4 minggu lalu · 798 view · 3 min baca · Politik 59269_92837.jpg
Foto: Tagar.id

Ahok, Guru Terbaik Anies Sepanjang Masa

Pak Gubernur DKI, memang Anda bukan gubernur saya. Secara de facto dan de jure, Anda bukanlah gubernur saya. 

Memang banyak sekali orang yang menganggap bahwa Anda ini adalah gubernur Indonesia. Bahkan ada orang yang mengatakan dan menyanjung-nyanjung sampai mengangkat-angkat Anda sebagai gubernur terbaik sepanjang sejarah.

Ya, itu penilaian mereka yang mereka buat sendiri. Dan saya menghargai opini mereka seperti saya menghargai kesombongan Prabowo ketika dia mengeklaim dirinya menang.

Ada hal yang ingin saya katakan kepada Anda, sebagai warga biasa kepada seorang pemimpin DKI Jakarta. Saya melihat, bagaimana pun juga, Anda adalah orang yang sudah terpilih pada tahun 2016. Anda sudah dipilih 58 persen warga Jakarta.

Mengapa Anda menang? Beberapa faktor-faktor yang ada, baik dari isu-isu yang dimainkan pendukung Anda sampai jualan ide kampanye menutup dan menolak reklamasi dan rumah DP nol persen, saya tidak perduli. Yang pasti, memang Anda sudah terpilih.

Anda sudah terpilih untuk mengayomi seluruh rakyat Jakarta. 100% rakyat Jakarta saat ini ada di bawah tanggung jawab Anda. Jadi seharusnya Anda menjadi sosok yang mempertontonkan sebuah keberpihakan kepada seluruhnya.


Tapi ternyata, Anda ini memang hanyalah seperti kebanyakan politisi yang tidak ingin jadi politisi kebanyakan. Setiap orang sepertimu hanya ingin menjadi yang terbaik. Dan menjadi yang terbaik adalah keinginan setiap orang. Sederhana sekali logikanya, bukan?

Saya cukup menghargai apa yang menjadi janji kampanyemu di awal-awal. Ya, di awal-awal, bukan sekarang. Karena sekarang saya melihat bagaimana Anda sudah makin lama makin kesulitan untuk menjawab seluruh janji kampanye yang sudah disemburkan di awal-awal kampanye.

Entah mengapa kami sebagai warga melihat bahwa Anda ini tidak sedang fokus untuk mengurus warga Jakarta. Tapi kami melihat Anda ini sedang mencoba untuk mengurus para pendukung yang solid.

Terlihat sekali, melalui langkah-langkah politik yang Anda kerjakan, Anda sebenarnya sedang menyenangkan sekelompok orang tertentu, yakni mereka yang mudah diprovokasi oleh isu-isu sensitif. 

Ini adalah sebuah hal yang bisa dilihat dengan mudah. Terlihat bagaimana ada sebuah semangat bukan untuk memperbaiki kota, melainkan untuk membuat pendukungmu nyaman dan santai. Mereka ternikmat dengan segala permainan tata kata yang Anda kerjakan selama ini. Untuk apa?

Apakah Anda sadar bahwa isu-isu yang Anda munculkan ini adalah isu yang sangat sensitif? Seharusnya sadar. Tapi apakah Anda peduli bahwa potensi perpecahan karena kata-kata yang dikeluarkan itu malah lebih berbahaya ketimbang Basuki Tjahaja Purnama?

Seharusnya Anda belajar dari Pak Basuki mengenai tata kata, tata kota, dan tata emosi. Anda mahir menata kata, tapi tidak mahir membayar setiap kata-kata yang sudah dikeluarkan. 

Orang tidak dinilai dari kata-katanya. Seorang manusia dinilai dari bagaimana kata-katanya dipenuhi satu per satu.

Seharusnya Anda juga belajar dari Pak Basuki mengenai tata kota. Secara tata kota, ia sekarang ini masih dikenal sebagai seorang legenda pengubah wajah Jakarta. Wajah Jakarta yang banjir diubah menjadi wajah Jakarta yang bersahaja. Wajah Jakarta yang macet diubah menjadi wajah Jakarta yang bebas dari kemacetan.

Polusi di Jakarta pada saat itu teratasi dengan baik. Bukan dengan bambu, tapi dengan penetapan peraturan-peraturan dan penataan yang sangat profesional. Penataan kota yang dikerjakan oleh Basuki adalah penataan kota kelas dunia.


Apa yang ia kerjakan, bahkan, disebut-sebut menjadi sebuah benchmark bagi negara-negara lain. Kota-kota lain mulai menggunakan sistem tata kota yang dikerjakan oleh Ahok dalam semua yang dijalankan saat itu.

Bayangkan, Jakarta bisa bebas banjir. Nyaris seluruh titik habis. Tapi apa daya, penata kota ini harus tidak lanjut. Dia pada akhirnya kalah. 

Tapi tidak apa. Orang, kalau baik, pasti akan dipakai. Kalau seseorang berlaku baik dan jujur dalam hidupnya, tentu akan diingat sepanjang masa. Dia akan dipakai di lain kesempatan. Mungkin dunia politik memang tidak terlalu pantas untuk dirinya. Sayang sekali, saudara-saudara.

Selain tata kata dan tata kota, seharusnya Anda juga belajar menata emosi dari Basuki. Ya, Basuki yang hari ini, bukan Basuki yang hari itu. Lucu sekali ketika kita melihat bagaimana  tata emosi antara Anda dan Ahok berbeda secara urutan.

Ketika Ahok naik kelas dalam tata emosi, entah mengapa Anda terlihat sedang menurun. Mungkin tidak berlebihan jika saya menyimpulkan bahwa Ahok naik kelas dan Anies turun kelas. Tidak berlebihan, bukan?

Jadi, sepertinya Ahok adalah guru terbaik bagi Anda saat ini. Carilah dia. Bertemulah empat mata dengannya jika harga diri Anda terlalu tinggi untuk sowan barang sekali kepada orang ini. Ahok jauh lebih berpengalaman.

Pak Basuki sekarang jauh lebih bisa memaknai kehidupannya ketimbang Anda. Selamat datang. Rendahkanlah hatimu, belajarlah kepada Pak Basuki. Mau Basuki Tjahaja Purnama atau Basuki Hadimuljono, bebas.

Artikel Terkait