2 tahun lalu · 1643 view · 14 menit baca · Agama 189416_476688865684146_128665411_n.jpg
www.facebook.com

Ahok Tidak Menghina al-Quran!

Tuduhan yang dilesatkan oleh sejumlah pihak dari kalangan umat Islam kepada Ahok kini ramai diperbincangkan. Dalam kunjungannya ke kampung Pulau Seribu, Ahok diduga telah menghina al-Quran. Persisnya dalam kunjungan tersebut ia menyeru agar mereka tak mudah "dibodohi" oleh sejumlah umat Islam lain yang selalu menggunakan al-Maidah ayat 51 untuk meruntuhkan elektabilitasnya dalam ajang pemilihan.

Sontak, sejumlah umat Islam merasa geram dan kesal dengan tindakan Ahok itu. Tembok-tembok media sosial rimbun dengan nama Ahok. Ahok di mana-mana diperbicangkan, disudutkan, dan bahkan ada sebagian orang yang sudah melaporkannya kepada pihak kepolisian. Sebagian ada yang menilai ini adalah sebuah perjuangan akan kebenaran, tapi yang lain menilai ini adalah sebuah tindakan berlebihan.

Saya bukan pendukung Ahok, bukan simpatisan Ahok, tak berniat membela Ahok, kalau jadi warga DKI pun saya tak akan memilih Ahok, dan saya pun bukan Ahli Tafsir al-Quran yang bisa memastikan apakah ayat yang disinggung ahok tersebut merujuk kepada Ahok atau kepada orang dan kelompok selain Ahok. Ini penting untuk ditegaskan di muka agar tak ada kecurigaan bahwa tulisan ini merupakan bentuk simpatik kepada Ahok dan orang-orang seperti Ahok.

Tulisan ini juga tak akan mendiskusikan seputar tafsir apakah ayat yang disinggung oleh Ahok itu merujuk kepada Ahok dan orang-orang seperti Ahok, atau merujuk kepada orang-orang yang beragama seperti Ahok tapi dengan karakter yang tak persis sama dengan karakter yang dimiliki oleh Ahok.

Di samping bahasan terkait hal ini sudah melimpah—baik dalam buku-buku tafsir klasik maupun ceramah para Ahli Agama—bahasan terkait hal ini juga sama sekali bukan kapasitas saya sebagai mahasiswa yang belum belajar apa-apa dan belum dibekali ilmu yang memadai seperti para ulama pada umumnya.

Yang akan saya tulis hanyalah upaya menjernihkan persoalan yang sudah tumpah dan telah menimbulkan "fitnah". Itu saja. Soal apakah Ahok masuk kedalam kategori ayat surat al-Maidah, itu, saya kira, perlu dibahas secara terpisah. Karena, sekali lagi, itu bukan kapasitas saya, dan lembaran tulisan ini tak cukup untuk menampung itu semua.

Tulisan ini hanya akan fokus menjawab pertanyaan: Apakah Ahok menghina al-Quran atau tidak? Karena itulah yang menjadi persoalan utama. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita teliti persoalan dengan kepala dingin, bukan dengan emosi apalagi dengan kecaman yang tidak-tidak.

Al-Quran memberikan peringatan penting kepada kita: bahwa kebencian kita kepada suatu kaum tak boleh mencegah kita untuk berlaku adil kepada mereka (5: 8). Inilah tuntunan Allah Swt. kepada Nabi-Nya yang mulia; menyelesaikan persoalan dengan cara-cara yang penuh hikmah dan bijaksana ketimbang provokasi yang tidak-tidak (16: 125).

Kasus Ahok ini perlu dilihat dari dua sisi utama. Pertama, sikap Ahok itu sendiri dengan gaya bicaranya yang beda. Kedua, sikap umat Islam yang mengecam tindakannya dan menuduhnya dengan kata-kata yang tidak semestinya.

Pertama dari sisi Ahok. Dalam hemat saya, Ahok sejujurnya belum bisa dikatakan menghina al-Quran. Apalagi sekarang ini kriteria "menghina" itu kadang ditafsirkan secara berlebihan. Orang yang mengkritik (tafsir) al-Quran saja sekarang bisa dipandang sebagai penghinaan. Anda mungkin tak berpandangan demikian. Tapi harus diakui bahwa di luar sana ada orang demikian.

