Di depan Front Pembela Islam (FPI) Anies Baswedan mengaku telah memadamkan pemikiran Nurcholish Madjid (Cak Nur) di Paramadina. Sosoknya yang diharapkan dapat meneruskan dan merawat pemikiran Cak Nur justru memadamkannya dengan menjual idealismenya demi kepentingan politik semata. Sebaliknya, Ahok selalu konsisten dalam memperjuangkan nilai-nilai perjuangan Cak Nur.

Anies yang merupakan suksesi Cak Nur di Universitas Paramadina seharusnya menjadi garda terdepan dalam merawat ide-ide dan gagasan Cak Nur, bukan malah memadamkannya. Padahal, ide dan pemikiran Cak Nur tentang keislaman dan keindonesiaan perlu kita perjuangkan bersama dalam kehidupan beragama kita.

Cak Nur dengan ide keislaman dan keindonesiaan telah  berhasil membawa nuansa baru dalam kehidupan beragama di Indonesia. Corak kehidupan beragama di Indonesia dibuatnya menjadi lebih toleran dan inklusif. Bahkan, Islam di tangan Cak Nur mampu diramu menjadi Islam yang Rahmatal Lil Alamin, yakni menjadi agama yang ramah dan membawa kedamaian tidak hanya bagi pemeluknya, tetapi juga umat agama lain.

Konsep Keislaman yang dicanangkan Cak Nur dalam melihat kemajemukan atau pluralitas keagamaan di Indonesia sudah menjadi sunnatullah. Bukan dalam arti menyamakan semua agama, namun hanya mengakomodasi keberagaman agama dan keyakinan masyarakat Indonesia. Masyarakat nantinya harus bertanggung jawab terhadap apa yang diyakininya.

Di sisi lain, Konsep keindonesiaan yang digaungkan oleh Cak Nur adalah tidak mencampuradukkan kepentingan politik dengan dogma-dogma agama. Artinya, Cak Nur mengupayakan untuk menduniawikan hal-hal yang duniawi dan mengukhrowikan hal-hal yang bersifat ukhrowi.

Ini semua adalah sebuah fakta historis bahwa sejak dulu para founding father kita merumuskan Indonesia sebagai negara Pancasila. Artinya, Indonesia bukanlah negara agama, melainkan negara yang berlandaskan hukum dan Pancasila sebagai pedoman hidup dalam berbangsa dan bernegara.

Karena dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara di Indonesia yang masyarakatnya beragam, tentu sikap saling menghargai dan menghormati merupakan kunci terciptanya keharmonisan. Selain itu, keberagaman Indonesia merupakan anugerah yang diberikan Tuhan yang patut disyukuri dan dijaga.

Merawat Pikiran Caknur

Pada Kamis (23/3) Ahok sowan ke istri Cak Nur, Omi Komaria Madjid dalam rangka bersilaturrahim. Dalam kesempatan tersebut, Ahok diberikan buku Ensiklopedia Nucholish Madjid, sebuah buku yang memuat seluruh pemikiran Cak Nur yang berjumlah 4 jilid.

Pemberian buku ini menjadi sebuah pesan untuk Ahok dari keluarga Cak Nur agar selalu memperjuangkan nilai-nilai pemikiran Cak Nur. Salah satunya, Indonesia bukan sebagai negara agama, melainkan sebagai negara Pancasila. Selain itu, ketika Ahok menjadi seorang pemimpin harus melindungi segenap bangsa tanpa memandang agama, golongan, suku, etnis, dan ras.

Sebenarnya Ahok sudah mengimplementasikan nilai-nilai yang diajarkan Cak Nur selama ini. Selama menjadi Gubernur Jakarta, Ahok tidak pernah memperlakukan secara khusus terhadap golongan tertentu.

Bahkan, Ahok yang seorang minoritas sangat peduli sekali terhadap Islam. Bagaimana marbot-marbot diberangkatkan Umroh yang setiap 2 bulan sekali berjumlah 40 orang. Selain itu, di era Ahok sebanyak 7 masjid berhasil dibangun dengan megah. Hal ini menjadi bukti kongkret Ahok dalam menjalankan nilai-nilai yang selama ini Cak Nur ajarkan.

