Peneliti
2 tahun lalu · 231 view · 1 min baca · Puisi images_1_16.jpg
Foto inilah.com

Ahok, Buah Simalakama

Bakda demo empat Nopember (411) kini, di sini
membuncah seabrek kontroversi
menjadi viral di linimasa tak
terkendali
menjadi bola panas liar
ditendang ke sana ke mari.

Entah tidak jelas lagi apa yang dicari
menyisakan rob sampah dari sumpah serapah dan caci maki
membuat media daring bising berisik
akibat politik yang menggelitik
geli, ngeri.

Hanya tanda titik-titik panjang tak bertepi
hanya tanda tanya besar catatan kaki
tak ketemu titik temu
bertumpu sumbu pendek karena nafsu.

Bagai makan buah simalakama
dimakan ibu mati
tak dimakan bapak mati
itulah soal Ahok terkini
dari yang sehati
dari yang membenci
dan yang stres wasitnya, polisi
untuk mengeksekusi dari
tarik menarik antara dua sisi
sudah diperiksa berbagai saksi
dan hari Selasa 15/11 minggu ini
recananya gelar perkara nanti
publik tentu menanti
apa yang akan terjadi.

Apakah Ahok jadi tersangka
atau malah lamat-lamat proses
hukumnya ditunda-tunda?
Apakah hukum akan menjadi panglima
atau malah hanyut terbawa selera
tergiur harta, terlampau kuatnya intervensi tahta
atau terseret arus opini massa
karena aksi unjuk rasa
dan nafsu publik menyeret paksa Ahok ke penjara?

Akankah supremasi hukum dan bahkan negara ini dipertaruhkan karena liarnya lidah Ahok semata?
Bukankah negara ini bukan negara agama, Pancasila dan UUD 45 melindungi segenap pemeluk agama?

Gegara Ahok ditenggarai sang penoda agama
bahkan sang presiden pun jadi pusing kepala
betul-betul dia makan buah simalakama
tampak serba salah dan tegang sibuk mengundang ulama
sampai-sampai menyambangi alat negara dan semua angkatan bersenjata
memang mau perang sama siapa?

Bagaimanapun Ahok adalah
koleganya                      
tapi apakah dia tega membujuk Ahok    
menerima kesalahan dan dipenjara                                
terus Ahok keok terseok-seok
sebelum bertanding dari gelanggang pilkada?      
Lihat saja!



11:11 WIB. 11.11.2016

Artikel Terkait