Penulis
1 tahun lalu · 5432 view · 3 menit baca · Politik 13551_58660.jpg
wartapilihan.com

Ahok VS Anies Jilid II

Setelah sekian lama akhirnya ditemukan pasangan alternatif yang dianggap mampu mengalahkan Jokowi. Pasangan yang bukan kader parpol namun dianggap punya kapasitas, integritas dan yang paling penting punya elektabilitas. Soal popularitas mereka juga memilikinya dan nyaris seluruh pemilih mengenal mereka, Gatot-Anies.

Meski baru sebatas wacana akan tetapi lawan-lawan politik Jokowi sudah mengarahkan dukungan kepada mereka. Tinggal kebesaran hati dari SBY dan Prabowo serta para pendukung keduanya. Bila skenario itu berjalan maka Jokowi pantas mewaspadainya bila tak ingin kalah.

Jokowi sudah sepatutnya tidak terbawa "angin surga" bahwa siapapun cawapresnya ia bakal menang. Jokowi tak boleh menganggap enteng apalagi meremehkan pasangan Gatot-Anies. Kita bisa cermati bagaimana pasangan Ahok-Djarot yang saat itu sangat percaya diri bakal menang namun faktanya mereka kalah.

Padahal, Anies-Sandiaga merupakan pasangan di detik terakhir. Kedua tidak populer dan tidak memiliki elektabilitas yang dianggap mengancam. Banyak yang menganalisa bahwa AHY yang bakal menjegal Ahok-Djarot. AHY saat itu sangat populer, jauh mengalahkan Anies-Sandi namun fakta berbicara lain setelah pilkada berlangsung.

Pada pilpres 2019 pun demikian, bila Jokowi terlena dengan hasil survei dan opini dilingkarannya maka bukan mustahil Gatot-Anies akan menjungkalkan Jokowi. Nama-nama cawapres yang beredar belum cukup membantu Jokowi dalam posisi aman. Manuver yang bisa dilakukan Jokowi kedepan ialah dengan menggandeng Ahok bila ia bebas.

Meski saat ini dalam proses PK akan tetapi nama Ahok terus dielukan para pendukungnya. Kelahiran PSI (Partai Solidaritas Indonesia) sebagai salah satu kontestan pemilu dapat dikatakan sebagai manifestasi rasa kecewa para pendukung Ahok atas apa yang terjadi pada Ahok. Jelas bahwa mereka pendukung Jokowi sekaligus pendukung Ahok.

Parpol pengusung Jokowi kiranya sepakat Ahok mendampinginya. Hanya saja saat ini belum diajukan karena status Ahok yang masih narapidana. Bila skenario hukum Ahok bebas dan dapat mencalonkan diri sebagai cawapres maka dapat dipastikan Jokowi tidak akan berpaling dari Ahok.

Skenario Jokowi-Ahok berhadapan dengan Gatot-Anies tentu sangat dinantikan para penikmat Liga Politik Indonesia (LPI). Bagi Ahok, skenario ini akan menjadi ajang balas dendamnya atas Anies setelah dikalah dalam pilkada DKI Jakarta. Sementara bagi Gatot bila dipercaya sebagai capres akan menjadi ajang pembuktian apa yang selama ini dikatakan ketika menjadi panglima TNI.

Hubungan Gatot dan Jokowi juga tidak terlalu harmonis, pasalnya banyak ucapan kontroversial Gatot saat menjabat sebagai panglima TNI. Soal impor senjata, pemutaran film G30S/PKI dan sentilan panglima TNI lainnya yang sempat membuat istana kepanasan. Hal itulah yang menyebabkan pertarungan dua pasangan ini sangat dinantikan.

Kekalahan Ahok atas Anies akan menambah tensi pilpres 2019 sekaligus ajang sindir menyindir sebagaimana pilkada DKI. Soal pencalonan Anies dan Gatot memang butuh proses panjang, selain masih ngototnya para pendukung Prabowo, soal masa jabatan Anies sebagai gubernur dipastikan menjadi salah satu pertimbangan.

Bila melihat karakter Prabowo selama ini, dirinya pasti rela Anies maju. Apalagi insiden piala presiden seolah menjadi motivasi bagi Anies untuk maju. Kita akan menyaksikan ajang balas dendam pada pilpres 2019, dendam Ahok atas Anies dan dendam Anies atas Jokowi walaupun mereka akan mengatakan tidak dendam pada publik.

Amunisi Anies dan Gatot pada pilpres 2019 juga patut diwaspadai Jokowi. Keduanya mantan bawahan Jokowi, Anies yang pernah menjadi jubir Jokowi dan menjabat menteri pastilah tahu kelemahan serta kelebihan Jokowi. Anies yang didepak Jokowi pasti menyimpan motivasi untuk mengalahkan Jokowi. Setidaknya Anies punya motivasi saat SBY mengalahkan mantan bosnya, Megawati.

Skenario Anies-AHY bisa juga menjadi alternatif, maklum saja karakter SBY yang lebih percaya pada keluarganya sendiri. SBY akan menawarkan AHY sebagai cawapres dari Anies, itu artinya hanya ada dua pasangan yang bertanding pada pilpres 2019. Poros SBY dan Prabowo bersatu dengan kandidat Anies-AHY. 

Skenario tidak terlalu jelek apalagi bila SBY all-out membantu dalam pilpres 2019. Namun skenario ini relatif menguntungkan Jokowi-Ahok karena AHY sampai detik ini elektabilitasnya tak seperti popularitasnya. AHY masih kalah dibandingkan mantan bosnya, Gatot Nurmantyo.

Siapapun pasangan Anies dan bila Ahok jadi mendampingi Jokowi, kita berharap bangsa ini tidak pecah belah. Ibarat penonton permainan sepakbola, jangan merusak kursi penonton, jangan saling lempar kaca dan benda tajam lainnya. Demikian pula pilpres yang akan mempertemukan Anies dan Ahok, serta Jokowi-Gatot.

Bila Indonesia diibaratkan stadion sepakbola, maka segala fasilitasnya harus dijaga. Kerukunan harus tetap prioritas, kedamaian harus jadi modal kita membangun negeri. Tak perlulah saling mencaci apalagi pilpres atau pilkada hanya mekanisme memilih pemimpin.

Meski Ahok dan Anies rival dalam pilkada maupun nantinya rival dipilpres, persatuan dan kesatuan bangsa tetap nomor wahid. Mari saksikan Ahok-Anies jilid II sambil menikmati kentang goreng atau kacang rebus serta segelas kopi. Bangsa ini butuh persatuan, sehebat apapun Presiden Indonesia, tetap butuh persatuan rakyatnya.

Artikel Terkait