Sensi sedikit, langsung menuduh orang telah menghina al-Quran. Betul bahwa rasa cinta kepada al-Quran meniscayakan adanya rasa marah manakala al-Quran mendapatkan hinaan. Tapi dalam saat yang sama, penting juga dijadikan catatan bahwa menghinakan orang yang belum tentu bermaksud menghina al-Quran adalah sebuah kehinaan yang tak kalah hina dengan menghinakan al-Quran.

Seandainya Ahok, berkata, misalnya, "Al-Maidah itu adalah ayat yang bodoh dan berisikan seruan akan kebodohan dengan melarang pemimpin non-Muslim seperti saya untuk berpartisipati dalam pemilihan. Karena itu, kalian (umat Islam), jangan mau dibodohi oleh kitab suci atau ayat yang berisikan kebodohan. Pilihlah dengan hati nurani kalian. Jangan mengikuti ayat yang berisikan kebodohan (nauzubillah)"

Seandainya Ahok berkata demikian, saya kira, Muslim manapun di dunia ini yang menyimak ujaran demikian pasti akan berkata bahwa itu adalah sebuah penghinaan. Dan umat Islam tak boleh tinggal diam. Harus mengambil tindakan. Itupun bukan dengan cara-cara provokatif, tapi dengan hikmah dan kebijaksanaan, seperti yang diajarkan oleh al-Quran. Ini kalau Ahok berkata demikian.

Tapi kalau dia menyatakan bahwa umat Islam jangan mau dibodohi pake surat al-Maidah. Ini sebetulnya masih menyisakan pertanyaan. Apa yang dimaksud oleh Ahok dengan statement demikian? Apakah di balik kalimat "jangan mau dibodohi pake al-Maidah 51" itu karena memang Ahok sendiri meyakini bahwa ayat tersebut berisikan kebodohan sehingga mewaspadai umat Islam agar tak mudah diprovokasi dan dibodohi oleh ayat yang berisikan kebodohan?

Atau yang dimaksud Ahok itu ialah: umat Islam jangan mau dibodohi dan diprovokasi oleh umat Islam lain yang suka menggunakan al-Maidah 51 sebagai ayat yang melarang orang seperti dirinya untuk ikut serta dalam pemilihan padahal di luar sana para ulama mereka sendiri berbeda tafsiran?

Nah, kalau yang dimaksud Ahok itu yang pertama, maka jawabannya jelas; ini adalah sebuah penghinaan. Tapi kalau yang dimaksud itu yang kedua: coba kita berpikir dengan kepala dingin, dengan menghilangkan emosi dan kecurigaan, apakah ini layak dikatakan sebagai sebuah penghinaan?

Dalam hemat saya, ini bukan penghinaan. Paling jauh ucapan Ahok tersebut—kalau disampaikan dengan cara-cara yang sedikit provokatif—mencerminkan, misalnya, "ketak-sopan-santunan". Itupun karena memang dia karakternya demikian. Ceplas-ceplos tanpa pikir panjang-panjang.

Karena itu, mestinya kasus ini menjadi alarm bagi Ahok untuk tak memelihara cara bicara demikian. Harus diakui bahwa sebagian besar umat Islam itu suka dengan pemimpin yang penuh dengan kesopan-santunan, tapi dalam saat yang sama juga tegas terhadap kezaliman. Inilah pemimpin yang diimpikan.

Nah, tapi sejauh menyangkut karakter Ahok yang demikian, tentu orang juga akan berbeda pandangan. Bagi saya, misalnya, cara bicara demikian itu menjadi persoalan, tapi yang lain mungkin ada yang berpandangan bahwa cara bicara seperti itu tak jadi persoalan.

Sekali lagi, ini menyangkut soal sudut pandang yang membuka ruang perbedaan. Ini poin catatan pertama untuk Ahok. Lebih baik dia tak menyinggung nama ayat suci—walau dengan niat tak melecehkannya—ketika berkampanye dalam ajang pemilihan. Dan kalau bisa gaya penuturannya sedikir rubah agar tak menimbulkan kekisruhan dan kerusuhan.

Kedua, dari sisi umat Islam. Rasulullah Saw mengajarkan kepada kita untuk menyelesaikan persoalan dengan menempuh cara-cara bijak yang bersih dari luapan emosi dan kecurigaan. Semua umat Islam, saya kira, menyepakati hal demikian.

