Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) adalah korban politisasi agama. Ia menjadi pelampiasan amarah durka politisi busuk dan para mafia agama yang kerap menggunakan ayat-ayat suci untuk menjegal seseorang menjadi pejabat publik.

Bahkan hingga kini, kasus yang menimpa Ahok “digoreng” sedemikian rupa dengan tameng penistaan agama yang sarat akan kepentingan. Mereka menyebarluaskan kabar bohong (hoaks) melalui media sosial dan membenturkan politik dengan cara menggadaikan agama dan provokasi kebencian.

Hobi Menjegal

Dalam sejarahnya, kelompok radikalis-fundamentalis memang hobi menjegal seseorang untuk menjadi pemimpin. Dulu, mereka ramai-ramai menolak Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden RI karena dianggap “haram” seorang perempuan menjadi pemimpin politik, apalagi memimpin sebuah negara. Berbagai dalil mereka kumpulkan untuk mendukung pendapatnya. Bahkan mereka menganggap Bu Mega sebagai “Islam Hindu” karena memiliki hubungan sejarah dengan Bali.

Kelompok ekstrimis juga pernah ramai-ramai menentang dan menolak KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Presiden RI karena dianggap “haram” seorang pemimpin yang buta. Menurut mereka, dalam Islam, seorang pemimpin negara tidak boleh “cacat fisik”.

Kelompok ekstrimis ini juga pernah ramai-ramai menentang Pak Jokowi menjadi seorang pejabat publik. Pak Jokowi dianggap seorang “Islam abangan”, “Islam KTP”, “Islam Kejawen” tidak fasih membaca al-Qur’an, dan masih banyak alasan-alasan yang dibuat-buat dengan dalil yang memperkuat pendapat mereka sendiri.

Sekarang, kelompok ekstrimis ini kembali ramai-ramai menghujat, menjegal dan menggruduk Ahok agar gagal dalam kontestasi Pilkada DKI Jakarta. Serangan mereka terhadap Ahok lebih brutal dengan alasan Ahok adalah China dan Kristen. Sebagai seorang yang berasal dari kalangan minoritas, Ahok menjadi target yang sangat empuk dalam kampanye hitam oleh oknum-oknum politisi agama.

Berbagai dalil tumpah-ruah dikutip untuk mendukung pendapat mereka. Argumen, sikap, dan tindakan gelap mata dan membabi buta mereka lakukan, bahkan menggunakan aksi-aksi kekerasan. Para mafia agama dan politik ini sangat rajin melakukan aksi brutal demi menjegal Ahok menjadi Gubernur. Negeri ini memang aneh, seorang Ahok yang mencoba melawan orang yang melakukan politisasi agama, malah dituduh telah menista agama.

Mereka tidak saja mevonis Ahok dan para pemilihnya dalam masalah dunia, tetapi juga masalah akhirat. Mereka menuntut Ahok agar dipenjara. Mereka juga menganggap pendukung Ahok sebagai orang yang munafik dan tidak akan masuk surga. Padahal yang berhak menjatuhkan vonis di dunia adalah hakim di pengadilan. Dan yang memiliki hak mutlak mengadili di akhirat adalah Tuhan yang Maha Esa.

Sungguh sikap buruk yang dipertontonkan hanya demi kepentingan politik semata. Apalagi terdapat banyak sekali kejanggalan kasus Ahok mulai dari proses gelar perkara yang dilakukan kepolisian hingga berbagai keterangan saksi-saksi di persidangan yang tak satupun bisa membuktikan Ahok telah menista agama. Hal ini menunjukkan bahwa kasus Ahok bukan suatu pelanggaran hukum, namun pelampiasan kebencian suatu golongan terhadap Ahok.

Tindakan buruk

Politisasi agama dengan menggunakan ayat-ayat suci demi kepentingan politik semata ini adalah tindakan buruk. Dampak penyebaran politisasi agama ini telah menciptakan disharmonis antar masyarakat di negeri ini. Agama direduksi menjadi alat untuk merebut kekuasaan berjangka pendek tanpa melihat segala konsekuensi buruknya, seperti perpecahan di kalangan masyarakat.

Politisasi agama ini memberi dampak yang sangat mengerikan seperti intrik politik, teror dan kekerasan atas nama agama. Padahal setiap agama menghadirkan kedamaian. Namun di Ibu Kota, agama  dieksploitasi habis-habisan demi kekuasaan politik sesaat.

Politisasi agama semestinya harus dihindari agar pemilihan kepala daerah menjadi momentum bagi masyarakat untuk menentukan pemimpin berdasarkan rekam jejak dan kinerja. Provokasi kebencian melalu agama ini sama sekali tidak membuat keteduhan dalam perpolitikan di Ibu Kota, yang ada hanyalah intimidasi, pernyataan yang kotor dan provokasi fitnah.

Tentu politisasi agama adalah ancaman nyata terhadap demokrasi. Jika ini dibiarkan, boleh jadi sendi-sendi keberagaman bangsa Indonesia semakin rusak. Maka dari itu, siapa pun, jangan pernah bermain-main dengan isu agama. Melibatkan agama ke dalam urusan politik yang penuh intrik dan kerakusan, hanya akan menodai kesucian agama itu sendiri. Publik tidak akan memilih paslon yang kerap mempolitisasi agama.