pemimpin. Saking niatnya, sampai orang-orang yang kurang kapabel disemprot olehnya.

Salah satu yang paling memorable adalah saat Beliau rapat dengan perwakilan demo buruh pada Oktober 2012. Saat itu, para peserta rapat meminta notulensi konkret dari rapat (diketik). Namun, PNS Pemprov DKI yang hadir justru mencatat dengan pen and paper. Melihat hal ini, Pak Ahok langsung nyapnyap (news.detik.com, 2012):

"Masa laptop gitu banyak masih pakai catatan-catatan, kampungan banget itu, pakai BlackBerry, pakai apa, pakai laptop miliaran, nggak ada satu pun laptop yang bisa ketik. Mana tukang ketiknya? Lu orang paling hebat, ada laptop di depan mata, lo ketik pake tangan,"

Ekspresi kemarahan ini tidak hanya terjadi di dalam Balai Kota. Banyak juga momen-momen ngamuk di luar Balai Kota. Misalnya ketika harga buku di pameran pendidikan terlalu mahal. Atau ketika ada mahasiswa yang ngeyel dan mengajak argumen secara tiba-tiba. Apalagi ketika Jakarta kebanjiran lagi di tahun 2017. Sungguh berbeda dengan gubernur yang sekarang.

Akan tetapi, Beliau melegitimasi ekspresi kemarahan tersebut dengan hasil dan intensitas kerjanya. Perlu diketahui bahwa sebagai Wakil Gubernur dan Gubernur DKI Jakarta, Beliau bekerja dari jam 8 pagi hingga malam. Bisa dibilang, Beliau bekerja lebih dari 12 jam sehari sebagai pemimpin. Jadi, wajar jika Beliau marah saat ada yang tidak beres di sekitar Pemprov DKI.

Legitimasi ini terbukti saat Gubernur Ahok diwawancara mengenai anggaran siluman yang (hampir) terjadi di APBD DKI Jakarta tahun 2015. Dalam wawancara ini, amarah Pak Ahok terhadap para oknum anggaran siluman meledak. Berikut adalah kutipan ledakan tersebut (rmoljakarta.com, 2015):

Ahok: Makanya gua bilang, panggil gua ke angket. Biar gua jelasin semua. Biar gua bukain tai-tai semua dia seperti apa.

Aiman: Pak Ahok, kita sedang live nih Pak.

Ahok: Gak apa-apa, biar orang tau emang tai. Gua bilang tai itu apa, kotoran, ya silahkan.

Aiman: Mungkin bisa lebih diperhalus Pak Gubernur DKI Jakarta, dengan segala hormat.

Ahok: Kalau gua mau ngomong tai, terus mau apa. Wawancara live gua, ya resikonya gitu. KompasTV jangan pernah wawancara gua live kalau gak suka kata gua tai segala macam. Itu bodohnya anda mau live, lain kali rekaman aja biar bisa anda potong.

Singkatnya, Ahok pada masa ini menganut prinsip, "Banyak kerja, banyak ngomel." Menurut hemat penulis, ini sesuai dengan kebutuhan pekerjaan Beliau sebagai eksekutor yang reforming. Sayang, terkadang omelan Beliau kelewat kasar dan straightforward untuk adab ketimuran. 

Namun, tudingan penistaan agama terhadap Beliau di tahun 2016-2017 menjadi titik balik prinsip sosok ini. Tudingan yang tidak berdasar itu membuatnya harus mendekam di hotel prodeo selama dua tahun. Dalam waktu tersebut, Beliau benar-benar melakukan refleksi yang mendalam. Termasuk dalam hal pengendalian diri.

Akhirnya, Beliau keluar dari penjara sebagai manusia baru. A reformed character. Kegilaan kerjanya kepada rakyat Indonesia tetap membara. Namun, kegilaan itu kini diiringi dengan pengendalian diri yang sangat tinggi. Sehingga, Pak Ahok menjadi sosok yang banyak kerja dan composed. Tong penuh yang tahu kapan harus berbunyi dan diam.

Selamat Pak Ahok. Pertahankan kepribadian "BTP" yang Anda punya sekarang. Rakyat Indonesia masih memerlukanmu.