Tercenung. Itulah yang saya alami belum lama ini saat menyatakan sikap bahwa orang baik selalu pantas jadi pemimpin terlepas apa pun agama mereka. Pasalnya itu justru berujung "fatwa" dari pengikut salah satu partai politik menyebut sah/halal darah saya ditumpahkan.

Itu lagi-lagi terjadi di ranah jejaring sosial, Facebook, yang notabene menjadi tempat saya menuangkan apa saja yang berkelebat di pikiran dan sedang tak memungkinkan untuk menuliskannya dalam artikel.

Itu menjadi salah satu bukti, pembawa bibit-bibit radikalisme dan anti-pluralisme sukses. Mereka telah mampu menanamkan keyakinan bahwa menghantam orang-orang yang tak sependapat dengan mereka, sebagai hal yang disukai Tuhan. 

Ada kesan yang mereka perlihatkan, bahwa selera Tuhan sangat terbatas dalam menakar baik-buruk atas suatu pemikiran dan sikap manusia. Juga seolah ingin memaksakan, tak boleh ada yang diragukan, dan semua yang telah tertulis di kitab suci harus diterima begitu saja.

Kesan-kesan itu tentu saja bukan berangkat dari "fatwa" yang jatuh kepada saya tadi. Tapi juga saat menyimak nyaris saban hari beberapa kader dari salah satu partai berciri khas jenggot panjang, menyasar akun media sosial saya, dan seolah ingin menitip pesan; "Cukup panjangkan jenggot saja, karena itu sunnah nabi, walaupun berakal pendek!"

Apakah cara saya menerjemahkan pesan mereka itu keliru atau tendensius? Mungkin saja. Tapi sepengamatan saya yang lagi-lagi nyaris saban hari dicecar fatwa dan dikte mereka, ada kesan bahwa jika Anda terlalu mendayagunakan akal, itu hanya akan membuat Anda sesat dan tergelincir dari "jalan Tuhan".

Di saat itulah, lamunan saya kerap muncul begitu saja, dan menerjemahkan lagi pesan mereka dalam bentuk pertanyaan, "Apakah jalan Tuhan memang terlalu sempit, hingga ketakutan pada salah jalan harus lebih besar dibandingkan takut kepada Tuhan itu sendiri?"

Pertanyaan itu muncul, karena mereka sangat sering berkoar-koar bahwa Tuhan itu Mahabesar, tapi jalan-Nya sangat sempit. Dia tidak membuat sebuah jalan yang cukup lebar, sehingga bagi orang-orang yang "terlalu" banyak berpikir akan gampang tersesat. Itulah kesan lain yang mereka munculkan--dan boleh saja jika dituding bahwa saya yang keliru menangkap atau menerjemahkan pesan mereka.

Hal-hal begitu kian mencuat menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) terutama di DKI Jakarta, yang notabene terdapat salah satu kontestan yang kebetulan berasal dari luar agama mayoritas, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Keberadaan Ahok itulah yang kerap dijadikan sasaran bidik mereka dengan berjuta-juta anak panah yang berisikan racun, "Dilarang memilih pemimpin kafir," hingga "Seorang muslim wajib memilih pemimpin muslim." Sedangkan saat mereka diajak berdiskusi melihat persoalan berdasarkan kebutuhan dari persoalan lain yang ada, mereka mengesankan sikap malas untuk berpikir lebih berpahala dibandingkan semua hal harus dicocokkan dengan logika.

Lagi-lagi, ayat suci pun dijadikan alasan, bahwa Anda tak perlu berpikir, karena semua sudah diatur kitab suci. Hingga membuat saya curiga, jika mereka membeli sebuah telepon seluler dari toko milik orang yang mereka sebut kafir, alih-alih membaca petunjuk terkait penggunaan seluler itu dari manual tersedia, mereka memilih lari ke kitab suci.

Ringkasnya, saya menemukan bahwa ada semacam keegoan sangat besar diperlihatkan masyarakat muslim di negara ini.

Kenapa bisa sangat besar? Ya, salah satu alasan sederhana karena memang jumlah pemeluk Islam terbesar dibandingkan pemeluk agama lain di sini. Logika mereka, yang berjumlah paling banyaklah yang paling pantas untuk didengarkan.

Mereka lupa, jika jumlah banyak itu justru lebih sering membuat mereka terkesan sebagai umat yang paling ribut, paling riuh, dan paling cerewet. Sementara dari sisi prestasi, pencapaian, dari teknologi dan ilmu pengetahuan, tanpa mereka sadari telah dipimpin oleh orang-orang yang mereka sebut sebagai kafir. 

Dalam ilmu pengetahuan dan teknologi sukses dipimpin kalangan "kafir" tadi, tapi nyaris tak terlalu mereka gugat karena kepolosan pemahaman bahwa "kepemimpinan" hanya urusan yang berhubungan dengan kekuasaan. 

Jadi tak masalah jika pengetahuan, kemampuan berpikir, dipimpin "orang kafir" sepanjang kursi kekuasaan ada di tangan mereka. Setidaknya itulah kesan yang ditonjolkan dari apa yang secara faktual dapat dilihat di tiap sudut negara ini.

Apakah mereka berpikir, kursi kekuasaan yang--katakanlah--mampu diraih karena mereka sebagai mayoritas, sudah berarti segalanya dan akan mengangkat kehidupan mereka? Sementara "kepemimpinan" dalam kaitan dengan pengetahuan dianggap tidak terlalu penting, dan tak perlu dikampanyekan lebih militan daripada saat mereka mengampanyekan bahwa hanya yang seagama paling pantas berkuasa.

Mau tak mau, saya harus menyimpulkan, militansi masyarakat pemeluk agama mayoritas ini lebih tinggi pada hal-hal yang berbau kekuasaan saja. Mereka bahkan rela mengafirkan yang seagama untuk kekuasaan, terlebih jika yang seagama itu justru membenarkan memilih yang berbeda agama untuk menjadi pemimpin.

Di sinilah saya menemukan ironi memilukan, saat jumlah pemeluk Islam membesar, pemeluknya justru merasa cukup sebagai manusia besar kepala.