3 tahun lalu · 542 view · 3 min baca menit baca · Politik ahok2.jpg

Ahok Memang "Gila"

Pemilihan kepala daerah (Pilkada) DKI Jakarta akan digelar pada tahun 2017 nanti. Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama rencananya akan maju kembali. Tapi tidak memakai kendaran partai politik, melainkan jalur perseorangan atau independen.

Dalam beberapa pengalaman di daerah-daerah, calon incumbent kerap menggunakan jabatannya untuk meraih kemenangan.

Contoh paling terasa saat ini terkait dengan dana desa yang sebagian besar masih belum dicairkan oleh para pejabat daerah yang berkuasa. Menurut Badan Pengawas Pemilu, hal tersebut diduga sebagai strategi para kepala daerah yang ingin kembali maju dalam bursa Pilkada 2017 mendatang.

Kita sering menemukan kecenderungan calon incumbent membuat peraturan atau kebijakan yang menguntungkan warganya menjelang pemilihan. Hal tersebut sangat lumrah di negeri ini.

Perkataan Niccolò Machiavelli (1469-1527) bahwa seorang pemimpin harus cerdik, dipahami dengan cara tersebut oleh mereka yang ingin berkuasa di negeri ini. Artinya, orang-orang ini tahu kapan harus menggunakan kelembutan dan kapan harus keras.

Machiavelli juga bilang bahwa seorang pemimpin harus menggunakan politik tanpa moralitas. Yakni berusaha mewujudkan tujuan-tujuan baik dari politik, walaupun dengan cara-cara yang dipandang tidak bermoral.

Tetapi nasihat Machiavelli yang diadopsi oleh banyak calon kepala daerah incumbent itu, justru ditolak Ahok, sapaan akrab Basuki Tjahaja Purnama, yang juga menjadi calon incumbent untuk Pilkada DKI Jakarta tahun 2017.

Padahal, jika Ahok mengikuti nasihat filsuf yang lahir di Florence-Italia pada 3 Mei 1469 itu, kemungkinan besar ia bisa terpilih kembali. Tapi sekali lagi Ahok memilih tidak melakukan cara-cara yang digunakan oleh kebanyakan calon incumbent.

Ia justru memilih melawan arus. Ia menggusur warga Kampung Pulo dan merelokasi mereka ke rumah susun yang sebelumnya telah disiapkan.

Jika menggunakan nalar berpolitik kepala daerah pada umumnya, Ahok mungkin akan membiarkan warga Kampung Pulo bermukim di daerah rawan banjir tersebut. Ia bisa saja memberikan segala hal yang menjadi tuntutan warga tersebut, memanjakan mereka, memberikan angin-angin surga untuk mereka.

Dengan begitu, ia dapat meraih dukungan besar untuk Pilkada mendatang. Sebab ia akan dianggap sebagai Gubernur yang merakyat atau pro rakyat.

Alih-alih mengambil jalan tersebut, Ahok justru dengan lantang menyatakan bahwa dirinya tidak ingin dipilih oleh masyarakat yang melanggar peraturan. Ia tak mau dipilih oleh mereka yang menghambat programnya dalam memperbaiki Jakarta supaya lebih aman, nyaman dan indah.

Gubernur DKI saat ini memang “gila”. Mungkin level kegilaannya telah di atas rata-rata. Jelas-jelas ia ingin maju kembali di pilkada 2017, tapi malah mengusik warga yang sudah ke-enak-an dengan kebiasaan-kebiasaan negatif mereka. Padahal sudah pasti, orang-orang yang terusik ini, tak akan memilihnya pada Pilkada mendatang.

Namun fenomena menarik juga kita temui terkait gubernur yang satu ini. Seperti kita tahu, kini ada sebuah gerakan yang menamakan diri sebagai “Teman Ahok”. Mereka ini adalah kumpulan warga yang mengapresiasi kinerja sang gubernur.

Sejak beberapa bulan lalu, Teman Ahok berinisiatif mengumpulkan KTP warga yang ingin turut serta mendukung Ahok maju melalui jalur independen pada Pilkada mendatang. Gerakan ini bisa dikatakan cukup berhasil. Mereka telah mengumpulkan 270.261 KTP sampai awal oktober lalu. Bahkan Grup band Slank pun ikut-ikutan membantu dengan menjanjikan 1 juta KTP untuk Ahok.

Perolehan kartu tanda penduduk (KTP) tersebut melampaui suara untuk partai politik tengah, yakni Partai PKPI, Partai PBB, PAN, dan NasDem.  Bahkan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang hanya memperoleh 260.159 suara.

Gaya kepemimpinan yang rasional diterapkan Ahok. Bila berkaca pada filsuf asal Jerman Immanuel Kant (1724-1804), nampaknya Ahok tengah membangun prinsip-prinsip rasional untuk digunakan secara publik.

Kant menyebutkan bahwa seorang pemimpin harus menggunakan pemikiran rasional dalam membuat dan memutuskan suatu kebijakan. Rasionalitas, atau akal budi, digunakan tidak hanya untuk kepentingan pribadi semata, melainkan juga untuk menata masyarakat.

Meski banyak yang tidak suka dan sering mendapat ancaman, Ahok yang sudah diprediksikan menjadi Gubernur oleh KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur itu, tidak gentar menghadapinya.

Mendapatkan berbagai ancaman tersebut, Ahok malah mengatakan: “Saya sudah berpesan (pada keluarga saya) kalau saya mati, tolong jasad saya dikirim ke Belitung. Pada peti matinya sertakan juga: 'mati dengan baik'," ujarnya.

Ahok memang “gila”. Ia berani melawan siapa pun yang dianggap sebagai penjahat dan menghambat perbaikan untuk DKI Jakarta. Ia tidak peduli dengan kemungkinan terburuk dari strategi politiknya yang bisa saja berpengaruh terhadap kemungkinannya terpilih dalam Pilkada mendatang. Yang dia prioritaskan adalah bagaimana caranya menata DKI Jakarta agar lebih manusiawi, aman, nyaman dan indah.

Inilah Ahok, yang dianggap tidak pantas jadi Gubernur Jakarta oleh Front Pembela Islam (FPI) karena bukan dari agama Islam. Dianggap tidak becus oleh anggota dewan, karena sering ngomelin anak buahnya di depan forum. Bahkan dianggap melakukan korupsi oleh sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Tapi Gubernur Jakarta yang non muslim, sering ngomel, dan dianggap korupsi itu mendapat dukungan sangat besar dari rakyat Indonesia, khususnya warga DKI Jakarta, yang memang merindukan sosok pemimpin "gila" dan rasional seperti Ahok.

Artikel Terkait