1 minggu lalu · 3653 view · 3 min baca menit baca · Politik 76832_11576.jpg

Ahok Disambut Warga, Anies Dicuekin

Kalah rasa menang, menang rasa kalah

Ahok dan Anies adalah dua antitesis yang saling bertentangan satu sama lain. Mereka terpisah antara langit dan bumi, jika tidak ingin dikatakan antara surga dan neraka. 

Kedua orang ini seolah memiliki jalan ninja yang berbeda. Yang satu jalan ninjanya adalah seperti Naruto, yang satu lagi seperti… Hmm.. Apa ya? 

Ahok bisa dikatakan sebagai Naruto. Pemikirannya sederhana, yakni untuk menjalankan kehidupan yang lebih baik. Sedangkan Anies ini bisa dikategorikan seperti… Wah, sulit cari peran antagonis yang bisa mewakili orang ini. Yang lebih baik, banyak!

Ahok, ketika disambut di stasiun MRT, begitu mendapatkan antusiasme warga. Ahok mencuri perhatian warga, meski dia tidak secara aktif melakukan tindakan pencitraan. Dia hanya datang ke MRT. Ada di seberang dari para kerumunan rakyat. 

Sebenarnya sederhana sekali. Ahok ini sedang melakukan percobaan perdananya di MRT, yang paling menghabiskan waktunya sebagai Gubernur DKI pada saat itu.

Kita tahu bahwa Ahok ini adalah sosok yang membangun Jakarta dengan sangat baik. Pak Ahok mempertontonkan sebuah citra yang baik di kota Jakarta. Orang-orang Jakarta sempat tidak malu lagi tinggal di Jakarta karena modernisme dan setiap kenyamanan yang ditawarkan.

Sayangnya, MRT belum selesai, Ahok sudah harus turun jabatan karena harus segera ditahan di persidangan terakhirnya. Dengan didampingi oleh polisi, Ahok diantar ke mobil tahanan dari gedung Pengadilan Tinggi Negeri Jakarta, dan kemudian dipindahkan ke rutan. Dari rutan ke Mako Brimob.


Ahok, terdakwa penistaan terhadap agama ini, menjadi sosok yang begitu dirindukan. Penjara adalah sebuah tempat yang bisa diibaratkan sebagai purgatory dari Ahok. Untuk informasi tambahan, purgatory adalah sebuah tempat yang dianggap oleh agama Kristen sebagai tempat penyucian.

Penjara adalah purgatory bagi Ahok. Selama dua tahun, dia tidak bersuara. Dia hanya menulis. Tulisan-tulisan tangannya menjadi catatan sejarah bagaimana seorang baik itu ada di penjara. Bagaimana kisah-kisah hidupnya, hanya dia yang tahu secara detail, dan Tuhan.

Manusia-manusia di luar sana menerka-nerka apa yang menjadi kabar Ahok pada saat ia di Mako Brimob. Meski suaranya dibungkam, pengaruhnya justru makin besar. Di sinilah saya sadar bahwa Ahok orang besar. Dia memenuhi ciri-ciri orang besar.

Orang besar memiliki salah satu ciri-ciri bahwa suaranya tetap terdengar meski fisiknya sudah tertahan. Beberapa orang-orang ini, salah satunya, adalah Soekarno.

Jasadnya boleh sudah tiada. Tapi pengaruhnya sampai saat ini membuat Jokowi tetap menang. Ini adalah sebuah hal yang menjadi bonus bagi kita. Ahok ini mempertontonkan sebuah kebijakan yang populis. 

Orang populer karena dua hal. Pertama, orang populer karena pencitraan ke populasi. Pencitraan demi pencitraan dikerjakan untuk mendapatkan perhatian. 

Ketika kita sudah menjadi pusat perhatian, di sanalah popularitas muncul. Syukur-syukur kalau kita memang baik, tapi kalau kita buruk, popularitas itu mematikan. Ini yang terjadi di dalam Anies. 

Siapa yang bilang Anies tidak populer? Orang ini sangat populer. Tapi populer dicap sebagai pemimpin yang mencla-mencle. Kebijakan-kebijakannya aneh, tidak bisa diukur dan diperhitungkan. Kata-katanya juga mengambang, tidak ada yang bisa dibanggakan dari pemimpin ini.

Kedua, orang populer karena kebijakannya yang populis. 

Ahok ini sosok yang dikenal dengan luar biasa. Ahok adalah sosok yang membangun Jakarta. Siapa yang menyangka Jakarta yang langganan banjir bisa dikurangi titik banjirnya dengan luar biasa banyak?

Mengapa bisa menjadikan banjir di Jakarta berkurang jauh? Jawabannya sebenarnya sederhana sekali. Dedikasi total dari Ahok. Kebijakan yang disusun dan dirangkum untuk dijalankan benar-benar efektif.


Salah satunya adalah permasalahan banjir dan macet. Makin berkurang titik banjir, makin populer Ahok. 

Kebijakannya yang memberikan represi kepada para preman juga disambut baik. Tanah Abang di era Ahok sempat manusiawi. Sekarang? Ah, coba tanya saja kepada gubernurmu.

Kedua hal ini membuka mata kita. Bahwa memang respons warga itu adalah respons yang paling jujur.

Respons warga terhadap Ahok dan Anies adalah hal yang paling jujur dan paling tidak bisa ditipu. Rakyat adalah indikator yang paling subjektif memperlihatkan mengenai kepuasan. Tingkat kepuasan rakyat terhadap Ahok dan Anies ini jauh bagai langit dari bumi.

Sekarang ini, kita melihat bagaimana Ahok yang ada di MRT begitu diperhatikan dan dielu-elukan. Datang ke MRT berdua bersama anaknya, Nicholas Sean; diajak selfie dan disorak-soraki seperti The Scorpion sedang manggung di The Great Britain. Sedangkan Anies? Di KRL dicueki, malah tidak dianggap.

Memang pemimpin bisa dilihat harga dirinya dari warga. Dari rakyat yang menilai. Biarkan rakyat yang menilai, sehingga kita tahu, ternyata Ahok jauh lebih baik dari Anies. Terima kasih, Ahok.

Apakah MRT-nya ada yang kurang? Kurang benar alias gak bener ya? Terima kasih, Pak Ahok. Anda sudah menjadi inspirasi bagi kami. Terima kasih, Ahok, untuk MRT dan Simpang Susun Semanggi-nya.

Artikel Terkait