Di sisi lain, penggunaan agama sebagai alat politik untuk menjatuhkan lawannya sangat ditentang oleh Ahok. Sebelum kasus penistaan agama di Pilkada Jakarta yang sudah terlihat jelas dipolitisasi, Ahok sudah mendapatkannya ketika menjadi Cagub Bangka Belitung tahun 2007.

Dalam urusan politik, Ahok tidak pernah membawa nama agama dalam perjalanan karir politiknya. Ahok hanya berlandaskan konstitusi yang berlaku di Indonesia, yang mana membolehkan semua warga Indonesia menjadi pemimpin tanpa melihat suku, agama, ras dan etnis.

Pemisahan agama dengan urusan politik memang seharusnya dipisahkan. Selain dapat memecah-belah bangsa, hal ini juga mampu mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara kita sebagai bangsa yang majemuk dan menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dalam segala bidang.

Bukan hanya menjadi pelajaran saja, nilai-nilai perjuangan Cak Nur Ahok implementasikan dalam kehidupan nyata. Sebagai pemimpin, ia terbukti tidak pernah memandang warganya dari sudut agama apa yang diyakini. Ahok hanya memandang mereka adalah warga Jakarta yang harus dilindungi dan diperhatikan nasibnya.

Anies Memadamkannya

Seharusnya Anies dalam mengimplementasikan nilai-nilai perjuangan Cak Nur harus melebihi apa yang sudah dilakukan oleh Ahok selama ini. Namun, tindakan Anies selama ini justru membuat api perjuangan Cak Nur padam.

Padahal, dulu Anies kerapkali menggaungkan tenun kebangsaan dan sangat anti sekali terhadap ormas-ormas yang bertindak sewenang-wenang. Di samping itu, ia juga begitu geram terhadap ormas yang membawa nama agama dan tuhan dalam pembenaran dalam tindakannya.

Kini, Anies telah berubah. Merajut tenun kebangsaan yang selama ini digaungkannya ia khianati dengan berkunjung ke salah satu ormas yang dulu ia benci, FPI. Kunjungan Anies, tidak lain adalah untuk meminta dukungan politik  dalam pencalonannya menjadi Cagub Jakarta.

Sangat disayangkan, konsistensi Anies dalam menyikapi kelompok-kelompok yang mengatasnamakan agama dan Tuhan dalam pembenaran tindakannya dan memperjuangkan khilafah telah berubah. Anies bukan lagi menjadi garda terdepan dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan Cak Nur, melainkan ia kini menjadi pemuja kelompok intoleran demi syahwat politik semata.

Di samping itu, cara-cara berkampanye kubu Anies-Sandi dengan mengintimidasi warga Jakarta dengan ayat dan mayat sungguh keterlaluan. Ayat-ayat suci al-Quran dijadikan pembenaran bahwasanya pemimpin harus muslim. Ditambah lagi, tidak disalatinya jenazah pendukung dan pembela Ahok tergolong perbuatan sadis.

Hal ini menggambarkan konstitusi sudah bukan lagi menjadi pijakan dalam demokrasi kita, melainkan agama. Tentu, hal ini sangat tidak dibenarkan karena Indonesia bukanlah negara agama melainkan negara hukum.

Harapan masyarakat terhadap Anies untuk terus mengawal nilai-nilai perjuangan Cak Nur telah sirna. Nilai-nilai perjuangan Cak Nur yang selama ini Anies perjuangkan telah dipadamkan oleh tindakan dirinya sendiri. Anies tanpa malu dan ragu ia lakukan hanya sebatas kepentingan pribadinya semata, menjadi Gubernur Jakarta.

 Banyak sekali pemikiran-pemikiran Cak Nur yang sangat relevan dalam kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara kita. Sehingga, kita sebagai generasi penerus harus terus memperjuangkan nilai-nilai pemikiran Cak Nur dalam menjaga persatuan dan kesatuan tanpa memandang golongan tertentu.