Nah, manakala suatu persoalan diselesaikan dengan emosi dan kecurigaan, tanpa meminta penjelasan kepada orang yang bersangkutan (tabayun), maka pasti cara semacam itu akan menimbulkan kesalah-pahaman dan pada akhirnya tak jarang berujung dengan kezaliman. Ini penting untuk dijadikan catatan.

Jika ingin mengamalkan ajaran al-Quran, maka hal pertama yang harus ditempuh ialah meminta penjelasan. Bukan menyebar tuduhan yang dibalut dengan luapan emosi dan disegel dengan kecurigaan. Sekarang kita akan meminta penjelasan langsung kepada Ahok. Di halaman facebooknya Ahok menulis demikian:

"Saat ini banyak beredar pernyataan saya dalam rekaman video seolah saya melecehkan ayat suci Al Qur'an surat Al Maidah ayat 51, pada acara pertemuan saya dengan warga Pulau Seribu. Berkenaan dengan itu, saya ingin menyampaikan pernyataan saya secara utuh melalui video yang merekam lengkap pernyataan saya tanpa dipotong. Saya tidak berniat melecehkan ayat suci Al-Quran, tetapi saya tidak suka mempolitisasi ayat-ayat suci, baik itu Al-Quran, Alkitab, maupun kitab lainnya.

Meskipun, misalnya, Ahok, menulis demikian hanya demi melindungi dirinya dari cibiran dan makian, bukan berdasarkan kejujuran, tapi tetap saja harus diingat bahwa kita tak punya otoritas untuk masuk kedalam dada dan hati seseorang karena yang tahu hal itu dengan sebenar dan seutuhnya hanyalah Tuhan.

Lihat sikap Rasulullah Saw. kepada orang-orang munafik. Ancaman mereka sangat besar. Perbuatan mereka sangat najis dan menjijikan. Dan Rasulullah Saw pun tahu bahwa mereka adalah orang-orang dusta dan penuh kepalsuan. Ketika ada salah satu di antara mereka yang masuk Islam, Rasulullah Saw tak menyambut mereka dengan emosi, kecurigaan apalagi makian.

Sudah. Diterima saja. Soal apakah mereka jujur atau tidak. Itu urusan yang bersangkutan dengan Tuhan. Ini sikap yang diajarkan oleh Rasulullah Saw kepada orang munafik yang kecaman dan siksaannya paling keras dalam al-Quran. Apalagi dengan orang yang seperti Ahok yang agamanya dengan agama kita masih memiliki titik kesamaan.

Klarifikasi dari Ahok ini, saya kira, cukup jelas. Bahwa dia tak bermaksud untuk melecehkan al-Quran. Yang dia sasar dari omongannya itu ialah sekelompok orang yang suka mempolitisasi ayat-ayat suci, baik itu Alkitab maupun al-Quran. Dan faktanya memang fenomena ini kita temukan. Baik di lingkungan umat Islam, maupun di lingkungan umat Agama yang berlainan.

Nah, yang menarik untuk dijadikan pertanyaan ialah: Kapan seseorang dianggap mempolitisasi ayat al-Quran dan kapan dia dianggap menyampaikan kebenaran? Untuk menjawab pertanyaan ini saya akan beri contoh dari kasus yang agak sedikit berlainan. Ingat, ini bukan analogi, tapi hanya sekedar permisalan.

Misal: ada orang dari partai Demokrat berkata ketika kampanye pemilihan: "Ibu, bapak, jangan mau pilih partai Golkar. Al-Quran sudah sejak jauh-jauh hari mengisyaratkan larangan mendekati pohon untuk Nabi Adam. Dan simbol partai Golkar adalah pohon. Karena itu, ibu, bapak, jangan dekati partai Golkar. Karena isyarat akan larangan tersebut sudah termaktub dalam al-Quran. Ingat bapak, ibu, al-Quran itu mukjizat dan isyaratnya pasti menunjuk pada kebenaran."

Saya sudah menduga akan ada yang berkata bahwa permisalan ini terlalu simplistis dan tidak relevan. Tapi poin intinya ialah: "ada orang yang menggunakan ayat al-Quran untuk menunjuk kelompok tertentu, padahal ayat tersebut menunjuk hal lain, hanya demi satu tujuan: yaitu merenggut kekuasaan dan meruntuhkan elektabilitas lawan" Ini yang penting untuk dijadikan catatan.

