Peneliti
2 tahun lalu · 432 view · 5 min baca · Politik 20161010_155810_0.png

Ahok Ingin Fokus Kerja, Bukan Ingin Dikasihani

Berbagai usaha untuk menurunkan elektabilitas Ahok dan menjegalnya dalam kompetisi pilkada DKI Jakarta benar-benar sudah sampai pada klimaks. Berbagai cara dan fitnah keji ditempuh dan dilancarkan. Dari soal agama Ahok yang non-Muslim, soal fitnah ada indikasi korupsi dalam kasus tanah rumah sakit sumber waras dan reklamasi pantai.

Termasuk ulah tukang survei yang sejak awal "melingkar-lingkar" membuat lingkaran anti Ahok dengan menyurvei dan mengklaim bahwa Ahok-Djarot cenderung terus menurun elektabilitasnya

Tampaknnya memang jelas terbaca si tukang survei ini mendukung cagub yang hobi "meloncat-loncat" dan takut debat karena tidak mampu, sampai "lebaran kuda" pun. Ia memakai "ayat-ayat" surveinya yang sesat untuk membohongi publik dan mengklaim cagub yang didukungnya sebagai cagub yang melompat jauh elektabitisanya dan mengalahkan cagub yang lain, terutama Ahok. Lebay memang si tukang survei yang satu ini, "Dasar Jago ngAsal!

Sampai pada yang terakhir menyangkut sentimen agama berbalut politik alias politisasi agama berupa konten dalam Kitab Suci Alquran (geger kasus Al-Maidah 51) berujung unjuk rasa berjilid itu dan akhirnya kini membawa Ahok ke meja hijau sebagai tersangka menista agama.

Padahal jelas ini adalah fitnah keji dan berbau politis. Dan hukum tidak berdiri sendiri sebagai hukum tapi sudah dipengaruhi anasir politis dan tunduk pada tekanan massa.

Ini jelas tidak fair dan menunjukkan ketidakadilan. Karena, coba saja bayangkan, dari sejak kasus ini mencuat, tekanan massa begitu kuat memengaruhi proses penanganannya secara hukum. Opini publik mendahului getok palu hakim sebagai keputusan pengadilan.

Opini publik, nafsu menyeret Ahok ke penjara digaungkan sejak awal. Artinya, tahan dan penjarakan Ahok adalah pengadilan di luar pengadilan. Ahok sama sekali tidak memiliki celah untuk bebas. Aneh, padahal tuntutannya biarkan hukum yang berbicara, tapi pada kasus Ahok hukum dibungkam lewat tekanan massa dan opini publik. Karena kalau Ahok diputus bebas, massa akan terus menekan.

Meski demikian, Ahok tetap tegar dan optimis bahwa ia yakin akan memenangi kompetisi pilkada DKI Jakarta ini dan dilantik kembali sebagai gubernur DKI Jakarta untuk rentang waktu lima tahun ke depan.

Soal Ahok menangis pada saat sidang perdana di pengadilan dalam membacakan nota keberatan (eksepsi) itu adalah manusiawi, karena ia menyebutkan orang yang telah tiada yang sudah banyak berjasa dan membantunya selama ini. Ingat, bukan tangisan buaya yang banyak disebut dan disebar melalui media daring oleh orang-orang yang anti Ahok itu agar dapat simpati publik dan memberi kesan Ahok sebagai korban yang terzolimi dan ingin dikasihani.

Salah besar menganggap tangisan Ahok adalah sandiwara, apalagi tangisan cengeng. Karena setelah selesai sidang perdana di pengadilan itu pun dan akan dilanjutkan minggu depan, Ahok kembali pada kerja dan tugasnya, kampanye, menyapa dan menunjukkan kinerjanya pada warga Jakarta. Berjalan mengalir seperti biasa. Bagi Ahok yang penting kerja dan kerja untuk kepentingan warga Jakarta.

Sudah jelas sejak Ahok menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta sampai hari ini, bahkan ia sebutkan dengan tegas dalam nota keberatannya di pengadilan kemarin itu, bahwa ia hanya ingin fokus kerja untuk membangun Ibu Kota Jakarta ini lebih baik dan maju. Ia ingin memperlihatkan kinerjanya dan keseriusannya sebagai pelayan publik dalam memajukan Jakarta. Sebagaimana semboyan kampanyenya adalah "kerja dan kerja".

Hasil kerja Ahok sudah bisa dilihat dan dirasakan oleh warga Jakarta. Ini adalah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Dan ini pula adalah kelebihan Ahok dengan tanpa mengesampingkan kekurangannya sebagai manusia biasa, misalnya cara komunikasi Ahok yang apa adanya dan inilah yang kerap disalahpahami bahkan sering menjadi bumerang bagi Ahok.

