3 bulan lalu · 13040 view · 3 menit baca · Politik 44468_83803.jpg
@AhokBTP

Ahok, Politikus Paling Ditakuti di Indonesia

Nyaris bisa saya pastikan, Ahok adalah politikus paling ditakuti di Indonesia.

Kisah-kisah tentang Ahok sudah sedikit banyak menegaskan. Saat hendak menjadi Calon Bupati Belitung Timur, misalnya, kontra terhadapnya begitu sengit. Terutama dari kelompok rasialis, mereka tidak sudi menerima “orang Cina” (Tionghoa) sebagai pemimpin. Cap “orang Kristen” juga ikut jadi dalih penolakan.

Padahal, sebagaimana Ahok nyatakan di Mengubah Indonesia; The Story of Basuki Tjahaja Purnama (2008), sesungguhnya tidak ada orang Cina di Indonesia. Yang ada adalah orang Indonesia keturunan nenek moyangnya dari Republik Rakyat Cina atau keturunan ras Mongoloid.

Pun demikian dengan cap “orang Kristen”. Ahok yakin, dirinya bukanlah seorang Kristen, melainkan warga negara Indonesia yang beriman kepada Nabi Isa, Tuhan Yesus Kristus.


Jangankan hendak menjadi Calon Bupati, keputusan Ahok untuk menanggalkan jabatan sebagai Ketua Majelis Gereja Kristus—lantaran ingin memulai karier di dunia politik—saja dikecam bertubi-tubi. Ada yang menilainya sebagai orang yang ambisius dengan kekuasaan. Hingga yang tergeli: Ahok punya misi kristenisasi sebagai misonaris yang dibiayai Vatikan.

Serangan serupa juga dihadapi Ahok saat maju di Pemilihan Gubernur Bangka Belitung. Artinya, selama karier politik Ahok, dalih penolakan berlabel ayat suci kerap membuntuti. Oleh yang Islam, ayat suci yang dipakai sebagai pelindung adalah Al-Maidah 51. Sementara yang Kristen, Galatia 6:10.

Ayat-ayat di atas memang sengaja disebar oleh mereka yang tidak kuat melawan sosok politikus semacam Ahok. Mereka tidak mampu bersaing secara visi-misi dan program serta integritas. Maka satu-satunya taktik yang tersisa adalah berlindung di balik ayat suci. Harapannya, agar rakyat dengan konsep “seiman” mau memilihnya.

Beruntung Ahok tak surut. Meski stigma sudah menyebar ke mana-mana, pendirian Ahok tetap tegak. Keputusannya untuk terjun ke dunia politik adalah panggilan hati nurani.

Rakyat tidak hanya membutuhkan doa-doa di gereja. Yang dibutuhkan adalah pertolongan nyata agar mereka memiliki jaminan sandang, pangan, pendidikan, kesehatan, dan jaminan hari tua di dunia ini.

Ahok yakin betul, kepentingan orang banyak dengan pengorbananlah yang tuhannya kehendaki. Bukan sebaliknya: mengatasnamakan tuhan, tetapi menikmati hidup berlimpah di atas penderitaan rakyat yang tak berpengharapan.

Tetapi misi mulia Ahok senantiasa tidak berakhir manis. Kejadian serupa juga kembali terulang di masa Pilkada DKI Jakarta. Dan nahas, tak hanya kekalahan saja yang Ahok tanggung, penjara tubuh pun ia derita.


Bahkan, selama masa tahanan, ketakutan terhadap Ahok masih kerap terdengar. Apalagi kini dirinya bebas, ketakutan itu malah menjadi-jadi; nyaris tanpa akal sehat sama sekali.

Simak saja kabar Indopos. Koran ini angkat berita dengan judul provokatif Ahok Gantikan Ma’ruf Amin, lengkap grafik Prediksi 2019-2024.

Indopos, 13 Februari 2019

Berdasar grafik di atas, ada lima tahap skenario yang Indopos siarkan: (1) Jokowi-Ma’ruf terpilih, kemudian Ma’ruf berhenti dengan alasan kesehatan; (2) Ahok gantikan Ma’ruf, diangkat sebagai Wakil Presiden karena kursi RI-2 kosong.

(3) Setelah Ahok jadi Wapres, Jokowi mengundurkan diri dengan berbagai alasan; (4) Ahok menjadi Presiden RI dan mengangkat Ketua Umum Perindo Hary Tanoesoedibjo sebagai Wapres; (5) Ahok dan Hary Tanoe, yang sama-sama Tionghoa, menjadi RI-1 dan RI-2, penguasa Republik Indonesia.

Lima tahap tersebut, dalih Indopos, berasal dari rumor yang beredar di media sosial, terutama sejak masuknya Ahok menjadi kader PDI Perjuangan. Banyak pendapat warganet dikutip, berinti: jika Jokowi-Ma’ruf menang di Pilpres 2019, maka potensi Ahok menggantikan Ma’ruf sangat besar—sang kiai yang saat ini sudah berusia 75 tahun bisa saja berhalangan tetap, seperti sakit atau meninggal dunia.

Sangat jelas, isu rasial kembali dimainkan. Bukan semata menyerang Jokowi, tetapi sarat akan ketakutan berlebih terhadap Ahok yang dikenal luas sebagai sosok bermental petarung tanpa pandang bulu.

Yang takut, tentu saja, adalah mereka yang gemar menjadikan panggung politik sebagai sarana kesejahteraan pribadi dan golongannya.


Melawan Ahok memang butuh strategi, dan itu harus khusus! Tidak cukup alias sia-sia untuk mengalahkannya dengan cara-cara fair. Perlu menghalalkan segala cara demi membungkamnya.

Bayangkan saja, untuk sekadar memenjarakan tubuh si Ikan Kecil Nemo, butuh upaya rekayasa atau pelintiran kata-kata terlebih dahulu. Mendapat momentumnya, 7 jutaan orang lalu diterjunkan langsung untuk mendemonya. Opini publik tentang kesalahan Ahok terus-menerus diproduksi.

Tak sanggup dengan itu, intervensi berlebih pun dilakukan di tiap persidangan: mendesak majelis hakim dari luar agar segera menyatakan Ahok bersalah. Sampai-sampai meminta fatwa ke lembaga keagamaan milik umat mayoritas demi legalitas.

Ahok memang fenomena. Di negeri di mana para penjahat berbondong-bondong ingin berkuasa, meredam Ahok sebelum berkembang mesti jadi prioritas. Ketakutan terhadap Ahok adalah konsekuensi logis.

Artikel Terkait