Nah, yang jadi pertanyaan selanjutnya: apa kira-kira respon orang Golkar kalau menyimak perkataan tadi? Orang Golkar tentu akan gerah. Lalu sebagai sikap apologetis mereka, misalnya, berkata: "Ibu, bapak, pilih lah sesuai hati nurani anda semua. Kalau ada yang lebih baik dari kami jangan pilih kami. Jangan mau dibodohin sama (orang yang berdalil dengan) al-Baqarah 35, atau apa itu lah macem-macem itu".

Artinya, ketika orang Golkar itu berkata demikian, bukan berarti dia mengimani adanya kebodohan dalam surat al-Baqarah. Tapi yang dia maksudkan ialah: umat Islam jangan mau dibodohin oleh umat Islam dari kalangan partai lain yang menggunakan ayat 35 dari surat al-Baqarah itu untuk meruntuhkan elektabilitas partai Golkar dalam konteks pemilihan.

Sekarang kita akan bertanya: apakah dalam konteks ini orang Demokrat bisa dikatakan telah mempolitisasi ayat al-Quran? Jawabannya: ya, ujaran semacam ini bisa masuk kedalam konteks politisasi ayat al-Quran kalau sekiranya ayat yang dimaksud tak tertuju sama sekali kepada partai Golkar, tapi orang Demokrat berdalil dengan ayat Tuhan demi merengkuh kekuasaan dan meruntuhkan elektabilitas lawan.

Bagi saya, ini jelas sebuah penghinaan. Inilah sejujurnya yang patut dikatakan sebuah penghinaan. Ketika ayat Tuhan dijadikan alat untuk menjatuhkan orang lain dan dijadikan kendaraan untuk melampiaskan syahwat keduniawian. Siapapun itu pelakunya. Entah itu orang Islam, Kristen, Budha, Hindu, atau siapa saja. Pelakunya mungkin orang yang memiliki kemuliaan, tapi tindakannya jelas mencerimkan kehinaan dan kenistaan.

Tapi kalau memang sekiranya—sekali lagi sekiranya—ayat di atas yang berisikan larangan mendekati pohon itu oleh para Mufassir yang mu'tabar dipandang sebagai ayat yang memiliki isyarat akan larangan memilih partai Golkar, maka apa yang dilakukan oleh orang Demokrat tentu bukan politisasi ayat al-Quran, tapi justru yang mereka telah menyampaikan kebenaran.

Meskipun sejujurnya, dalam keyakinan saya, ayat al-Quran terlalu suci untuk diangkat kedalam kontestasi para pemuja kekuasaan. Sudah. Tidak usah bawa-bawa ayat al-Quran. Baik orang Kristen maupun orang Islam, tidak usah bawa-bawa ayat Tuhan dalam acara pemilihan. Kalau sudah dibawa-bawa ujungnya demikian: yang tidak bersalah akan disalahkan, yang tak semestinya dijadikan persoalan pun akan dijadikan persoalan. Ini pelajaran penting, baik untuk Ahok, maupun orang Islam.

Permisalan di atas, saya kira, bisa menerangkan kasus yang menimpa Ahok. Ahok berkampanye dan memberikan arahan—meskipun dengan nada yang sedikit provokatif—kepada penduduk kampung Pulau Seribu. Singkatnya dia berkata: "Bapak, ibu (umat Islam) jangan mau dibodohin pake surat al-Maidah 51".

Sepintas ini tampak sebagai suatu penghinaan, tapi kalau kita mau menerima klarifikasi Ahok di atas, ucapan ahok itu secara singkat bisa diterjemahkan demikian:

"Bapak-ibu jangan mau dibodohin oleh sekelompok orang dari kalangan umat Islam yang menggunakan al-Maidah 51 sebagai ayat yang melarang orang non-Muslim seperti saya untuk ikut serta dalam ajang pemilihan. Mereka menggunakan ayat tersebut demi meruntuhkan elektabilitas lawan, padahal di lingkungan para ulama bapak-ibu sendiri ada perbedaan pandangan."

