Calon gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dihadiahi sebuh buku berjudul 'Ensiklopedi Nurcholish Madjid' saat mengunjungi keluarga almarhum Cak Nur di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan (23 Maret 2017).

Buku tersebut diberikan langsung istri almarhum, Omi Komariah. "Mudah-mudahan dengan (buku) itu bisa dibaca oleh Pak Ahok sehingga membuka wawasan yang lebih luas," kata Omi kepada wartawan. (rimanews.com).

Pengarang buku Ensiklopedi Nurcholish Madjid, Budhy Munawar, yang ada di lokasi menjelaskan, buku tersebut merupakan kumpulan dari pemikiran Cak Nur. Termasuk di dalamnya, Cak Nur mendeskripsikan dengan lengkap nilai-nilai perjuangan bahwa Indonesia bukanlah negara agama melainkan kebangsaan.

Ahok menyebutkan, dia telah mendengar beberapa konsep pemikiran Cak Nur sejak tahun 2002 silam. Pemikiran tersebut, kata dia, sangat relevan jika dihadapkan dengan situasi saat ini, dimana terjadi perang urat SARA sejak dimulainya kontestasi Pilkada.

Pengurus Nurcholis Madjid Society, Yudi Latief, yang turut menghadiri pertemuan Ahok dengan keluarga Cak Nur mengaku, antara Ahok dan Alm. Cak Nur memiliki pemikiran yang hampir sepaham. (jitunews.com).

Membumikan pemikiran Cak Nur, tentang pluralisme, misalnya, saat ini dirasa sangat penting. Sangat relevan dan urgen untuk diketengahkan di Kota metropolitan semacam Jakarta. Apabila berbicara mengenai kota dan ketika mendengar kata kota, sebagian orang tentu menunjuk pada suatu kawasan yang sangat ramai, lalu lintas yang padat, pertokoan yang berderet-deret, dan fasilitas umum yang tersedia di berbagai tempat. Dari beberapa ciri tersebut sudah menunjukkan bahwa kehidupan yang terjadi di kota itu lebih kompleks dan heterogen.

Jakarta adalah salah satu Kota yang mempunyai tingkat kemajemukan yang signifikan. Dengan terdiri beragam macam etnis dan kebudayaan yang berbeda-beda. Dalam konteks inilah, megetengahkan kembali pemikiran Cak Nur tentang Islam Pluralis Indonesia menjadi relevan. Pluralis sendiri berasal dari bahasa latin yakni plures yang artinya (beberapa) dengan implikasi perbedaan didalamnya.

Pluralisme  adalah pandangan yang tidak mau mereduksi segala sesuatu pada suatu prinsip terakhir akan tetap menerima adanya keragaman yang berbeda. Jelas bahwa pluralisme terdapat dalam bidang cultural, politik dan agama. Namun kita jangan terjebak dan terbiaskan oleh pengertian relativisme, tentulah orang yang beragama tidak dapat menerima sepenuhnya. Oleh karena itu pemahaman yang berbeda terdapat ide pluralisme pada tokoh-tokoh tertentu dalam memandang pluralisme.

Berangkat dari pemikiran Cak Nur (Nurcholish Madjid) pluralisme merupakan suatu nilai yang memandang secara positif dan optimis terhadap kemajemukan semua hal dalam berkehidupan sosial dan budaya termasuk Agama dengan menerima sebagai kenyataan dan berbuat sebaik mungkin dapat mewujudkan pernyataan tersebut.

Dimaksud positif dan optimis adalah sikap aktif dan bijaksana. Banyak para cendekiawan muslim Indonesia aktif berdialog tentang islam dan pluralisme. Kita bertolak dari pandangan bahwa Islam merupakan agama kemanusiaan yang berarti kemanusiaan universal, cak Nur berpendapat bahwa cita-cita Islam sejalan dengan cita-cita manusia di Indonesia pada umumnya. Karena ini merupakan salah satu pokok ajaran Islam tentang Keterbukaan.

Lebih spesifik, Cak Nur menulis, “pluralisme adalah perangkat untuk mendorong pengayaan budaya bangsa. Maka, budaya Indonesia atau keIndonesiaan, tidak lain adalah hasil interaksi yang kaya (resourcefull) dan dinamis antar pelaku budaya yang beraneka ragam itu dalam suatu melting pot yang efektif. Seperti yang diperankan oleh kota-kota besar di Indonesia. Khususnya Ibu Kota. (Lihat dalam buku Problematika Islam Di Indonesia. Hal 5).

Jadi, dalam pandangan Cak Nur, pada dasarnya kemajemukan masyarakat atau hakekat pluralisme, tidaklah cukup diapahami hanya dengan sikap mengakui dan menerima kenyataan bahwa masyarakat itu bersifat majemuk, tapi – yang lebih mendasar – harus disertai dengan sikap tulus menerima kenyataan kemajemukan itu sebagai bernilai positif, dan merupakan rahmat Tuhan kepada manusia, karena akan memperkaya pertumbuhan budaya melalui interaksi dinamis dan pertukaran silang budaya yang beraneka ragam.

 Menyatakan bahwa masyarakat itu adalah majemuk, terdiri dari berbagai suku dan agama justeru hanya menggambarkan kesan fragmentasi. Pluralisme juga tidak boleh dipahami sekedar sebagai “kebaikan negatif” (negative good), hanya ditilik dari kegunannya untuk menyingkirkan fanatisme (to keep fanaticism at bay). Pluralisme harus dipahami sebagai “pertalian sejati kebinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban” (genuine engagement of diversities within bonds of civility). Bahkan, lanjutnya, pluralisme merupakan suatu keharusan bagi keselamatan umat manusia, antara lain melalui mekanisme pengawasan dan pengimbangan yang dihasilkannya.

Dalam memahami ajaran agama, menurut Cak Nur, dimensi atau unsur kemanusiaan menjadi sesuatu yang niscaya. Hal demikian mengesankan adanya intervensi manusia dalam urusan yang menjadi hak prerogatif Tuhan. Tetapi tentu dapat dibedakan antara “agama” dan “paham keagamaan”. Oleh karena itu cak Nur sangat terbuka terhadap segala sesuatu yang memang dapat membantu di dalam memahami pesan-pesan Ilahi.

Akhirnya, semoga nilai-nilai yang selama ini diperjuangkan Almarhum Cak Nur, akn terus didengungkan oleh Ahok, kelak ketika menjadi Gubernur. Semoga.