Hasil kerja Ahok yang luar biasa menyangkut pemerintahannya yang bersih dari korupsi dengan sistem e-buggeting, sehingga ini dapat diakses dan diawasi publik secara transparan, profesional dan akuntabel dalam mengelola anggaran Pemda DKI Jakarta.

Ia menata ulang tata ruang kota Jakarta dengan melakukan penataan secara tegas atas pemukiman yang tidak layak seperti di bantaran kali dan warga yang menempati lahan yang mestinya untuk ruang terbuka hijau dan taman kota.

Misalnya, ia menata dan memfungsikan kembali waduk Pluit di Penjaringan, menata kawasan Luar Batang Penjaringan, Kalijodo Penjaringan, menata Kampung Pulo, Bukit Duri, Kebon Kacang Kemayoran, Bidaracina Jakarta Timur, pemukiman di bantaran kali Krukut dan lainnya.

Jadi, Ahok bukan melakukan penggusuran, walaupun sering disalahpahami publik sebagai penggusuran an sich. Ia sebenarnya memiliki tujuan yang jelas, yakni penataan ulang sekaligus memberikan solusinya, demi kebaikan bersama dalam jangka panjang, terutama mengurangi potensi banjir yang sering menjadi langganan di Ibu Kota jika musim penghujan tiba.

Ia juga menggerakkan optimalisasi dan revitalisasi kinerja Dinas Kebersihan dengan mengerahkan pasukan oranye dalam kebersihan lingkungan dan sungai-sungai di Jakarta. Hasilnya, lingkungan dan sungai-sungai di Jakarta relatif bersih. Kali-kali atau sungai-sungai di Jakarta menjadi bersih karena Ahok, bukan karena Foke pernah menjadi viral di media sosial.

Bahkan, ketika mengetik di mesin pencarian Google: "kali bersih karena Foke", yang terjadi adalah koreksi Google yang terus memunculkan hasil: "kali bersih karena Ahok". Aneh tapi nyata. Walaupun ada ahli IT menyebutkan bahwa ini berkaitan dengan gencarnya publikasi tentang kali bersih karena Ahok, tapi nyatanya, kali menjadi bersih di era Gubernur Ahok memang tidak terbantahkan

Hasil kerja Ahok untuk keberagamaan dan keragaman tidak perlu disangsikan. Keharmonisan dan kerukunan umat beragama yang beragam di Ibu kota lebih terjalin dan terajut baik dan indah. Nyaris tak terdengar dan terjadi konflik horizonal yang berlatar belakang agama ataupun entis di Jakarta ketimbang di daerah-darerah lain yang sesekali masih terjadi.

Apalagi untuk kepentingan umat Islam yang notabene mayoritas di Ibu Kota Jakarta. Tidak perlu lagi diulas berulang-ulang tentang kepedulian dan keterlibatan Ahok dalam hal ini. Sudah terang benderang dan bahkan terakhir sempat pula Ahok membeberkannya dalam nota keberatannya di sidang perdana pengadilan yang disiarkan langsung oleh stasiun televisi itu.

Yang jelas, inilah kelebihan Ahok dalam hasil kerjanya selama ia menjabat sebagai Gubernur dan Djarot sebagai wakilnya.

Ahok memiliki karakteristik kepemimpinan yang khas dan layak diapresiasi dalam memimpin Ibu Kota Jakarta lima tahun ke depan. Karakteristik kepemimpinan Ahok tersimpul pada hal-hal berikut, antara lain berpikir di luar kelaziman (think outside the box), keberanian mendobrak birokrasi, kemampuan untuk selalu berimprovisasi, mengormati waktu dan tidak mendewakan kekuasaan.

Ia merespons masalah secara real time, punya keberanian mengambil resiko, melawan fitnah, kemampuan melakukan transformasi diri, berpikir rasional, taat sistem dan peraturan, dan tentu problem solver. Baca lagi tulisan saya terdahulu.

Walhasil, Ahok memang lebih pantas menduduki kembali kursi DKI 1 untuk lima tahun mendatang karena kinerjanya. Ahok sendiri menyatakan bahwa ia ingin lebih serius dan lebih fokus kerja untuk Ibu Kota Jakarta. Ini membuktikan bahwa Ahok masih lebih baik dari pesaingnya, yaitu mantan tentara yang takut debat melulu karena ketidakmampuannya sampai "lebaran kuda" itu, dan mantan menteri yang dipecat di tengah jalan begitu.

Artikel Terkait