Mengapa perkataan Ahok tersebut kita tafsirkan demikian? Karena Ahok sendiri menegaskan bahwa dirinya tak bermaksud melecehkan al-Quran. Menuduh orang melecehkan al-Quran padahal dia sendiri dengan tegas menyatakan tak bermaksud demikian jelas merupakan sebuah kezaliman. Apalagi—seperti yang dikatakan Syekh Yusri—dalam ajaran Tasawuf kita dituntut untuk berburuk sangka pada diri sendiri, dan berbaik sangka kepada orang lain hatta kepada orang kafir yang memiliki keyakinan berlainan.

Nah, sekarang tinggal sisa satu pertanyaan: apakah al-Maidah ayat 51 itu menunjuk kepada seluruh orang Yahudi dan Nasrani tanpa terkecuali sehingga Ahok masuk di dalamnya? Atau justru ayat tersebut menujuk kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani tapi dengan kriteria tertentu yang diterangkan pada ayat-ayat sebelumnya? Menjawab pertanyaan ini orang akan berbeda pendapat.

Bagi orang yang suka membaca ayat al-Quran dengan pembacaan parsial; sepotong demi sepotong, pasti mereka akan berpendirian bahwa ayat itu berlaku untuk semua umat Yahudi dan Nasrani, baik yang ada ketika zaman Nabi maupun yang sekarang masih terserak di muka bumi.

Karena bunyi teksnya jelas; al-Yahud wa al-Nashara (Yahudi dan Nasrani). Tak ada keterangan Yahudi yang seperti apa dan Nasrani yang seperti apa dalam ayat itu. Karena Ahok bagian dari dua kelompok yang dikecam oleh ayat itu, maka secara otomatis ayat itu juga menunjuk pada Ahok.

Inilah konsekuensi logis dari Mazhab Parsialis; Mazhab orang yang suka membaca ayat al-Quran sepotong demi sepotong, Mazhab yang suka meracik tafsir al-Quran seperti meracik kue lapis, bukan dengan pembacaan yang holistis. Dan Mazbah seperti inilah sejujurnya yang diimani oleh kaum jihadis-ekstremis.

Mereka sering berkata: Bunuhlah semua orang musyrik (9: 37). Bunuhlah orang yang tak beriman kepada Allah dan hari akhir (9: 29). Bunuhlah mereka di mana pun kamu temukan (2: 191). Dan ayat-ayat lainnya yang sering mereka jadikan sandaran untuk melakukan aksi-aksi kekerasan, pembunuhan dan pembantaian yang tak berprikemanusiaan.

Silakan anda nilai sendiri. Al-Quran yang oleh para Mufassir diilustrasikan sebagai satu kesatuan rantai yang tak terpisahkan, dibaca secara sepotong demi sepotong demi merenggut kekuasaan, menebar ancaman, kekerasan, pembunuhan dan pembantaian. Apakah ini mencerimkan objektivitas dan keadilan? Silakan anda renungkan.

Nah, sekali lagi, inilah konsekuensi logis dari pembacaan Mazhab parsialis. Ahok langsung dijebloskan kedalam kungkungan ayat itu tanpa kompromi dan tanpa basa-basi. Karena ayat tersebut dengan terang benderang menunjuk pada dua kelompok Yahudi dan Nasrani. Dan Ahok adalah bagian dari dua kelompok tersebut. Padahal, untuk membuktikan apakah Ahok masuk kedalam kategori ayat itu atau tidak, itu perlu penelitian yang hati-hati.

Tapi bagi orang yang meyakini bahwa ayat itu tak berlaku bagi semua Yahudi dan Nasrani, melainkan berlaku bagi Yahudi dan Nasrani dengan sifat dan kriteria tertentu saja, seperti yang diterangkan secara panjang lebar pada ayat-ayat sebelumnya, maka ayat tersebut belum tentu menunjuk pada Ahok.

Bisa jadi ayat tersebut menunjuk pada Ahok kalau memang Ahok sesuai dengan kriteria yang disebutkan oleh ayat-ayat sebelumnya. Bisa jadi juga ayat tersebut tak menunjuk pada Ahok melainkan menunjuk kepada orang Yahudi dan Nasrani selainnya yang memiliki kriteria seperti yang telah diterangkan oleh ayat-ayat sebelumnya.

Nah, kalau seandainya memang ayat tersebut berlaku bagi semua Yahudi dan Nasrani—seperti yang diyakini oleh kelompok pertama—kemudian ditujukan kepada Ahok, maka tentu dalam pandangan kelompok pertama ini yang mereka bukan politisasi ayat al-Quran. Bahkan sebaliknya, mereka pasti merasa bahwa yang mereka suarakan itu adalah kebenaran. Itu sebabnya mereka protes. Karena mereka pasti tak rela jika kebenaran yang mereka yakini itu dilecehkan, apalagi oleh orang yang "tidak beriman".

Tapi kalau seandainya ayat tersebut tak berlaku bagi semua Yahudi dan Nasrani—seperti yang diyakini oleh kelompok kedua—kemudian dengan mudahya dilesatkan kepada Ahok—padahal Ahok sendiri belum tentu sesuai dengan kriteria Yahudi Nasrani yang telah diterangkan oleh ayat-ayat sebelumnya—demi meruntuhkan elektabilitas Ahok dan demi merenggut kekuasaan, jelas ini bisa dikatakan sebagai upaya politisasi ayat Tuhan.

Dan orang-orang seperti inilah yang disasar oleh Ahok. Yaitu orang-orang yang suka mempolitisasi ayat-ayat Tuhan dalam konteks merenggut kekuasaan. Baik ayat Tuhan itu tertuang dalam Alkitab, seperti yang diimani oleh umat Kristiani, maupun yang tertuang dalam kitab suci al-Quran, seperti yang diimani oleh orang-orang Islam.

Jika tulisan ini turut serta mendedahkan tafsir para ulama terkait ayat yang sedang kita diskusikan, pasti tulisan ini akan mengular dan membosankan. Dari tulisan ini, penulis ingin memberikan catatan akhir sebagai berikut:

Pertama, Ahok tak bermaksud untuk melecehkan al-Quran, karena yang dia maksud adalah orang-orang yang suka mempolitisasi ayat-ayat Tuhan, baik itu Alkitab maupun al-Quran, seperti yang sudah ia jelaskan.

Kedua, umat Islam tak perlu rusuh apalagi sampai melamporkan Ahok kepada pihak kepolisian, karena pernyataan Ahok itu masih multi-tafsir dan masih bisa didiskusikan. Sebaiknya Ahok minta maaf, tapi umat Islam juga tak perlu menyikapi Ahok dengan emosi dan kecurigaan.

Ketiga, kasus ini menjadi pelajaran penting bagi semu orang, bahwa ayat-ayat suci itu terlalu sensitif untuk dibawa-bawa kedalam ajang kampanye dan pemilihan. Karena itu, baik orang Muslim maupun non-Muslim, sebaiknya menghindari hal demikian. Ini demi menjaga kesucian ayat Tuhan yang kadang terkotori oleh syahwat politik dan kekuasaan.

Keempat, larangan memilih non-Muslim itu bertaut erat dengan tafsiran. Dan sejauh menyangkut tafsiran orang bisa berbeda pandangan. Bagi yang mengimani pendapat A, silakan anut pendapat tersebut, tak ada persoalan. Bagi yang meyakini pendapat B, silakan anda anut pendapat B tersebut, tak jadi permasalahan.

Yang sering menimbulkan pertengkaran dan kekisruhan itu kalau ada orang yang mengimani pendapat A, kemudian memaksa orang lain yang berpendapat B untuk mengimani pendapat A. Apalagi kalau perbedan pendapat itu sampai pada tingkat meragukan keimanan orang yang berbeda. Padahal keimanannya sendiri belum tentu lebih baik dari orang yang dia anggap beda.

Kelima, jangan mudah terprovokasi oleh berita-berita yang belum memiliki kejelasan. Apalagi dalam soal politik yang penuh intrik dan persaingan. Menyiarkan berita yang belum memiliki kejelasan dan berisikan tuduhan yang belum memiliki kepastian itu dosa besar dan tak layak dilakukan oleh seorang Muslim yang mengimani apalagi hafal al-Quran.

Semoga tulisan ini bermanfaat, semoga Ahok dikarunia hidayah dan semoga semua dosa-dosa kita diampuni oleh Tuhan. Sekian. Wallahu ‘alam.

(Kairo, Zahra, Medinat-Nasr 09 Oktober 2016)